Smelter Freeport Gresik Siap Kembali Beroperasi, Pasokan Konsentrat Papua Pulih

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2025, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 8,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, sementara Bank Indone...

Aug 09, 2026 - 15:25
0 0
Smelter Freeport Gresik Siap Kembali Beroperasi, Pasokan Konsentrat Papua Pulih

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2025, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 8,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, sementara Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa sebesar 150,2 miliar dolar AS per akhir September 2025. Di tengah fundamental makro tersebut, industri pemurnian mineral nasional mendapat kabar penting. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan smelter katoda tembaga di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur, bersiap kembali beroperasi setelah pasokan konsentrat dari tambang perusahaan di Papua kembali masuk ke fasilitas tersebut.

Sebagai gambaran bagi pembaca awam, konsentrat tembaga merupakan produk antara hasil pengolahan bijih yang masih harus dimurnikan menjadi katoda tembaga berkemurnian 99,99 persen sebelum dapat digunakan industri kabel, elektronik, hingga kendaraan listrik. Smelter Manyar yang menelan investasi sekitar 3,7 miliar dolar AS atau setara Rp 58 triliun dirancang mengolah 1,7 juta ton konsentrat per tahun menjadi kurang lebih 600 ribu ton katoda tembaga, menjadikannya salah satu smelter tembaga dengan desain jalur tunggal terbesar di dunia.

Pemulihan Operasional Setelah Setahun Terhenti

Fasilitas yang diresmikan pada 2024 itu mengalami penghentian sementara menyusul insiden kebakaran pada Oktober 2024, hanya berselang beberapa bulan setelah uji coba produksi perdana. Kondisi tersebut memaksa perusahaan menyesuaikan rencana produksi serta mengajukan relaksasi ekspor konsentrat agar tambang di Papua tetap dapat beroperasi dan menjaga likuiditas keuangan perusahaan.

Kini, dengan mengalirnya kembali konsentrat dari Papua, tahapan commissioning atau uji fungsi perangkat pabrik dapat dilanjutkan menuju produksi komersial. Manajemen menargetkan ramp-up, yakni peningkatan kapasitas secara bertahap, hingga mencapai kapasitas penuh, dengan proyeksi produksi katoda yang diperkirakan mengalami kenaikan signifikan pada 2026 dibandingkan tahun ini.

Di Satu Sisi: Katalis Hilirisasi dan Devisa

Di satu sisi, beroperasinya kembali smelter Manyar memperkuat agenda hilirisasi mineral, yakni kebijakan mengolah bahan mentah di dalam negeri agar nilai tambah tidak lagi dinikmati negara lain. Pemerintah sebelumnya memperkirakan hilirisasi tembaga dapat menambah nilai ekonomi hingga Rp 80 triliun per tahun melalui produk turunan seperti katoda, asam sulfat, hingga pemurnian lumpur anoda yang mengandung emas dan perak.

Dari sisi neraca perdagangan, ekspor produk bernilai tambah tinggi berpotensi memperbaiki terms of trade, yakni perbandingan harga ekspor terhadap impor, sekaligus menopang pasokan valuta asing. Sentimen pasar terhadap saham-saham terkait rantai pasok tembaga juga cenderung membaik, tercermin dari tren penguatan indeks sektor energi dan bahan baku di Bursa Efek Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.

"Kami memastikan seluruh tahapan perbaikan berjalan sesuai standar keselamatan, dan masuknya kembali konsentrat menjadi tonggak penting menuju produksi penuh," demikian pernyataan yang disampaikan manajemen Freeport Indonesia.

Di Sisi Lain: Risiko Operasional dan Struktural

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa insiden 2024 menunjukkan kerentanan operasional proyek raksasa semacam ini. Biaya perbaikan dan kehilangan produksi selama setahun diperkirakan menekan margin perseroan, sementara biaya pengolahan atau treatment charge di pasar global sedang berada pada tren penurunan yang menekan keuntungan smelter secara year-on-year.

Risiko lain datang dari sisi makro. Apabila bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, potensi capital outflow atau keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang dapat menekan nilai tukar rupiah dan menaikkan biaya pendanaan proyek berdenominasi dolar. Valuasi proyek hilirisasi pun sangat bergantung pada harga tembaga global yang bergerak di kisaran 9.000 hingga 10.000 dolar AS per ton sepanjang tahun ini.

Proyeksi: Antara Optimisme dan Kehati-hatian

Ke depan, fundamental permintaan tembaga dunia masih ditopang transisi energi, mengingat satu unit kendaraan listrik membutuhkan tembaga hingga empat kali lipat dibandingkan kendaraan konvensional. Rasio permintaan terhadap pasokan global diproyeksikan semakin ketat pada dekade ini, sehingga posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan tembaga terbesar kelima dunia menjadi aset strategis.

Namun, keberhasilan akhirnya akan ditentukan oleh konsistensi operasional, keandalan pasokan dari Papua, serta disiplin keselamatan kerja. Bagi pelaku pasar, diversifikasi portofolio tetap menjadi prinsip penting di tengah volatilitas komoditas. Beroperasinya kembali smelter Manyar adalah langkah maju bagi hilirisasi nasional, tetapi ujian sesungguhnya baru dimulai ketika pabrik berlari pada kapasitas penuh secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User