Harga saham SpaceX yang mencatatkan debut gemilang di bursa belum lama ini kini berada dalam tekanan jual yang signifikan. Euforia yang sempat menyelimuti investor ritel dan institusi berganti menjadi kecemasan setelah harga terus merosot dan menembus level psikologis di bawah harga penawaran perdana (IPO).
Berdasarkan data perdagangan per 12 Juni 2024, saham dengan kode SPX ditutup pada level USD 42,12, atau terkoreksi 28,3 persen dari harga IPO sebesar USD 58,50. Penurunan ini menghapus kapitalisasi pasar hingga lebih dari USD 48 miliar hanya dalam dua pekan, menjadikannya salah satu reversal paling tajam dalam sejarah pencatatan saham teknologi.
Rekor IPO yang Mengguncang Pasar
Penawaran saham perdana SpaceX pada 1 Juni 2024 langsung memecahkan rekor sebagai IPO terbesar di sektor antariksa dan salah satu yang terbesar di bursa global tahun ini. Perseroan melepas 250 juta lembar saham dengan harga penawaran akhir di batas atas rentang indikasi awal, mencerminkan permintaan yang membeludak. Dari data bookbuilding, kelebihan permintaan mencapai 12,2 kali lipat dari total saham yang dialokasikan, dengan nilai total pesanan melebihi USD 175 miliar.
Kapitalisasi pasar saat pencatatan sempat menyentuh USD 186 miliar, melampaui perusahaan pertahanan dan antariksa mapan. Para analis merujuk pada fundamental bisnis yang kuat: kontrak peluncuran pemerintah dan swasta senilai USD 12,4 miliar, pertumbuhan pendapatan dari layanan Starlink yang melonjak 67 persen year-on-year menjadi USD 4,2 miliar pada kuartal terakhir, serta proyeksi laba bersih positif pertamanya di tahun fiskal berjalan.
Koreksi Tajam dan Sentimen Pasar yang Berubah Cepat
Namun, pasca pencatatan, lanskap sentimen berbalik drastis. Saham yang sempat menyentuh level tertinggi USD 64,80 di hari pertama, kini konsisten berada di bawah harga IPO. Tekanan jual berasal dari kombinasi aksi ambil untung oleh investor institusi yang mendapat alokasi jumbo serta rotasi portofolio investor asing yang mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut. Data perdagangan menunjukkan capital outflow bersih dari saham SPX oleh investor non-residen mencapai USD 8,7 miliar dalam sepuluh hari terakhir.
Di satu sisi, penurunan ini dianggap sebagai koreksi wajar mengingat valuasi awal yang dinilai terlampau tinggi. Rasio harga terhadap penjualan (price-to-sales) saat IPO berada di level 12,8 kali, jauh di atas median industri antariksa dan pertahanan yang hanya 3,4 kali. Dengan ketidakpastian ekonomi makro yang meningkat, premi yang diminta investor untuk saham pertumbuhan tinggi seperti SpaceX ikut mengecil.
Di sisi lain, fundamental jangka panjang perusahaan sebenarnya belum berubah. Kontrak peluncuran tahun jamak dan pertumbuhan basis pelanggan Starlink tetap solid. Beberapa analis menilai koreksi ini justru membuka peluang bagi investor yang percaya pada narasi besar eksplorasi antariksa, karena setelah penurunan, rasionya kini terpangkas menjadi 9,2 kali, mendekati rerata valuasi perusahaan teknologi yang sudah matang.
Prospek Jangka Panjang versus Risiko Likuiditas
Dalam jangka menengah, proyeksi arus kas operasional SpaceX memang menjanjikan. Perseroan menargetkan pendapatan USD 18 miliar pada 2025, dengan kontribusi Starlink mencapai 55 persen. Namun, risiko ekspansi besar-besaran yang membutuhkan belanja modal USD 7–8 miliar per tahun tetap membayangi. Jika terjadi pengetatan likuiditas global, kemampuan perseroan untuk mendanai pertumbuhan tanpa kembali menekan neraca akan diuji.
Dari sisi teknikal, pergerakan saham menunjukkan level support kuat di sekitar USD 40,00, yang bila tertembus berpotensi membawa harga ke rentang USD 34–36. Di level tersebut, valuasi akan semakin menarik, namun katalis positif jangka pendek diperlukan agar arus dana masuk kembali. Investor pun mencermati laporan keuangan kuartal mendatang yang akan menjadi penentu ekspektasi.
Sentimen terhadap saham-saham IPO ”unicorn” lain juga berpotensi terdampak. Pelaku pasar khawatir koreksi SpaceX akan menular ke emiten teknologi lain yang baru saja melantai atau bersiap IPO, terutama yang memiliki metrik profitabilitas serupa. Meski begitu, setiap koreksi di saham dengan fundamental kuat kerap direspons sebagai peluang bagi investor dengan horizon panjang—sebuah dualitas yang selalu mewarnai dinamika bursa.
Comments (0)