Rupiah Kembali ke Level Rp18.000 di Tengah Mundurnya Perry Warjiyo

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (20/7). Pelemahan ini terjadi di tengah kabar mengejutkan pengunduran diri Gubernur Bank...

Jul 28, 2026 - 02:47
0 0
Rupiah Kembali ke Level Rp18.000 di Tengah Mundurnya Perry Warjiyo

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (20/7). Pelemahan ini terjadi di tengah kabar mengejutkan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan domestik. Berdasarkan data transaksi antarbank, rupiah sempat diperdagangkan di level Rp17.978 per dolar AS, melemah 0,8 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda telah terdepresiasi lebih dari 2 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Sentimen Global dan Tekanan Domestik Berpadu

Pelemahan rupiah kali ini tidak bisa dilepaskan dari dua faktor besar yang bekerja simultan. Di ranah global, indeks dolar AS menguat ke level 104,5 seiring ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menunda pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun. Data inflasi inti AS pada Juni menunjukkan kenaikan bulanan sebesar 0,3 persen, di atas konsensus analis yang memperkirakan 0,2 persen. Angka ini memperkuat narasi "higher for longer" yang membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun kembali menanjak ke 4,45 persen. Kenaikan yield tersebut memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam dua pekan terakhir, data Kementerian Keuangan mencatat net outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp7,8 triliun.

Sementara itu, tekanan dari dalam negeri muncul seiring mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI. Perry yang telah memimpin bank sentral selama dua periode dan dikenal dengan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga stabilitas rupiah, memutuskan mundur sebelum masa jabatannya berakhir pada 2027. Pengunduran diri ini mengejutkan pasar karena tidak ada sinyal sebelumnya. Situasi ini langsung menciptakan kekosongan kepemimpinan di bank sentral pada saat yang kritis, di mana rupiah membutuhkan pengawalan komunikasi kebijakan yang kredibel untuk meredam ekspektasi depresiasi.

Dua Sisi Transisi: Risiko Jangka Pendek dan Peluang Jangka Panjang

Di satu sisi, pasar keuangan mencermati transisi ini dengan kekhawatiran yang beralasan. Tanpa kepastian siapa pengganti definitif, investor asing cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar rupiah karena risiko kebijakan (policy risk) meningkat. "Vakumnya posisi gubernur BI di tengah tekanan eksternal seperti ini adalah pukulan ganda bagi rupiah. Pasar butuh sinyal kuat setidaknya soal kesinambungan kebijakan stabilisasi," ujar Andrianto Saputra, ekonom senior dari Lembaga Ekonomi Independen (LEI) dalam wawancara tertulis. Ketiadaan arahan moneter yang jelas juga membuka ruang bagi spekulan untuk menekan rupiah lebih dalam. Premi credit default swap (CDS) Indonesia untuk tenor 5 tahun, yang mencerminkan persepsi risiko, tercatat naik 12 basis poin ke level 78 pada pagi hari.

Di sisi lain, sejumlah analis memandang pelemahan ini bersifat sementara dan justru menciptakan peluang. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih solid dengan cadangan devisa yang bertahan di atas 140 miliar dolar AS per akhir Juni 2026, cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus bulanan sebesar 2,1 miliar dolar AS pada Juni, melanjutkan tren positif 38 bulan berturut-turut. Posisi eksternal yang kuat ini memberikan ruang bagi BI untuk melakukan intervensi di pasar valas tanpa menguras cadangan devisa secara berarti. Bahkan, pengunduran diri Perry bisa menjadi katalis reformasi di tubuh bank sentral jika diisi oleh figur baru yang mampu membawa pendekatan kebijakan yang lebih adaptif terhadap dinamika digital dan global.

Proyeksi dan Faktor Penentu Ke Depan

Proses pemilihan gubernur BI yang baru menjadi sorotan utama. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dijadwalkan akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan dalam waktu dekat. Nama-nama seperti Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dan mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu disebut-sebut sebagai kandidat potensial. Pelaku pasar akan mencermati rekam jejak dan pernyataan awal kandidat untuk mengukur arah kebijakan moneter dan nilai tukar ke depan. Jika proses transisi berjalan lancar dan pengganti memiliki kredibilitas tinggi, tekanan pada rupiah berpotensi mereda.

Faktor eksternal juga akan sangat menentukan. Apabila data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini menunjukkan pelemahan, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bisa kembali menguat sehingga dolar melemah dan memberikan napas bagi rupiah. Sebaliknya, jika data tetap tangguh, tekanan hingga menyentuh level psikologis baru bisa berlanjut. Saat ini, konsensus analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS hingga akhir kuartal ketiga 2026, dengan asumsi transisi di BI berlangsung tertib dan BI tetap melakukan operasi moneter secara terukur. Namun, risiko overshooting tetap terbuka jika sentimen negatif domestik dan global bertahan dalam waktu yang lebih lama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User