Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.905, Pasar Cermati Arah Suku Bunga AS

Berdasarkan data perdagangan pasar spot pagi ini, rupiah dibuka mengalami penguatan tipis ke level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat, naik sekitar 0,14 persen atau 25 poin dari penutupan sebelumnya d...

Aug 07, 2026 - 11:03
0 0
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.905, Pasar Cermati Arah Suku Bunga AS

Berdasarkan data perdagangan pasar spot pagi ini, rupiah dibuka mengalami penguatan tipis ke level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat, naik sekitar 0,14 persen atau 25 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.930. Penguatan di akhir pekan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY), yakni ukuran kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, yang meluncur ke kisaran 104,2 dari level 104,6 sehari sebelumnya.

Tekanan Global Mulai Mereda

Pelemahan dolar AS terutama dipicu rilis data inflasi konsumsi pribadi (PCE) Amerika yang melambat ke 2,7 persen year-on-year, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 2,8 persen. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, berpeluang menurunkan suku bunga acuan pada semester kedua tahun ini. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga turun ke 4,28 persen, dari 4,35 persen pada pekan lalu.

Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, penurunan yield obligasi AS biasanya mengurangi tekanan capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari pasar domestik. Ketika imbal hasil di AS menurun, daya tarik aset berdenominasi rupiah relatif meningkat, sehingga likuiditas valuta asing di pasar domestik berpotensi membaik.

Faktor Domestik Ikut Menopang

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi relatif terjaga. Inflasi Indonesia tercatat di kisaran 2,6 persen year-on-year, masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Suku bunga acuan BI Rate yang bertahan di 6,25 persen menjaga selisih imbal hasil dengan suku bunga AS tetap menarik bagi investor portofolio.

Cadangan devisa yang berada di sekitar US$150 miliar juga memberikan bantalan bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur di pasar spot, pasar berjangka, maupun pembelian surat berharga negara di pasar sekunder. Neraca perdagangan yang mencatat surplus lebih dari 40 bulan beruntun turut menambah pasokan dolar dari sisi ekspor.

Dua Sisi: Optimisme dan Kewaspadaan

Di satu sisi, penguatan pagi ini mencerminkan membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko. Tren pelemahan dolar AS, jika berlanjut, dapat membuka ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih jauh dari level psikologis Rp18.000 yang sempat ditembus beberapa waktu lalu. Valuasi rupiah saat ini juga dinilai sebagian analis sudah berada di zona undervalued, alias lebih murah dari nilai wajarnya.

Di sisi lain, penguatan sebesar 0,14 persen tergolong tipis dan belum mengubah tren pelemahan rupiah yang secara year-to-date masih berada di kisaran 3 persen. Risiko global belum sepenuhnya hilang: ketegangan geopolitik, potensi perang dagang, serta kebijakan tarif AS dapat memicu pembalikan arus modal secara cepat. Defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan melebar ke 1,2 persen dari produk domestik bruto juga membuat rupiah tetap sensitif terhadap perubahan sentimen.

Seorang pengamat pasar uang di Jakarta menilai pergerakan pagi ini lebih bersifat teknikal. Menurutnya, selama dolar AS belum memasuki tren penurunan yang konsisten, penguatan rupiah cenderung terbatas dan rapuh terhadap berita negatif dari sisi eksternal.

Proyeksi Pergerakan ke Depan

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Dalam jangka menengah, sejumlah lembaga riset memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.700 sampai Rp18.100 hingga akhir kuartal, bergantung pada arah kebijakan suku bunga The Fed dan konsistensi Bank Indonesia menjaga stabilitas.

Bagi pelaku usaha, pergerakan nilai tukar yang masih fluktuatif menuntut kehati-hatian dalam mengelola risiko kurs, terutama bagi importir dan perusahaan dengan utang berdenominasi dolar. Sementara bagi investor, dua sisi pergerakan rupiah ini menegaskan pentingnya membaca data makro secara utuh, bukan hanya mengandalkan sentimen harian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User