Sepuluh Pilar CT Way Menuju Kesuksesan yang Terukur

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat 4,82 persen atau sekitar 7,2 juta orang dari total angkatan kerja 149,4 juta jiwa....

Oct 10, 2026 - 18:20
0 0
Sepuluh Pilar CT Way Menuju Kesuksesan yang Terukur

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat 4,82 persen atau sekitar 7,2 juta orang dari total angkatan kerja 149,4 juta jiwa. Angka ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,45 persen. Namun, di balik perbaikan indikator makro tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah peluang sukses—baik dalam karier maupun usaha—benar-benar terbuka merata bagi semua orang? Sebuah kerangka berpikir yang dikenal sebagai "CT Way" menawarkan sepuluh pilar untuk menjawab tantangan itu, meski para ekonom mengingatkan bahwa resep kesuksesan personal tidak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi yang lebih luas.

Kesuksesan sebagai Hak, Bukan Jaminan

Gagasan bahwa keberhasilan adalah hak setiap orang mengandung dua sisi yang perlu dibaca kritis. Di satu sisi, negara memang menjamin kebebasan berusaha melalui konstitusi dan berbagai regulasi, mulai dari UU Cipta Kerja hingga program Kartu Prakerja yang telah menyerap anggaran sekitar Rp20 triliun sejak 2020 untuk melatih lebih dari 17 juta peserta. Di sisi lain, data menunjukkan mobilitas sosial ekonomi di Indonesia masih terbatas. Rasio Gini per Maret 2024 berada di level 0,379, sementara World Bank mencatat hanya sekitar 20 persen penduduk yang mampu naik ke kelas menengah dalam satu generasi.

Sepuluh pilar yang dipopulerkan lewat CT Way—yang menekankan hal-hal seperti disiplin, integritas, kerja sama tim, inovasi, dan ketekunan—pada dasarnya merupakan modal manusia (human capital) yang bersifat mikro. Pendekatan ini sejalan dengan temuan sejumlah studi yang menyatakan bahwa keterampilan non-kognitif, seperti ketahanan mental dan kemampuan berjejaring, menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen terhadap keberhasilan karier seseorang. Namun, modal manusia tanpa akses terhadap modal finansial, jaringan, dan infrastruktur akan sulit berbuah.

Pro dan Kontra Sepuluh Pilar Kesuksesan

Pro: kerangka sepuluh pilar memberi panduan praktis yang bisa dijalankan siapa saja, tanpa memandang latar belakang. Nilai-nilai seperti etos kerja, kejujuran, dan kemampuan beradaptasi terbukti relevan lintas sektor. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023 menunjukkan literasi keuangan masyarakat baru mencapai 65,43 persen, sehingga edukasi semacam ini berpotensi memperbaiki pengelolaan keuangan pribadi dan mendorong tumbuhnya usaha mikro. Dengan 64 juta UMKM yang menyumbang sekitar 61 persen PDB, peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi krusial.

Kontra: pendekatan yang terlalu menekankan usaha individual berisiko mengabaikan faktor struktural. Tingkat kemiskinan per September 2023 masih 9,36 persen, dan kesenjangan antarwilayah tetap lebar—PDB per kapita DKI Jakarta jauh melampaui Nusa Tenggara Timur. Tanpa intervensi kebijakan, sepuluh pilar tadi bisa menjadi narasi yang hanya cocok bagi mereka yang sudah memiliki modal awal, dan bukan bagi kelompok rentan. Sejumlah pengamat ekonomi menyebut fenomena ini sebagai "kesuksesan selektif", di mana yang kaya semakin mudah bertumbuh, sementara yang miskin bertahan di bawah garis.

Membaca Tren dan Fundamental Ekonomi

Dari perspektif makro, fundamental ekonomi Indonesia masih menopang optimisme. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 sebesar 5,05 persen year-on-year, dengan inflasi terkendali di kisaran 2,61 persen. Cadangan devisa per awal 2024 mencapai 136,7 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai sekitar 6,3 bulan impor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat menembus level 7.300 pada Maret 2024, mencerminkan sentimen pasar yang positif meski diwarnai volatilitas akibat capital outflow dari pasar negara berkembang.

Namun, tantangan tetap ada. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan baru sekitar 54 persen, jauh di bawah laki-laki yang mendekati 84 persen—sebuah potensi ekonomi yang belum tergarap optimal. Ketimpangan akses terhadap pendidikan tinggi juga menjadi pekerjaan rumah, dengan angka partisipasi kasar perguruan tinggi yang stagnan di kisaran 31 persen. Artinya, jika sepuluh pilar kesuksesan ingin berdampak luas, ia harus disertai pemerataan akses terhadap pendidikan, pembiayaan, dan pasar.

Kesimpulannya, sepuluh pilar CT Way menawarkan peta jalan yang berguna pada level individu, tetapi kesuksesan sebagai hak semua orang menuntut kerja kolektif: kebijakan yang inklusif, ekosistem usaha yang sehat, dan distribusi peluang yang lebih adil. Tanpa itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada 2024 hanya akan menjadi angka di atas kertas, bukan kenyataan yang dirasakan sebagian besar rakyat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User