Sep 13, 2026
Hukum

Sabalenka Hancurkan Raket dan Maki Juru Kamera Usai Kalah di US Open

Ketegangan memuncak di arena Flushing Meadows usai partai puncak tunggal putri turnamen Grand Slam US Open. Petenis asal Belarusia, Aryna Sabalenka, tertan

Sabalenka Hancurkan Raket dan Maki Juru Kamera Usai Kalah di US Open

Ketegangan memuncak di arena Flushing Meadows usai partai puncak tunggal putri turnamen Grand Slam US Open. Petenis asal Belarusia, Aryna Sabalenka, tertangkap kamera meluapkan rasa frustrasi yang luar biasa setelah gagal merebut gelar juara usai ditaklukkan petenis Kazakhstan, Elena Rybakina, dalam duel sengit tiga set.

Kekalahan ini sekaligus mengubur ambisi Sabalenka untuk mempertahankan dominasinya di New York dan memaksanya turun ke peringkat dua dunia. Namun, sorotan investigatif pascapertandingan beralih pada insiden di pinggir lapangan ketika petenis berusia 26 tahun tersebut kehilangan kendali emosi di depan jutaan pasang mata penonton global.

Kronologi Ledakan Emosi di Flushing Meadows

Berdasarkan rekaman siaran langsung turnamen, insiden kemarahan Sabalenka terjadi dalam hitungan menit segera setelah wasit mengesahkan kemenangan Rybakina. Berikut rangkaian peristiwa yang terekam di lapangan:

  1. Poin Terakhir dan Jabat Tangan: Setelah pengembalian bolanya gagal melewati net pada match point ketiga, Sabalenka mendatangi net untuk melakukan jabat tangan formalitas singkat dengan Rybakina dan wasit kursi dengan gestur kaku.
  2. Penghancuran Raket di Bangku Pemain: Begitu tiba di area bangku istirahat, Sabalenka langsung melampiaskan amarahnya dengan menghantamkan raket merek Wilson miliknya ke lantai berulang kali hingga patah dan tak berbentuk.
  3. Konfrontasi Terhadap Juru Kamera: Saat salah satu operator kamera mendekat untuk merekam reaksi emosional sang mantan nomor satu dunia tersebut, Sabalenka melontarkan umpatan kasar “fuck off” secara langsung ke arah lensa kamera yang tengah mengudara.

Tekanan Fisik dan Beban Psikologis di Balik Insiden

Penyelidikan performa sepanjang partai final mengindikasikan bahwa Sabalenka bermain di bawah tekanan psikologis yang sangat berat. Selain menghadapi pukulan servis keras Rybakina yang konsisten, petenis Belarusia itu diketahui tengah berjuang melawan ketidaknyamanan fisik yang sempat membatasi pergerakannya di set penentu.

Kekalahan di final ini terasa sangat menyakitkan bagi Sabalenka, mengingat statusnya sebagai salah satu kandidat terkuat pengoleksi gelar Grand Slam musim ini. Tekanan media internasional serta sorotan kamera jarak dekat dinilai memicu eskalasi reaksi amarah yang tidak terkendali di area terbuka lapangan tenis.

Pengakuan dan Pidato Emosional di Podium

Saat berdiri di podium kehormatan untuk menerima trofi runner-up, Sabalenka secara terbuka mengakui betapa beratnya situasi yang ia hadapi sesaat setelah kekalahan tersebut. Dalam pidatonya, ia berusaha mengendalikan emosi sembari memberikan selamat kepada lawannya.

“Hal terakhir yang ingin saya lakukan saat ini adalah memberikan pidato, tetapi saya akan mencoba yang terbaik. Sangat sulit menemukan kata-kata saat ini, terutama setelah berjuang mengatasi cedera. Elena, Anda adalah juara yang luar biasa. Selamat untuk Anda dan tim atas semua pencapaian ini,” ujar Sabalenka.

Insiden ini menambah daftar panjang polemik perilaku atlet papan atas di bawah tekanan kompetisi tingkat tinggi, sekaligus memicu perdebatan mengenai batas privasi emosional petenis dari sorotan lensa kamera pascapertandingan berintensitas tinggi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User