Rupiah Menanjak ke Rp18.076, Ekspektasi Damai Timur Tengah Meredam Dolar

Berdasarkan data transaksi pasar spot valuta asing per Jumat (24/5), nilai tukar rupiah ditutup menguat 74 poin atau 0,41 persen ke level Rp18.076 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini melanjutkan...

Rupiah Menanjak ke Rp18.076, Ekspektasi Damai Timur Tengah Meredam Dolar

Berdasarkan data transaksi pasar spot valuta asing per Jumat (24/5), nilai tukar rupiah ditutup menguat 74 poin atau 0,41 persen ke level Rp18.076 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini melanjutkan reli tipis sejak awal pekan, setelah sebelumnya sempat tertekan di kisaran Rp18.200-an sepanjang bulan Mei. Penguatan rupiah terjadi seiring indeks dolar AS yang melemah 0,28 persen ke posisi 104,85, menyusul pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang mengisyaratkan jeda kenaikan suku bunga.

Panglima Pasar: Geopolitik versus Suku Bunga

Meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama pergerakan rupiah hari ini. Investor global merespons positif laporan bahwa sejumlah jalur distribusi energi di kawasan Teluk mulai beroperasi normal, sehingga premi risiko yang selama ini membebani aset negara berkembang perlahan terkelupas. Dari data Bank Indonesia, terjadi capital inflow bersih sebesar Rp2,3 triliun di pasar obligasi domestik dalam dua hari terakhir, memotong tren keluarnya dana asing yang sempat mencatat defisit Rp9,1 triliun sepanjang kuartal pertama 2024. Di satu sisi, ini menandakan kepercayaan investor bahwa neraca eksternal Indonesia relatif aman terhadap guncangan harga minyak. Di sisi lain, analis memperingatkan bahwa aliran masuk tersebut masih bersifat taktis dan belum mencerminkan perbaikan struktural.

Fundamental Domestik: Rentan atau Tangguh?

Pandangan pertama menekankan bahwa fundamental Indonesia sesungguhnya cukup solid. Cadangan devisa akhir April tercatat 146,7 miliar dolar AS, naik dibandingkan posisi Maret yang sebesar 145,5 miliar dolar AS, dan cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor – di atas standar internasional. Surplus neraca perdagangan Maret senilai 2,41 miliar dolar AS juga masih menjadi bantalan, meskipun menyusut secara year-on-year dari 2,87 miliar dolar AS. Dari sisi moneter, suku bunga acuan BI-Rate yang ditahan di 6,25 persen memberikan imbal hasil riil yang kompetitif bagi portofolio asing, terutama jika inflasi inti terus melandai ke sekitar 1,62 persen year-on-year. Dengan logika ini, penguatan rupiah bisa berlanjut menuju target Rp17.800 per dolar AS dalam dua sampai tiga bulan ke depan.

Kubu seberang mengingatkan bahwa fondasi tersebut tidak steril dari risiko. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar ke kisaran 1,2–1,5 persen dari PDB pada triwulan ini, terdorong oleh pembayaran dividen dan bunga yang musiman besar serta permintaan impor manufaktur yang meningkat pasca Lebaran. Selain itu, selisih suku bunga riil Indonesia dengan Amerika Serikat kian menyempit setelah data inflasi AS April tetap di 3,4 persen year-on-year, membuat peluang The Fed menurunkan suku bunga pada September menjadi hanya 45 persen berdasarkan perangkat FedWatch. Bagi investor yang sensitif terhadap risiko, selisih imbal hasil tipis itu belum cukup menarik untuk membalikkan arah portofolio global mereka kembali ke pasar Indonesia. Valuasi rupiah saat ini, yang berdasarkan indeks nilai tukar riil efektif masih 4,7 persen di atas rata-rata lima tahunannya, juga memberi ruang pelemahan apabila sentimen eksternal berbalik.

Proyeksi dan Sentimen Pasar Minggu Depan

Mayoritas pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi domestik awal bulan depan serta risalah rapat FOMC yang dapat menegaskan kembali stance hawkish The Fed. Likuiditas di pasar Sekunder valas domestik memang sempat membaik, dengan volume transaksi harian naik dari 780 juta dolar AS menjadi sekitar 910 juta dolar AS dalam dua sesi terakhir, tetapi premi credit default swap (CDS) lima tahun Indonesia yang masih bertahan di 73,8 basis poin menunjukkan persepsi risiko belum sepenuhnya surut. Proyeksi konsensus analis di Beritadua menempatkan rupiah dalam rentang Rp17.950–Rp18.200 per dolar AS untuk pekan depan, dengan kecenderungan menguji support di Rp17.980 jika ekspektasi gencatan senjata permanen di Timur Tengah benar-benar terwujud. Namun, apabila data tenaga kerja AS kembali memanas, bukan tidak mungkin ujung pekan depan rupiah akan kembali menyentuh area Rp18.150. Dengan demikian, lanskap rupiah saat ini menawarkan dua kemungkinan yang sama besar bobotnya: penguatan terbatas yang dipicu sentimen geopolitik jangka pendek, atau tekanan lanjutan dari normalisasi kebijakan moneter global yang belum selesai.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User