Lamongan Galakkan Gerakan Tanam Pohon Massal untuk Tekan Emisi Karbon
Kekhawatiran terhadap krisis iklim global semakin mendalam. Laporan terbaru dari berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca terus meningkat, memicu pemanasan global, cuaca ekst...
Kekhawatiran terhadap krisis iklim global semakin mendalam. Laporan terbaru dari berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca terus meningkat, memicu pemanasan global, cuaca ekstrem, dan peningkatan permukaan air laut. Menghadapi tantangan tersebut, pendekatan seremonial dan diskusi tak lagi cukup. Butuh langkah konkret yang terukur dan melibatkan partisipasi luas.
Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengambil inisiatif dengan menggelar gerakan tanam pohon massal. Program ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari strategi pembangunan rendah karbon yang diintegrasikan ke dalam perencanaan daerah. Ribuan bibit pohon berhasil ditanam hanya dalam satu hari, dengan target penanaman berkelanjutan hingga mencapai satu juta pohon dalam lima tahun ke depan.
Aksi Nyata di Lapangan
Gerakan ini melibatkan beragam elemen: aparatur pemerintah, TNI/Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan, hingga perusahaan swasta. Penanaman dilakukan di lahan-lahan kritis, sempadan sungai, kawasan pesisir, hingga ruang terbuka hijau perkotaan. Bupati Lamongan, dalam sambutannya, menegaskan bahwa pemulihan ekosistem tidak bisa ditunda. “Kami ingin menjadikan Lamongan sebagai kabupaten hijau yang tidak hanya nyaman dihuni, tetapi juga berkontribusi pada penyerapan karbon global,” ujarnya.
Data Dinas Lingkungan Hidup setempat menyebutkan bahwa dalam satu tahun terakhir, terjadi peningkatan suhu rata-rata harian sebesar 0,3 derajat Celsius dibandingkan dekade sebelumnya. Kondisi ini mendorong pemda untuk segera mengimplementasikan program penghijauan masif. Total area yang ditargetkan untuk reboisasi mencapai 500 hektare, termasuk lahan bekas tambang galian C yang selama ini terbengkalai.
Pohon sebagai Penyerap Karbon Alami
Secara ilmiah, pohon berperan penting dalam mengurangi konsentrasi karbon dioksida di atmosfer melalui proses fotosintesis. Satu pohon dewasa mampu menyerap sekitar 22 kilogram karbon dioksida per tahun dan menghasilkan oksigen yang cukup untuk dua orang. Jika gerakan ini berhasil mencapai satu juta pohon, maka potensi penyerapan karbon bisa mencapai 22.000 ton CO₂ per tahun, setara dengan mengurangi emisi dari sekitar 4.800 mobil penumpang selama setahun.
Dari sudut pandang ekonomi lingkungan, nilai jasa ekosistem yang dihasilkan dari penanaman pohon ini tidak kecil. Dengan menggunakan metode valuasi karbon sosial (social cost of carbon) yang diperkirakan sekitar USD 50 per ton CO₂, maka nilai ekonomis dari penyerapan karbon tersebut dapat mencapai lebih dari USD 1,1 juta per tahun. Angka ini belum termasuk manfaat tambahan seperti pengendalian erosi, peningkatan kualitas air, dan keanekaragaman hayati.
Dampak Sosial Ekonomi bagi Masyarakat
Gerakan ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, namun juga menciptakan peluang ekonomi baru. Masyarakat dilibatkan dalam pembibitan, penanaman, hingga perawatan pohon. Program ini membuka lapangan kerja hijau (green jobs) bagi ratusan warga, terutama di pedesaan. Kelompok tani hutan diperkuat dengan pelatihan budidaya bibit dan pengelolaan hutan rakyat sehingga mereka bisa memperoleh pendapatan dari hasil hutan non-kayu seperti buah, madu, dan ekowisata.
Selain itu, pohon-pohon yang ditanam di sepanjang pesisir berfungsi sebagai sabuk hijau (green belt) yang melindungi tambak dan permukiman dari abrasi dan rob. Ini secara langsung menjaga aset ekonomi masyarakat pesisir yang mayoritas bergantung pada perikanan dan tambak. Dengan demikian, investasi lingkungan ini punya return ekonomi jangka panjang yang konkret.
Tantangan dan Keberlanjutan
Meski menjanjikan, program ini bukan tanpa hambatan. Persoalan utama terletak pada tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit yang ditanam. Diperkirakan, tanpa perawatan intensif, hanya 60-70% bibit yang mampu bertahan hingga dewasa. Oleh karena itu, pemda mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan dan monitoring, termasuk melibatkan masyarakat dalam sistem insentif adopsi pohon. Warga yang berhasil merawat pohon hingga tumbuh besar diberikan kompensasi atau bagi hasil dari penjualan karbon di masa depan.
Dari sisi kebijakan, Lamongan juga berencana menerbitkan peraturan daerah tentang pengelolaan ruang terbuka hijau yang mewajibkan setiap proyek infrastruktur menyertakan kompensasi penanaman pohon. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat aspek kelembagaan dan menjamin keberlanjutan program ketika terjadi pergantian kepemimpinan.
Replikasi dan Kolaborasi
Keberhasilan Lamongan diharapkan bisa menjadi model bagi kabupaten/kota lain di Indonesia. Gerakan ini selaras dengan komitmen nasional penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% dengan usaha sendiri dan 43,20% dengan bantuan internasional pada 2030. Kolaborasi dengan pihak swasta terus dijajaki, termasuk skema pendanaan melalui obligasi hijau (green bond) atau kerja sama dengan platform penjualan karbon sukarela.
Apa yang dilakukan Lamongan menunjukkan bahwa aksi lingkungan yang masif bisa dimulai dari daerah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Menanam pohon terlihat sederhana, namun dampaknya bisa terakumulasi menjadi perubahan besar apabila dilakukan secara konsisten dan terukur. Ini adalah investasi hijau yang bukan sekadar menekan emisi karbon, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi generasi mendatang.
Baca juga:
Comments (0)