Sinergi Bank Mandiri-Paramount Pacu Pembiayaan Properti Berkelanjutan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, sektor real estate mencatat pertumbuhan sekitar 2,5 persen year-on-year, masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang menc...

Aug 12, 2026 - 02:39
0 0
Sinergi Bank Mandiri-Paramount Pacu Pembiayaan Properti Berkelanjutan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, sektor real estate mencatat pertumbuhan sekitar 2,5 persen year-on-year, masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 4,95 persen. Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kredit properti perbankan mengalami kenaikan di kisaran 8 hingga 10 persen secara tahunan, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL, yakni kredit yang macet atau menunggak) yang relatif terjaga di bawah 3 persen. Di tengah kondisi tersebut, kolaborasi antara perbankan dan pengembang menjadi salah satu motor penggerak fundamental sektor ini.

Dalam konteks itulah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjalin kerja sama strategis dengan Paramount Enterprise melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) mengenai layanan perbankan terintegrasi. Kemitraan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan kawasan properti berkelanjutan, mencakup penyediaan solusi pembiayaan, layanan transaksi digital, hingga fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) bagi konsumen di kawasan yang dikembangkan Paramount.

Analisis: Mengapa Sinergi Ini Strategis

Bank Mandiri merupakan bank dengan aset terbesar di Indonesia, menembus lebih dari Rp2.100 triliun per akhir 2024. Dengan fundamental permodalan yang solid — rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR, yaitu perbandingan modal terhadap aset berisiko) di atas 19 persen — bank pelat merah ini memiliki ruang likuiditas yang memadai untuk menggarap pembiayaan properti skala kawasan. Adapun Paramount Enterprise dikenal sebagai pengembang kawasan terpadu Gading Serpong di Tangerang, Banten, dengan portofolio land bank yang luas dan rekam jejak pembangunan lebih dari satu dekade.

Layanan perbankan terintegrasi sendiri merujuk pada satu pintu layanan keuangan: mulai dari pembiayaan konstruksi bagi pengembang, KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) bagi pembeli, hingga ekosistem pembayaran digital bagi penghuni kawasan. Model ini berpotensi menekan biaya transaksi, mempercepat proses akad kredit, sekaligus membuka sumber pendapatan non-bunga (fee-based income) bagi bank dari layanan pengelolaan dana dan transaksi.

Dua Sisi: Peluang dan Risiko

Di satu sisi, kolaborasi ini menangkap momentum permintaan properti segmen menengah yang masih solid. Data Bank Indonesia menunjukkan indeks harga properti residensial mengalami kenaikan moderat, sementara penjualan rumah tapak di kawasan penyangga Jakarta tetap tumbuh. Suku bunga acuan BI yang berada di level 6,00 persen — dengan proyeksi pelonggaran bertahap pada 2025 — turut memperbaiki daya beli melalui potensi penurunan bunga KPR. Bagi perbankan, segmen KPR menawarkan aset berkualitas dengan jaminan riil dan risiko yang relatif rendah dibandingkan kredit konsumsi tanpa agunan.

Di sisi lain, sektor properti tetap menyimpan risiko siklikal. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, tren kenaikan harga bahan bangunan, serta potensi capital outflow (keluarnya dana asing) jika ketidakpastian global meningkat dapat menekan permintaan. Konsentrasi pembiayaan pada satu kawasan tertentu juga menimbulkan risiko konsentrasi kredit yang perlu dikelola secara prudent. Selain itu, valuasi properti yang naik terlalu cepat berpotensi menciptakan kesenjangan antara harga pasar dan kemampuan bayar konsumen.

"Kemitraan bank dan pengembang akan efektif jika diikuti disiplin underwriting, yakni proses penilaian kelayakan kredit yang ketat, serta produk pembiayaan yang sesuai profil risiko konsumen, bukan sekadar mengejar volume kredit," ujar seorang pengamat perbankan dari lembaga riset ekonomi di Jakarta.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Ke depan, sentimen pasar terhadap saham perbankan dan properti akan banyak dipengaruhi arah suku bunga serta kebijakan insentif pemerintah, termasuk skema pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk rumah tapak. Jika tren pelonggaran moneter terkonfirmasi pada 2025, sejumlah analis memproyeksikan kredit properti dapat tumbuh dua digit, menopang pendapatan bunga maupun fee-based income bank dari layanan terintegrasi. Tren urbanisasi dan kebutuhan hunian di kawasan satelit Jakarta juga menjadi katalis struktural jangka panjang.

Bagi investor, kemitraan semacam ini layak dicermati sebagai sinyal ekspansi bisnis kedua belah pihak. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan fundamental masing-masing emiten, valuasi saham, serta profil risiko individu. Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi dalam bentuk apa pun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User