Oct 19, 2026
Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp17.913, Sentimen Risk-Off Tekan Pasar Domestik

Berdasarkan data kurs referensi yang dipantau sepanjang sesi perdagangan sore, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung...

Rupiah Melemah ke Rp17.913, Sentimen Risk-Off Tekan Pasar Domestik

Berdasarkan data kurs referensi yang dipantau sepanjang sesi perdagangan sore, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Posisi ini menandai titik terlemah mata uang domestik dalam periode pembanding tahun berjalan, dengan depresiasi mencapai sekitar 3,4 persen secara year-on-year terhadap dolar AS. Pergerakan tersebut terjadi di tengah gelombang sentimen penghindaran risiko atau risk-off yang melanda pasar saham domestik maupun regional.

Pelemahan rupiah bukan fenomena tunggal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 1,2 persen pada sesi yang sama, sementara beberapa bursa regional seperti Nikkei dan Straits Times juga mengalami koreksi antara 0,7 hingga 1,5 persen. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak didorong oleh faktor eksternal ketimbang persoalan fundamental domestik semata.

Di Satu Sisi: Tekanan Eksternal dan Aliran Modal Keluar

Di satu sisi, para analis menilai pelemahan rupiah erat kaitannya dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang menembus level 106,8, level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Penguatan dolar dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama dari perkiraan sebelumnya, seiring data inflasi Negeri Paman Sam yang masih bertahan di atas 3,2 persen year-on-year.

Kondisi ini memicu capital outflow dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Data sementara menunjukkan investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell di pasar saham domestik senilai Rp1,87 triliun dalam sepekan terakhir. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), aliran keluar tercatat mencapai Rp2,4 triliun pada periode yang sama. Tekanan jual ini secara langsung menggerus likuiditas dolar AS di pasar domestik dan mendorong rupiah melemah.

"Pelemahan rupiah saat ini lebih merupakan konsekuensi dari dinamika global, bukan cerminan rapuhnya fundamental ekonomi domestik. Cadangan devisa kita masih di kisaran 136 miliar dolar AS, cukup untuk menutup 6,2 bulan impor," ujar seorang analis makroekonomi di sebuah sekuritas nasional.

Dari kacamata teknikal, level Rp17.900 menjadi titik resistance penting. Jika rupiah bertahan di atas level tersebut, proyeksi jangka pendek membuka ruang pelemahan menuju kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Di Sisi Lain: Fundamental Masih Terjaga, Volatilitas Bersifat Sementara

Di sisi lain, sejumlah ekonom menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam koridor yang terkendali dan tidak mencerminkan deteriorasi fundamental. Rasio kecukupan modal perbankan tetap solid di level 24,5 persen, sementara pertumbuhan kredit perbankan tercatat 9,8 persen year-on-year. Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus selama 48 bulan berturut-turut, dengan surplus terakhir sebesar 2,9 miliar dolar AS.

Bank Indonesia dinilai memiliki ruang intervensi yang memadai melalui triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder. Instrumen suku bunga acuan juga masih menjadi bantalan untuk menjaga daya tarik imbal hasil aset domestik. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun saat ini berada di level 6,85 persen, masih cukup kompetitif dibandingkan obligasi negara peers di kawasan.

Dari perspektif valuasi, pelemahan rupiah justru dapat menjadi katalis positif bagi sektor-sektor berorientasi ekspor, seperti komoditas, manufaktur berbasis ekspor, dan pariwisata. Setiap pelemahan 1 persen rupiah terhadap dolar AS secara historis berkontribusi positif sekitar 0,15 hingga 0,2 persen terhadap kinerja ekspor non-migas dalam jangka menengah.

Proyeksi dan Sikap Pasar ke Depan

Pro: Pelaku pasar yang optimistis menilai volatilitas rupiah bersifat temporer dan akan mereda begitu pasar mencerna kebijakan suku bunga global. Jika data tenaga kerja AS melunak pada rilis pekan depan, dolar AS berpotensi mengoreksi dan memberi ruang bagi rupiah untuk rebound ke kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800.

Kontra: Kelompok pesimistis mengingatkan bahwa risiko capital outflow masih membayangi, terutama jika imbal hasil obligasi AS terus naik. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga dapat menambah sentimen risk-off dan memperpanjang fase pelemahan. Dalam skenario ini, rupiah berpotensi menyentuh level psikologis Rp18.000 dalam waktu dekat.

Terlepas dari kedua pandangan tersebut, yang perlu dicermati adalah bagaimana kombinasi kebijakan moneter dan fiskal menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Stabilitas rupiah menjadi prasyarat penting bagi terjaganya daya beli masyarakat dan keberlanjutan portofolio investasi jangka panjang. Pasar akan terus mencermati setiap data makro yang dirilis, baik dari dalam maupun luar negeri, sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User