Sepuluh Maskapai Umrah Pindah ke Terminal 2F Soetta

Jakarta – Lanskap operasional penerbangan umrah di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami perombakan signifikan. Sepuluh maskapai yang selama ini menjadi tulang punggung perjalanan ibadah um...

Jakarta – Lanskap operasional penerbangan umrah di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami perombakan signifikan. Sepuluh maskapai yang selama ini menjadi tulang punggung perjalanan ibadah umrah resmi dipindahkan ke Terminal 2F, menandai babak baru dalam pelayanan jemaah tanah air. Keputusan ini bukan sekadar rotasi ruang, namun bagian dari strategi besar peningkatan kenyamanan dan efisiensi keberangkatan umrah yang terus mencatat volume tinggi setiap tahunnya.

Perpindahan ini efektif mulai 1 Agustus 2025 dan telah dikoordinasikan secara matang antara PT Angkasa Pura II, otoritas bandara, serta maskapai terkait. Terminal 2F yang sebelumnya dikenal sebagai rumah bagi sebagian maskapai penerbangan domestik berbiaya rendah, kini disulap menjadi pusat layanan umrah terpadu. Langkah ini diyakini bakal memangkas kebingungan penumpang, mempercepat proses check-in, dan memberikan pengalaman yang lebih terarah bagi jemaah yang mayoritas adalah lansia.

Daftar Maskapai yang Terdampak

Meskipun manajemen bandara tidak menyebut seluruh nama secara rinci dalam satu pemberitahuan, informasi yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa sepuluh maskapai tersebut mencakup kombinasi maskapai nasional dan asing. Beberapa di antaranya adalah Garuda Indonesia, Saudi Arabian Airlines (Saudia), Lion Air (khusus penerbangan umrah), Batik Air, Citilink rute Jeddah dan Madinah, serta maskapai lain yang memiliki izin penyelenggaraan umrah. Untuk penerbangan reguler di luar umrah, maskapai-maskapai ini tetap beroperasi dari terminal asalnya masing-masing, sehingga pemisahan ini diharapkan mampu menghilangkan antrean silang yang kerap terjadi di terminal sebelumnya.

Pantauan di hari pertama perpindahan menunjukkan adanya petugas khusus yang berjaga di titik strategis untuk mengarahkan jemaah. Papan informasi digital dan konvensional juga telah diperbarui agar penumpang tidak salah terminal. “Kami ingin memastikan jemaah umrah tidak lagi bercampur dengan penumpang reguler yang tujuannya berbeda. Risiko keterlambatan akibat salah terminal bisa ditekan,” ujar salah satu pejabat operasional bandara.

Alasan Strategis di Balik Relokasi

Di satu sisi, keputusan ini diambil karena kapasitas terminal sebelumnya yang semakin terdesak. Terminal 2E dan 2D yang selama ini melayani penerbangan internasional termasuk umrah kerap mengalami kepadatan pada musim puncak seperti Ramadan dan menjelang musim haji. Data Angkasa Pura II menyebutkan bahwa volume penumpang umrah setiap bulan bisa mencapai 200.000 hingga 250.000 orang, dan angka ini melonjak hingga 30 persen pada periode Desember–Januari. Dengan penambahan gate dan check-in counter di Terminal 2F yang didesain lebih luas, waktu antre diproyeksikan turun minimal 20 menit per penumpang.

Di sisi lain, konsolidasi di Terminal 2F membuka peluang penerapan teknologi pemeriksaan dokumen yang lebih seragam. Seluruh maskapai umrah akan menggunakan sistem auto-gate yang terintegrasi dengan data keimigrasian Arab Saudi, memungkinkan verifikasi visa dan paspor berlangsung lebih cepat. Ini penting mengingat Arab Saudi terus memperketat regulasi masuk, termasuk sistem visa elektronik (e-visa) umrah yang mewajibkan data biometrik penumpang tervalidasi sebelum keberangkatan. Kini semua dapat dilakukan dalam satu kawasan terpadu di 2F.

Dampak pada Jemaah dan Biro Perjalanan

Pro: Jemaah umrah, khususnya yang berusia lanjut, akan merasakan pengalaman yang lebih ramah. Lorong terminal yang lebih pendek dari area drop-off ke ruang tunggu, tempat duduk yang ditambah dua kali lipat, serta zona khusus istirahat dengan pengawasan petugas kesehatan akan sangat membantu. Biro perjalanan umrah pun menyambut baik karena distribusi bagasi kini terpusat, meminimalkan insiden bagasi tertukar antar-maskapai.

Kontra: Namun, pemindahan ini bukan tanpa tantangan. Terminal 2F sebelumnya tidak dilengkapi dengan fasilitas bebas bea selengkap terminal internasional lain. Jemaah yang ingin berbelanja cendera mata sebelum terbang harus bergeser ke Terminal 2D yang memakan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki. Selain itu, akses transportasi darat menuju Terminal 2F perlu diperbanyak karena selama ini lebih banyak kendaraan umum mengarah ke Terminal 2E. Angkasa Pura II berjanji akan menambah armada bus penghubung gratis setiap lima menit untuk mengatasi kesenjangan ini.

Para pengelola biro perjalanan juga mengingatkan perlunya sosialisasi masif. “Banyak jemaah kita yang sudah hafal bertahun-tahun berangkat dari Terminal 2E. Kalau tidak ada pemberitahuan langsung dari maskapai dan travel, bisa terjadi kekacauan di hari-H,” kata seorang perwakilan asosiasi travel umrah. Maskapai pun telah mengirimkan pesan teks dan surel kepada semua pemesan tiket untuk memastikan transisi berjalan mulus.

Proyeksi ke Depan

Dengan dijadikannya Terminal 2F sebagai terminal khusus umrah, bandara tersibuk di Indonesia ini diyakini bisa menangani setidaknya 4 juta jemaah umrah per tahun ke depannya, naik dari rata-rata 2,8 juta di tahun sebelumnya. Investasi renovasi yang disebut mencapai Rp450 miliar itu mencakup perluasan ruang tunggu, penambahan garbarata, dan peningkatan sistem pendingin udara yang selama ini dikeluhkan jemaah. Jika uji coba Agustus berhasil, bukan tidak mungkin seluruh penerbangan umrah dari Jakarta akan terkonsentrasi di sini, menjadikan Terminal 2F sebagai “Pintu Suci” baru Indonesia menuju Tanah Suci.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User