Suara riuh di dalam aula utama mendadak hening ketika seorang pemuda melangkah mantap menuju panggung utama. Tidak ada lantunan nada tinggi atau irama khas qari yang membahana melalui pengeras suara. Namun, suasana spiritual mendadak merayap kuat ketika jemari dan gestur tubuhnya mulai bergerak lincah, mentranslasikan setiap bait firman Tuhan ke dalam gerakan yang sarat makna. Pemandangan penuh haru ini mewarnai perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 yang berlangsung di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Sebanyak 28 penyandang tunarungu dari berbagai provinsi di Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam ajang keagamaan bergengsi ini. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas simbolis, melainkan sebuah pencapaian krusial dalam sejarah literasi keagamaan inklusif di tanah air. Di tengah keterbatasan aksesibilitas yang selama berdekade-dekade mengisolasi komunitas tuli dari pendidikan Al-Qur'an formal, partisipasi ini menjadi bukti nyata pergeseran paradigma pembinaan keagamaan di Indonesia.
Terobosan Metode Tilawah Isyarat dan Metodologi Penilaian
Penampilan para peserta difabel rungu ini mengandalkan standar baru yang dikembangkan melalui Mushaf Al-Qur'an Isyarat. Berbeda dengan ajang tilawah konvensional yang menitikberatkan pada ketepatan makhraj vokal dan kelancaran tajwid lisan, kompetisi bagi penyandang tunarungu ini menggunakan penilaian berbasis akurasi gestur visual, ekspresi pemaknaan (ma'ani), serta ketepatan ritme bahasa isyarat.
Para dewan hakim yang dilibatkan tidak hanya terdiri dari ahli ilmu Al-Qur'an, tetapi juga didampingi oleh pakar linguistik Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Mereka melakukan evaluasi mendalam terhadap ketepatan pembentukan huruf hijaiyah isyarat serta penjiwaan peserta saat menyampaikan pesan dari ayat-ayat pilihan.
Siti Rahmawati (22), salah satu peserta asal Jawa Barat yang tampil memukau, mengungkapkan perasaannya melalui seorang juru bahasa isyarat setelah menyelesaikan penampilannya di hadapan ratusan pasang mata yang terpukau.
"Kami memang tidak bisa mendengar indahnya lantunan suara qari, tetapi kami bisa merasakan getaran spiritual yang sangat dalam saat jemari kami membentuk ayat-ayat-Nya. Ini adalah cara kami menyapa Sang Pencipta," ungkap Siti dengan ekspresi wajah penuh keharuan.
Analisis Perbandingan: Skema Kompetisi MTQ Konvensional vs. Tilawah Isyarat
Untuk memahami kompleksitas dan keunikan ajang ini, berikut adalah pemetaan komparatif antara kategori tilawah standar dengan kategori tilawah isyarat bagi penyandang tunarungu:
| Indikator Evaluasi | MTQ Kategori Konvensional | MTQ Kategori Tunarungu (Isyarat) |
|---|---|---|
| Medium Utama | Suara, artikulasi vokal, dan intonasi (lagu) | Gerakan tangan (Bisindo/Mushaf Isyarat) dan ekspresi wajah |
| Fokus Tajwid | Makhraj huruf lisan, sifat huruf, dan hukum bacaan vokal | Morfologi isyarat hijaiyah dan keakuratan simbolik tajwid visual |
| Instrumen Pendukung | Microphone dan sistem tata suara audio | Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan pencahayaan panggung optimal |
| Jumlah Peserta 2026 | Ratusan peserta dari 38 provinsi | 28 peserta pilihan dari berbagai daerah |
Urgensi Inklusivitas dan Tantangan Literasi Keagamaan Pasca-MTQ
Meski kehadiran 28 peserta tunarungu di Semarang ini patut diapresiasi sebagai langkah maju, sejumlah pengamat menyoroti masih besarnya jurang pemenuhan hak-hak keagamaan bagi kelompok disabilitas di daerah. Peneliti kebijakan publik dan inklusi sosial menggarisbawahi bahwa ajang seperti MTQ Nasional seharusnya tidak berhenti pada perayaan seremonial semata, melainkan menjadi momentum untuk mendorong perbaikan regulasi dan penyediaan fasilitas belajar yang merata.
"Kehadiran cabang tunarungu di ajang tingkat nasional ini menandai pergeseran paradigma yang sangat positif. Agama harus dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Ini bukan lagi soal belas kasihan (charity), melainkan pemenuhan hak konstitusional dan hak asasi manusia," tegas Dr. Aris Setiawan, pengamat kebijakan pendidikan inklusif dari Universitas Negeri Semarang.
Tantangan terbesar yang masih dihadapi di lapangan adalah minimnya jumlah pengajar Al-Qur'an yang menguasai bahasa isyarat serta terbatasnya distribusi Mushaf Al-Qur'an Isyarat hingga ke pelosok daerah. Banyak komunitas tuli di tingkat daerah masih harus berjuang secara mandiri untuk mendapatkan akses pendidikan agama yang layak.
Perhelatan MTQ Nasional XXXI di Semarang ini diharapkan mampu membuka mata publik dan pemerintah daerah. Keberhasilan 28 pejuang sunyi ini di atas panggung menunjukkan bahwa batas fisik bukanlah penghalang untuk menyerap dan menyebarkan nilai-nilai suci Al-Qur'an di Nusantara.
Comments (0)