SEOUL — Industri pertahanan Korea Selatan kembali mencatatkan rekor ekspansi agresif di kawasan Eropa. Perusahaan manufaktur alutsista terkemuka, Hanwha Aerospace Co., secara resmi mengonfirmasi penandatanganan kontrak pengadaan sistem persenjataan bernilai 640 miliar won (setara Rp7,4 triliun) dengan pemerintah Kroasia. Penjualan ini mencakup pengiriman 18 unit peluncur roket artileri berkaliber ganda K239 Chunmoo beserta amunisi kendali presisi dan infrastruktur pendukungnya.
Langkah strategis Kroasia dalam mengadopsi platform artileri modern asal Negeri Ginseng ini menegaskan pergeseran peta pengadaan pertahanan di negara-negara anggota NATO. Terdesak oleh eskalasi ketegangan keamanan di kawasan Eropa pasca-invasi Rusia ke Ukraina, Zagreb memilih armada artileri Korea Selatan yang dinilai menawarkan kombinasi antara teknologi mutakhir, fleksibilitas operasional, dan kepastian jadwal pengiriman yang jauh lebih cepat dibanding produsen tradisional Eropa atau Amerika Serikat.
Kronologi Penetrasi Industri Pertahanan Korea di Eropa
Keberhasilan kesepakatan dengan Kroasia tidak terjadi dalam ruang hampa. Berdasarkan penelusuran tim riset Beritadua.com, ini merupakan bagian dari gelombang diplomasi pertahanan "K-Defense" yang secara konsisten membidik pasar Eropa Tengah dan Timur sejak dua tahun terakhir:
- Tahun 2022: Polandia menandatangani kontrak raksasa untuk mengadopsi ratusan tank K2 Black Panther, howitzer K9 Thunder, dan peluncur roket Homar-K (versi modifikasi dari K239 Chunmoo).
- Tahun 2023: Rumania menyetujui paket pembelian howitzer K9 dan kendaraan tempur infanteri Redback untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya.
- September 2024: Kroasia meresmikan paket pengadaan 18 unit K239 Chunmoo senilai 640 miliar won guna menggantikan sistem persenjataan era Soviet yang sudah usang.
Komparasi Teknis: Chunmoo versus HIMARS
Dalam lanskap persenjataan global, K239 Chunmoo kerap dibanding-bandingkan dengan sistem M142 HIMARS buatan Amerika Serikat. Namun, para analis militer menilai Chunmoo memiliki keunggulan daya gempur dan kapasitas muat yang signifikan.
| Fitur Utama | K239 Chunmoo (Korea Selatan) | M142 HIMARS (Amerika Serikat) |
|---|---|---|
| Jumlah Pod Amunisi | 2 Pod (Ganda) | 1 Pod (Tunggal) |
| Kapasitas Roket 239mm | 12 Roket | 6 Roket |
| Jangkauan Maksimum | 80 km - 290 km (Tergantung amunisi) | 70 km - 300 km |
| Fleksibilitas Amunisi | Multi-kaliber (130mm, 227mm, 239mm, CTM290) | 227mm GMLRS & ATACMS |
Analisis Geopolitik dan Efisiensi Rantai Pasok
Investigasi mendalam menunjukkan bahwa keunggulan utama Hanwha Aerospace dibanding pesaing Barat bukan sekadar spesifikasi teknis di atas kertas, melainkan kapasitas produksi massal yang efisien dan waktu tunggu pengiriman (lead time) yang relatif singkat.
"Negara-negara NATO di Eropa membutuhkan alutsista yang siap tempur dalam waktu singkat, bukan lima atau sepuluh tahun lagi. Industri pertahanan Amerika Serikat saat ini kewalahan memenuhi permintaan akibat penumpukan pesanan. Korea Selatan berhasil mengisi celah kritis ini dengan menawarkan sistem persenjataan berstandar NATO dengan waktu pengiriman yang jauh lebih realistis," ujar Dr. Kim Byung-gyu, analis pertahanan senior dari Institute for Defense Analyses di Seoul.
Pengadaan 18 unit Chunmoo oleh Kroasia dipastikan mencakup penyediaan rudal berpemandu presisi kaliber 239mm serta rudal taktis jarak jauh CTM290 yang sanggup melumpuhkan sasaran strategis hingga jarak 290 kilometer. Bagi Kroasia, alutsista baru ini menjadi penangkal strategis utama dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Balkan.
Implikasi Terhadap Ambisi Pertahanan Seoul
Dengan kesepakatan senilai 640 miliar won ini, Hanwha Aerospace kian memperkokoh jalan Korea Selatan menuju ambisi besarnya: menjadi eksportir senjata terbesar keempat di dunia pada tahun 2027. Keberhasilan menembus pasar Kroasia memperluas jejak diplomasi militer Seoul di Eropa, membuktikan bahwa doktrin interoperabilitas alutsista Korea Selatan telah diterima penuh oleh standar NATO.
Ke depan, keberhasilan pengadaan ini diperkirakan akan memicu efek domino bagi negara-negara anggota NATO lainnya di Eropa Tengah untuk meninjau kembali strategi modernisasi artileri berat mereka demi mengantisipasi dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.
Comments (0)