Rupiah Menguat Akhir Pekan, Peluang Kembali ke Rp17.000?

Nilai tukar rupiah menunjukkan performa menggembirakan pada sesi perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data transaksi pasar spot, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.250–Rp17.300 per dolar ...

Rupiah Menguat Akhir Pekan, Peluang Kembali ke Rp17.000?

Nilai tukar rupiah menunjukkan performa menggembirakan pada sesi perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data transaksi pasar spot, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.250–Rp17.300 per dolar AS, menguat sekitar 0,4% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen risk-on di pasar Asia dan ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas eksternal.

Sejumlah pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah tren positif ini dapat membawa rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS, yang terakhir terlihat pada awal tahun lalu. Untuk menjawabnya, perlu ditelaah faktor-faktor fundamental yang mendukung dan tekanan eksternal yang masih mengintai.

Katalis Penguatan: Surplus Dagang dan Aliran Modal Masuk

Di satu sisi, penguatan rupiah didorong oleh perbaikan neraca perdagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026 mencatat surplus neraca dagang Indonesia sebesar USD3,2 miliar, melanjutkan tren surplus selama 47 bulan berturut-turut. Surplus ini terutama ditopang oleh ekspor komoditas olahan mineral dan batu bara yang masih menikmati harga relatif tinggi, meskipun melandai dibanding puncak 2022. Impor barang modal yang belum menunjukkan lonjakan signifikan juga turut menjaga keseimbangan perdagangan.

Selain itu, arus modal asing mulai menunjukkan perbaikan. Data Kementerian Keuangan mengindikasikan bahwa pada bulan April terjadi net inflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8,5 triliun, berbalik dari outflow yang sempat terjadi di kuartal I 2026. Investor global tampaknya mulai melakukan realokasi portofolio ke aset negara berkembang seiring meredanya ketidakpastian suku bunga The Fed. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang masih di atas 6,8% memberikan daya tarik carry trade yang cukup tinggi.

“Fundamental eksternal Indonesia saat ini relatif solid. Cadangan devisa per akhir Maret 2026 berada di posisi USD138 miliar, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor. Ini memberikan buffer yang kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, dalam wawancara pekan ini.

Bayang-bayang Global: Divergensi Kebijakan dan Risiko Outflow

Di sisi lain, laju rupiah menuju Rp17.000 tidak sepenuhnya mulus. Risiko global tetap membayangi, terutama dari potensi divergensi kebijakan moneter. Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan Fed Funds Rate di level 5,25%–5,50% setidaknya hingga kuartal III 2026, sesuai dengan pernyataan terbaru Chairman Jerome Powell yang menekankan bahwa inflasi inti masih enggan turun ke target 2%. Sementara itu, European Central Bank dan beberapa bank sentral Asia mulai melonggarkan kebijakan, sehingga indeks dolar berpotensi tetap kuat.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina yang belum usai juga membuat investor acap kali beralih ke aset safe haven seperti dolar dan emas. Setiap eskalasi baru berpotensi memicu capital outflow dari pasar Indonesia. Valuasi rupiah yang menurut model Real Effective Exchange Rate (REER) saat ini sudah tidak terlalu undervalued juga membatasi ruang apresiasi lebih lanjut. Bank Indonesia (BI) sendiri diprediksi akan mempertahankan BI Rate di 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur bulan depan, langkah yang bisa meredam pelemahan namun kurang mampu mendorong penguatan agresif.

“Rupiah memang berpeluang kembali menguji Rp17.000 jika data tenaga kerja AS pekan depan mengecewakan dan surplus dagang kita tetap kuat. Tapi secara teknikal, level resistance di Rp17.180 cukup tebal. Saya melihatnya sebagai target yang realistis namun tidak akan terjadi secara linear,” kata analis pasar uang dari PT Berkat Makmur Sekuritas, Imanuel Kevin, dalam catatannya kepada nasabah.

Proyeksi dan Target Jangka Pendek

Secara statistik, rupiah telah bergerak dalam kanal tren menurun (apresiasi) sejak awal April 2026. Moving average 50 hari sudah memotong moving average 200 hari dari atas—sinyal golden cross yang biasanya mengindikasikan momentum penguatan dalam beberapa pekan ke depan. Namun demikian, volatilitas masih cukup tinggi, tercermin dari indeks volatilitas rupiah satu bulan yang berkisar di 8,5%.

Proyeksi konsensus analis yang dihimpun oleh Beritadua dari 15 lembaga keuangan menunjukkan perkiraan nilai tukar akhir tahun di rentang Rp17.150–Rp17.400. Dengan demikian, kisaran Rp17.000 berada di sisi apresiatif dari proyeksi, bergantung pada sejumlah asumsi: (1) The Fed mulai memangkas suku bunga pada September, (2) harga komoditas tetap stabil, dan (3) arus modal asing ke SBN terus berlanjut. Skenario terburuk, jika eskalasi perang dagang global kembali memanas, rupiah bisa terdepresiasi kembali ke Rp17.600.

Pergerakan rupiah dalam beberapa sesi mendatang sangat bergantung pada data ekonomi AS yang akan dirilis, terutama Non-Farm Payrolls dan inflasi konsumen. Sentimen domestik juga akan dipengaruhi oleh hasil lelang SBN pada Selasa depan, yang menjadi cermin minat investor asing. Secara keseluruhan, peluang rupiah menyentuh Rp17.000 masih terbuka, namun belum menjadi skenario dasar bagi sebagian besar pelaku pasar. Kehati-hatian tetap diperlukan, mengingat posisi Indonesia yang rentan terhadap perubahan sentimen global secara tiba-tiba.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User