RI dan UEA Bahas Optimalisasi CEPA untuk Genjot Perdagangan Bilateral

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal 2026, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) berada pada kisaran US$4,5 miliar hingga US$5 miliar per tahun, menjadika...

Aug 11, 2026 - 09:15
0 0
RI dan UEA Bahas Optimalisasi CEPA untuk Genjot Perdagangan Bilateral

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal 2026, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) berada pada kisaran US$4,5 miliar hingga US$5 miliar per tahun, menjadikan UEA mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan Timur Tengah. Data Kementerian Perdagangan juga menunjukkan ekspor nonmigas Indonesia ke UEA mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir, ditopang komoditas perhiasan emas, minyak kelapa sawit (CPO), kertas, dan kendaraan bermotor.

Dalam konteks tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso menggelar pertemuan bilateral dengan menteri perdagangan UEA guna membahas langkah konkret memaksimalkan pemanfaatan Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA). Perjanjian yang ditandatangani pada Juli 2022 dan berlaku efektif sejak 1 September 2023 ini menjadi fondasi utama upaya kedua negara mengerek nilai perdagangan hingga US$10 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

Apa Itu IUAE-CEPA dan Mengapa Penting?

IUAE-CEPA adalah perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif yang mencakup perdagangan barang dan jasa, investasi, hingga kerja sama ekonomi. Bagi pembaca awam, CEPA pada dasarnya menghapus atau menurunkan tarif bea masuk sebagian besar produk yang diperdagangkan kedua negara, sehingga harga barang menjadi lebih kompetitif di pasar masing-masing. UEA berkomitmen menghapus tarif untuk hampir 94 persen pos tarifnya, sementara Indonesia melakukan hal serupa untuk mayoritas produk asal UEA.

Secara fundamental, posisi UEA sangat strategis karena berfungsi sebagai hub atau pintu gerbang distribusi ke kawasan Teluk, Afrika, dan Eropa Timur. Artinya, produk Indonesia yang masuk ke Dubai atau Abu Dhabi berpotensi direekspor ke puluhan negara lain. Dari sisi likuiditas dan arus modal, UEA juga merupakan investor penting, dengan komitmen investasi yang disalurkan antara lain melalui Indonesia Investment Authority (INA).

Di Satu Sisi: Peluang Ekspansi Ekspor dan Investasi

Di satu sisi, optimalisasi CEPA membuka ruang pertumbuhan ekspor yang signifikan. Produk perhiasan dan emas selama ini menjadi andalan karena UEA merupakan salah satu pusat perdagangan emas dunia. Sektor halal—mulai dari makanan, kosmetik, hingga farmasi—juga memiliki prospek cerah mengingat pasar Timur Tengah yang terus tumbuh. Sentimen pasar terhadap produk halal Indonesia relatif positif, didukung reputasi Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Dari sisi investasi, penguatan CEPA dapat memperdalam arus modal masuk. Dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) milik UEA telah lama melirik portofolio infrastruktur, energi baru terbarukan, dan ekonomi digital di Indonesia. Jika kepastian regulasi dan kemudahan berusaha terus membaik, proyeksi aliran investasi dari kawasan Teluk bisa mengalami kenaikan signifikan dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

"Perjanjian dagang hanya efektif jika dunia usaha benar-benar memanfaatkannya. Tantangan terbesar bukan pada penandatanganan, melainkan pada tingkat pemanfaatan skema tarif preferensial oleh eksportir di lapangan," ujar seorang pengamat perdagangan internasional dari lembaga kajian ekonomi di Jakarta.

Di Sisi Lain: Tantangan Defisit dan Daya Saing

Di sisi lain, terdapat sejumlah catatan kritis. Neraca perdagangan Indonesia dengan UEA cenderung berfluktuasi dan pada beberapa periode mencatat defisit, terutama akibat impor produk minyak dan gas serta aluminium. Tanpa diversifikasi ekspor yang kuat, penurunan tarif justru berisiko memperbesar defisit karena produk UEA lebih mudah masuk ke pasar domestik.

Selain itu, tingkat pemanfaatan (utilization rate) perjanjian perdagangan bebas Indonesia secara historis masih rendah, yakni di kisaran 30-40 persen untuk sejumlah FTA yang sudah berjalan. Penyebabnya antara lain kurangnya sosialisasi kepada pelaku usaha kecil dan menengah, rumitnya prosedur aturan asal barang (rules of origin), serta keterbatasan kapasitas produksi untuk memenuhi standar pasar Teluk. Rasio pemanfaatan yang rendah ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, keberhasilan optimalisasi IUAE-CEPA akan sangat bergantung pada tiga faktor: diversifikasi produk ekspor, peningkatan daya saing industri manufaktur nasional, dan efektivitas diplomasi ekonomi. Jika tren peningkatan perdagangan year-on-year dapat dipertahankan di atas 10 persen per tahun, target US$10 miliar bukan hal yang mustahil dicapai sebelum akhir dekade ini.

Namun, pemerintah juga perlu mengantisipasi risiko eksternal seperti perlambatan ekonomi global, volatilitas harga komoditas, dan potensi capital outflow akibat ketidakpastian kebijakan moneter negara maju. Fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid—dengan pertumbuhan PDB di kisaran 5 persen dan inflasi terkendali—menjadi modal penting, tetapi bukan jaminan otomatis. Pada akhirnya, kesepakatan di atas kertas hanya akan bermakna jika diikuti eksekusi yang konsisten di lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User