Saham BACH Anjlok 38% dalam Tiga Hari, Asing Lepas Saham

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per perdagangan pekan ini, saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten yang berada di bawah naungan Grup Djarum, mengalami tekanan jual yang sangat deras....

Aug 07, 2026 - 06:28
0 0
Saham BACH Anjlok 38% dalam Tiga Hari, Asing Lepas Saham

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per perdagangan pekan ini, saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten yang berada di bawah naungan Grup Djarum, mengalami tekanan jual yang sangat deras. Harga saham BACH tercatat terhenti di batas auto reject bawah (ARB) selama tiga hari beruntun, sebuah fenomena yang jarang terjadi dan menandakan adanya aksi jual masif. Secara kumulatif, nilai saham emiten ini telah ambles hingga 37,9% dari level tertingginya dalam sebulan terakhir, atau tepatnya dari puncak harga Rp 1.200 per saham menjadi Rp 745 per saham pada penutupan perdagangan hari ini.

Tekanan Jual Asing dan Fundamental Perusahaan

Data perdagangan menunjukkan bahwa penjualan asing (foreign sell) mendominasi transaksi saham BACH selama tiga sesi beruntun. Berdasarkan data BEI, volume transaksi asing mencapai 15,2 juta lembar saham dengan nilai jual bersih (net sell) mencapai Rp 4,8 miliar. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan rata-rata volume transaksi harian BACH dalam sebulan terakhir yang hanya berkisar 3,1 juta lembar saham. Lonjakan volume transaksi ini mengindikasikan adanya aksi lepas saham secara terstruktur oleh investor asing, yang mungkin didorong oleh realokasi portofolio ke instrumen lain yang dianggap lebih likuid.

Di satu sisi, tekanan jual ini dapat dipandang sebagai koreksi wajar setelah harga saham BACH mengalami penguatan yang cukup tajam. Sebelum periode penurunan ini, saham BACH sempat mencatatkan kenaikan hingga 28% year-to-date (YtD) pada awal kuartal kedua. Valuasi yang dianggap terlalu tinggi (overbought) oleh sebagian pelaku pasar menjadi pemicu aksi ambil untung (profit taking). Di sisi lain, jika melihat fundamental perusahaan, rasio price-to-earnings (PER) BACH saat ini berada di level 18,5 kali, yang masih berada di atas rata-rata industri manufaktur plastik yang berkisar 12-14 kali. Hal ini membuat saham BACH kurang menarik bagi investor yang berorientasi pada nilai (value investor).

"Penurunan beruntun hingga menyentuh ARB ini lebih disebabkan oleh faktor teknis dan sentimen pasar, bukan penurunan kinerja fundamental. Namun, investor perlu mewaspadai potensi capital outflow yang masih berlanjut jika tidak ada katalis positif baru," ujar analis pasar modal dari salah satu sekuritas nasional, yang enggan disebut namanya.

Likuiditas dan Dampak pada Portofolio Investor

Fenomena ARB tiga hari beruntun ini juga berdampak pada likuiditas perdagangan saham BACH. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham ini turun drastis dari Rp 3,7 miliar menjadi hanya Rp 1,2 miliar dalam tiga hari terakhir. Penurunan likuiditas ini membuat investor ritel maupun institusi kesulitan untuk keluar dari posisi mereka tanpa menyebabkan penurunan harga lebih lanjut. Bagi investor yang memegang saham ini dalam portofolio, kerugian kertas (paper loss) yang dialami cukup signifikan, terutama bagi mereka yang membeli di harga puncak.

Pro: Bagi investor dengan horizon jangka panjang, penurunan ini bisa menjadi peluang untuk akumulasi saham dengan harga lebih murah, mengingat bisnis inti BACH yang bergerak di bidang manufaktur kemasan fleksibel masih memiliki prospek pertumbuhan seiring meningkatnya permintaan industri makanan dan minuman. Kontra: Namun, jika tekanan jual asing berlanjut dan tidak ada aksi korporasi yang mampu memulihkan sentimen, maka saham BACH berpotensi mengalami penurunan lebih dalam. Sejarah menunjukkan bahwa saham yang tersangkut ARB beruntun seringkali membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih ke level sebelum koreksi.

Proyeksi dan Strategi Menghadapi Volatilitas

Berdasarkan data historis BEI, saham yang mengalami ARB tiga hari berturut-turut memiliki probabilitas 60% untuk melanjutkan penurunan pada hari keempat, namun dengan magnitude yang lebih kecil, biasanya hanya 3-5%. Namun, jika melihat indikator teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) BACH sudah berada di zona oversold di level 28, yang menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin sudah mendekati titik jenuh. Para pelaku pasar kini menanti pengumuman laporan keuangan kuartal kedua yang dijadwalkan rilis akhir bulan ini, yang akan menjadi katalis penentu arah harga saham BACH selanjutnya.

Di sisi lain, investor institusi domestik mulai menunjukkan minat beli pada level harga saat ini, tercatat dari data transaksi yang menunjukkan adanya akumulasi saham oleh investor lokal sebesar 2,1 juta lembar pada sesi penutupan hari ini. Namun, sentimen pasar secara keseluruhan masih dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga The Fed yang memicu capital outflow dari pasar saham emerging market. Dengan kondisi ini, proyeksi jangka pendek untuk saham BACH masih volatil, dan investor disarankan untuk mencermati pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) serta arus dana asing sebagai indikator utama sebelum mengambil keputusan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User