Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2026, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sekitar 8,4 persen secara year-on-year, membalikkan tren pelemahan yang sempat membayangi bursa domestik pada awal kuartal kedua. Momentum positif ini sejalan dengan hasil survei bulanan Bank of America (BofA) terhadap para manajer dana global, yang menunjukkan pergeseran peta investasi di kawasan: India, yang selama bertahun-tahun menjadi pasar favorit, kini dinobatkan sebagai pasar saham yang paling tidak disukai di Asia, sementara Indonesia mulai menarik minat investor asing.
Dalam survei yang melibatkan ratusan pengelola dana di kawasan Asia-Pasifik tersebut, proporsi responden yang mengambil posisi di bawah bobot pasar (underweight) terhadap saham India tercatat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, porsi manajer dana yang bersikap netral hingga cenderung menambah alokasi (overweight) pada aset Indonesia mengalami kenaikan, seiring membaiknya persepsi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Sentimen Berbalik: Dari Favorit Menjadi yang Paling Dihindari
Pergeseran sentimen pasar terhadap India tidak terjadi secara tiba-tiba. Sepanjang 2024 hingga awal 2026, bursa India menjadi tujuan utama aliran dana portofolio asing di Asia, dengan valuasi yang terus melambung. Namun, setelah indeks acuan India sempat menembus rekor pada tahun 2025, para investor mulai khawatir terhadap rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio) yang dinilai terlalu mahal dibandingkan rata-rata historisnya. Untuk pembaca awam, valuasi adalah penilaian kewajaran harga saham berdasarkan laba perusahaan; semakin tinggi rasionya, semakin mahal harga yang harus dibayar investor untuk setiap unit laba yang dihasilkan.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh proyeksi pertumbuhan laba emiten India yang mulai melambat, ditambah kebijakan suku bunga yang masih ketat. Akibatnya, sebagian manajer dana memilih mengurangi eksposur dan mengalihkan portofolio ke pasar lain yang dianggap lebih murah. Kondisi ini menandai pembalikan arah dari dua tahun sebelumnya, ketika India justru menjadi tujuan utama capital inflow di kawasan Asia.
Di Sisi Lain: Indonesia Mulai Dilirik
Di tengah berkurangnya minat terhadap India, Indonesia justru muncul sebagai salah satu pasar yang mulai dilirik. Kinerja IHSG yang positif sepanjang tahun berjalan didukung oleh fundamental ekonomi yang relatif stabil, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang memadai. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa per akhir Juni 2026 tetap berada di atas 140 miliar dolar AS, sehingga memberikan bantalan bagi likuiditas dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Stabilitas makro tersebut membuat persepsi risiko investor terhadap Indonesia membaik. Dalam survei BofA, responden menilai Indonesia sebagai salah satu pasar dengan prospek perbaikan paling signifikan, didorong oleh kombinasi valuasi yang masih wajar dan momentum pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Bagi investor global yang mencari diversifikasi di tengah ketidakpastian, pasar dengan fundamental solid kerap menjadi alternatif pelarian dana ketika bursa utama kawasan sedang dalam fase koreksi.
Pro dan Kontra: Dua Sisi yang Perlu Dicermati
Kendati angin segar mulai bertiup, analisis dua sisi tetap diperlukan agar pembaca tidak terjebak pada satu narasi. Di satu sisi, alasan optimisme terhadap Indonesia cukup kuat: pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang berada dalam sasaran Bank Indonesia, serta perbaikan kinerja IHSG memberikan dasar bagi berlanjutnya aliran dana asing. Rasio utang luar negeri yang terjaga juga membuat pasar obligasi domestik tetap menarik, yang pada gilirannya menopang sentimen pasar secara keseluruhan.
Di sisi lain, sejumlah risiko tetap mengintai. Pertama, ketergantungan pada dana portofolio membuat IHSG rentan terhadap gejolak eksternal; ketika sentimen global memburuk, dana asing dapat keluar dengan cepat dan memicu capital outflow yang menekan rupiah dan indeks secara bersamaan. Kedua, meskipun valuasi Indonesia dianggap wajar, daya tarik relatifnya dapat berkurang apabila ekspektasi penurunan suku bunga global tertunda. Ketiga, likuiditas pasar domestik yang lebih dangkal dibandingkan bursa regional besar seperti India dan China membuat pergerakan indeks cenderung lebih fluktuatif.
Proyeksi dan Risiko ke Depan
Ke depan, arah pergerakan kedua pasar akan sangat ditentukan oleh kebijakan bank sentral global. Apabila Federal Reserve memulai siklus pelonggaran moneter, arus modal cenderung kembali mengalir ke pasar berkembang, dan Indonesia berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat utama. Sebaliknya, jika suku bunga global tetap tinggi lebih lama, preferensi investor dapat kembali berubah sewaktu-waktu.
Para analis menilai posisi Indonesia saat ini lebih baik dibandingkan periode-periode sebelumnya, berkat perbaikan fundamental dan kebijakan fiskal yang lebih disiplin. Namun demikian, investor tetap disarankan mencermati perkembangan data inflasi, nilai tukar, dan arus dana asing secara berkala, karena sentimen pasar dapat berubah cepat. Pada akhirnya, pergeseran minat dari India menuju Indonesia menunjukkan bahwa peta investasi Asia tidak pernah statis — pasar yang paling tidak disukai hari ini bisa menjadi yang paling dicari pada periode berikutnya.
Comments (0)