Aug 26, 2026
Nasional

Sidang AHWA Muktamar NU Digelar di Ndhalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah

JOMBANG — Kompleks bersejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas kembali menjadi pusat perhatian. Ndhalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah, bangunan tua

Sidang AHWA Muktamar NU Digelar di Ndhalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah

JOMBANG — Kompleks bersejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas kembali menjadi pusat perhatian. Ndhalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah, bangunan tua yang menyimpan kenangan kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), resmi disiapkan sebagai lokasi sidang Ahlul Halli Wal Aqli (AHWA) dalam rangkaian Muktamar Ke-35. Keputusan ini menjadikan lokasi tersebut disorot jutaan warga nahdliyin di seluruh Indonesia.

Sidang AHWA merupakan forum paling sakral dalam mekanisme muktamar NU. Melalui sidang inilah para tokoh kiaisratan memutuskan persoalan-persoalan strategis organisasi, termasuk menetapkan keputusan besar yang menyangkut arah gerakan umat. Penunjukan Ndhalem Kasepuhan sebagai venue tidak sekadar soal tempat, melainkan sarat muatan historis dan spiritual.

Makna Sakral Ndhalem Kasepuhan

Ndhalem Kasepuhan adalah kediaman sekaligus majelis taklim KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU bersama KH Hasyim Asy'ari. Bangunan bernuansa kayu jati klasik ini telah lama dikenal sebagai titik tolak lahirnya gagasan-gagasan besar persyarikahan.

Sejarah mencatat KH Wahab Chasbullah sebagai sosok yang gigih menggagas berdirinya NU pada 31 Oktober 1926, bertepatan dengan 16 Rabiul Awal 1344 Hijriah. Dari ruang-ruang sederhana di kompleks Tambakberas itu, semangat memperkuat ahlussunnah wal jama'ah kemudian menyebar ke berbagai penjuru tanah air hingga menjadikan NU organisasi Islam terbesar di Indonesia.

"Ndhalem Kasepuhan bukan hanya bangunan tua. Ia adalah saksi bisu lahirnya NU sekaligus simbol keberlangsungan khittah para pendiri," ujar seorang pengelola kompleks pesantren.

Bagi warga nahdliyin, kehadiran di Ndhalem Kasepuhan terasa seperti ziarah rohani. Dinding-dinding usang dan lantai kayu yang berderit menyimpan jejak langkah para ulama pendiri, sehingga suasana di dalamnya terasa hening, khidmat, dan penuh kekhusyukan.

Kronologi Penetapan Lokasi Sidang

Pemilihan Ndhalem Kasepuhan sebagai lokasi sidang AHWA tidak terjadi begitu saja. Prosesnya melalui sejumlah tahapan yang melibatkan berbagai elemen kepengurusan NU:

  1. Panitia penyelenggara Muktamar Ke-35 melakukan survei terhadap sejumlah calon lokasi di kawasan Jombang dan sekitarnya.
  2. Pertimbangan utama diarahkan pada nilai historis, kapasitas ruangan, serta kenyamanan peserta sidang AHWA.
  3. Kajian mendalam dilakukan bersama pengurus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas selaku pemilik kawasan.
  4. Ndhalem Kasepuhan ditetapkan sebagai lokasi sidang karena dinilai paling representatif secara historis dan spiritual.
  5. Tahap akhir berupa persiapan teknis, mulai dari tata letak ruang, pengamanan, hingga penataan protokol kiaisratan.

Persiapan dan Pengaturan Kawasan

Meskipun luas bangunan Ndhalem Kasepuhan tergolong terbatas dibandingkan gedung konvensi modern, panitia menilai ruangan tersebut memadai untuk menampung peserta sidang inti. Struktur sidang AHWA memang dirancang lebih intim karena hanya melibatkan anggota Ahlul Halli Wal Aqli dan undangan terbatas.

Sejumlah penyesuaian teknis dilakukan tanpa mengubah ciri khas asli bangunan. Penataan kursi mengikuti tradisi majelis kiai dengan lantai beralaskan sajadah dan karpet. Sistem tata suara serta sirkulasi udara juga dipasang secara hati-hati agar elemen bersejarah tetap terjaga.

Pihak keamanan setempat bekerja sama dengan panitia menyusun skenario pengamanan berlapis. Akses masuk kawasan pesantren dibatasi, sementara para santri dilibatkan menjaga ketertiban. Penerapan protokol ini dimaksudkan menjaga kesakralan sidang sekaligus kenyamanan seluruh peserta.

Dukungan Warga Sekitar

Kabar penetapan lokasi tersebut disambut antusias warga Tambakberas dan Jombang pada umumnya. Sebagian warga bahkan bersiap menyambut kedatangan kiai-kiai dari berbagai daerah dengan cara khas masyarakat Jawa Timur, yakni tradisi ngarap atau menyambut tamu kehormatan ke rumah masing-masing.

Bagi masyarakat sekitar, kehadiran sidang AHWA di Ndhalem Kasepuhan merupakan kebanggaan tersendiri. Mereka menilai keputusan itu sekaligus menjadi bentuk penghargaan atas peran pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa.

Harapan bagi Persyarikahan

Pengamat perkembangan NU menilai pelaksanaan sidang AHWA di tempat kelahiran persyarikahan dapat memberikan energi spiritual baru bagi seluruh jamaah. Suasana historis diyakini membuat para peserta lebih reflektif dalam mengambil keputusan-keputusan strategis.

Selain itu, momentum ini diharapkan menghidupkan kembali semangat khittah NU, yakni kembali pada nilai-nilai luhur para pendiri yang menekankan moderasi, keilmuan, dan pengabdian kepada umat. Ndhalem Kasepuhan dipandang sebagai tempat paling tepat untuk meresapi nilai-nilai tersebut.

Hingga pelaksanaan sidang, panitia terus melakukan pembenahan akhir. Seluruh unsur pengurus, santri, dan masyarakat dikawinkan dalam satu koordinasi agar Muktamar Ke-35 berjalan sukses dan meninggalkan catatan bersejarah baru bagi kemajuan persyarikahan.

[SOCIAL_TWEET]: Sidang AHWA Muktamar Ke-35 NU resmi digelar di Ndhalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang — tempat lahirnya NU pada 1926. #MuktamarNU #NU #Jombang [SOCIAL_TG]: 🔴 Sidang AHWA Muktamar Ke-35 NU digelar di Ndhalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah, Jombang. Lihat kronologi penetapan lokasi dan makna historisnya hanya di Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User