China Tambah Cadangan Emas Hampir 15 Ton, Tekan Ketergantungan Dolar AS
Bank sentral China, People’s Bank of China (PBoC), kembali menunjukkan langkah strategis dengan menambah porsi emas dalam cadangan devisanya. Dalam transaksi terbaru, otoritas moneter Negeri Tirai B...
Bank sentral China, People’s Bank of China (PBoC), kembali menunjukkan langkah strategis dengan menambah porsi emas dalam cadangan devisanya. Dalam transaksi terbaru, otoritas moneter Negeri Tirai Bambu itu mengakuisisi sebanyak 480.000 ons troy atau setara dengan 14,93 ton emas murni. Langkah ini diinterpretasikan sebagai bagian dari upaya besar Beijing untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global.
Detail Akuisisi dan Konteks Strategis
Penambahan tersebut menambah total cadangan emas China yang telah bertumbuh secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun data pasti total kepemilikan terbaru belum dirilis, tren akumulasi emas oleh PBoC sudah terlihat sejak kuartal terakhir 2022. Langkah 480.000 ons troy ini menjadi salah satu pembelian bulanan terbesar yang pernah dicatat dalam sejarah bank sentral tersebut. Emas bukan sekadar aset safe haven tradisional, melainkan juga instrumen geopolitik yang mampu memberikan kemandirian moneter. Dengan kepemilikan emas yang lebih besar, China dapat mengurangi eksposur terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS, terutama obligasi pemerintah Amerika yang selama ini mendominasi cadangan devisa banyak negara.
Di satu sisi, penambahan cadangan emas ini mencerminkan kekhawatiran Beijing terhadap potensi penggunaan dolar sebagai senjata ekonomi oleh Washington. Sanksi keuangan terhadap Rusia pascainvasi Ukraina menjadi preseden yang membuat banyak negara, termasuk China, memikirkan ulang komposisi cadangan devisa mereka. Di sisi lain, langkah ini juga sejalan dengan ambisi internasionalisasi yuan. Dengan fondasi emas yang lebih kokoh, yuan diharapkan dapat diterima lebih luas sebagai mata uang cadangan alternatif, setidaknya di antara negara-negara yang masuk dalam inisiatif Belt and Road.
Pergerakan Harga Emas dan Sentimen Pasar
Pembelian emas oleh bank sentral dalam jumlah besar biasanya memberikan sinyal bullish bagi pasar komoditas logam mulia. Harga emas dunia yang sempat menyentuh level rekor di atas US$2.400 per ons troy pada awal 2024 mendapat dorongan tambahan dari aksi akumulasi oleh bank sentral global, termasuk China, India, dan Polandia. Menurut data World Gold Council, permintaan emas dari sektor perbankan sentral mencapai lebih dari 1.000 ton pada 2023, tertinggi dalam lebih dari satu dekade. China sebagai konsumen emas terbesar dunia turut memanaskan permintaan baik melalui jalur resmi bank sentral maupun melalui impor ritel yang tetap tinggi menjelang musim perayaan.
Namun, ada pula kekhawatiran bahwa kenaikan harga emas yang terlalu cepat dapat menciptakan gelembung aset. Analis dari sejumlah bank investasi global mengingatkan bahwa valuasi emas saat ini sudah melampaui fundamental tradisional berdasarkan suku bunga riil. Jika The Fed akhirnya menahan suku bunga lebih tinggi lebih lama, opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil akan meningkat. Meski demikian, bagi PBoC, pertimbangan strategis lebih mendominasi dibandingkan perhitungan imbal hasil jangka pendek. Diversifikasi dari dolar AS dinilai lebih krusial untuk keamanan ekonomi jangka panjang.
Dampak bagi Neraca Global dan Dominasi Dolar
Kebijakan akumulasi emas China tidak bisa dilihat secara terpisah dari tren de-dolarisasi global. Beberapa negara BRICS secara aktif mencari mekanisme pembayaran alternatif dan pembentukan mata uang bersama yang sebagian didukung oleh komoditas, termasuk emas. Meskipun porsi dolar dalam cadangan devisa global masih dominan di atas 58%, data IMF menunjukkan penurunan gradual dari sekitar 71% pada tahun 2000. Peran emas dalam cadangan devisa global justru meningkat dari hanya sekitar 10% menjadi di atas 17% dalam dua dekade terakhir, mencerminkan pergeseran preferensi bank sentral.
China, dengan kepemilikan emas resmi yang diperkirakan masih di bawah 5% dari total cadangan devisanya, sebenarnya memiliki ruang besar untuk melanjutkan akumulasi. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memegang lebih dari 70% cadangan devisanya dalam bentuk emas. Namun, jika Beijing terlalu agresif membeli emas, hal itu dapat memicu gejolak di pasar obligasi AS, mengingat China masih merupakan salah satu kreditor asing terbesar bagi pemerintah Amerika. Setiap pengurangan kepemilikan obligasi AS oleh China untuk dialihkan ke emas akan mendorong kenaikan imbal hasil Treasury, yang pada gilirannya dapat mempersulit pembiayaan fiskal AS.
Bagi Indonesia, langkah bank sentral China ini menjadi pengingat akan pentingnya komposisi cadangan devisa yang seimbang. Bank Indonesia sendiri secara berkala membeli emas, namun dengan porsi yang masih kecil. Tren global menuju diversifikasi aset dan penguatan peran emas patut dicermati dalam kerangka stabilitas moneter nasional, terutama di tengah ketidakpastian suku bunga global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Dengan demikian, langkah PBoC menambah hampir 15 ton emas bukan sekadar transaksi keuangan biasa, melainkan sinyal geopolitik yang kuat. Ke depan, dinamika ini akan terus mempengaruhi aliran modal, nilai tukar, dan arsitektur keuangan global.
Baca juga:
Comments (0)