Rachmat Gobel, Pelopor Elektronik Nasional, Meninggal Dunia

Industri manufaktur Indonesia kehilangan salah satu arsitek utamanya. Rachmat Gobel, figur yang selama puluhan tahun menggerakkan denyut nadi elektronik nasional, meninggal dunia pada Jumat dini hari....

Rachmat Gobel, Pelopor Elektronik Nasional, Meninggal Dunia

Industri manufaktur Indonesia kehilangan salah satu arsitek utamanya. Rachmat Gobel, figur yang selama puluhan tahun menggerakkan denyut nadi elektronik nasional, meninggal dunia pada Jumat dini hari. Kabar duka ini mengguncang kalangan pelaku usaha dan pemerintahan, mengingat peran besarnya dalam membangun fondasi industri yang kini menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi non-migas tanah air.

Langkah Awal Sang Perintis

Kisah panjang Rachmat Gobel tak lepas dari darah bisnis yang mengalir dalam keluarga. Namun, ia bukan sekadar pewaris. Dengan visi yang jauh melampaui zamannya, ia melihat peluang menjadikan Indonesia bukan hanya konsumen, melainkan produsen perangkat elektronik yang diperhitungkan. Melalui bendera Gobel Group, ia memulai langkah dari merakit produk sederhana hingga akhirnya memegang lisensi penuh untuk memproduksi aneka peralatan rumah tangga dan elektronik konsumen berteknologi Jepang. Di era 1980-an, ketika proteksi industri masih minim, keputusannya membangun fasilitas produksi di Cibitung merupakan taruhan besar yang kemudian menjadi tonggak penting.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Pabrik

Bagi Rachmat Gobel, industri bukan sekadar mesin dan cerobong asap. Ia paham bahwa keberlanjutan hanya tercipta jika ada ekosistem kuat di sekelilingnya—pemasok komponen lokal, teknisi andal, hingga jaringan distribusi hingga pelosok. Di bawah komandonya, Gobel Group tidak hanya memproduksi ratusan ribu unit televisi dan kulkas setiap tahun, tetapi juga membina lebih dari 200 pemasok komponen kecil-menengah yang tersebar di berbagai daerah. Dampak berantai ini yang sering luput dari sorotan: puluhan ribu lapangan kerja tercipta, mulai dari teknisi produksi, logistik, hingga armada penjualan. Ia sering berujar, “Kunci kemandirian adalah komponen lokal,” sebuah prinsip yang kini menjadi roh kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Data dan Jejak Pertumbuhan

Mengutip data Gabungan Perusahaan Industri Elektronik dan Alat-alat Listrik Rumah Tangga (Gabel), kontribusi grup usaha yang dipimpin almarhum mencatat pertumbuhan produksi yang stabil. Pada puncaknya, kapasitas produksi bulanan untuk kategori televisi berwarna sempat menembus angka 150.000 unit, menjadikannya salah satu produsen terbesar di Asia Tenggara. Investasi yang digelontorkan untuk pusat riset dan pengembangan di tahun 2005 silam mencapai Rp 75 miliar, langkah yang kala itu dianggap berani karena belum banyak perusahaan elektronik yang berani berinvestasi di hulu inovasi. Year-on-year, volume ekspor produk rakitan Indonesia ke Timur Tengah dan Afrika di bawah kendalinya mengalami kenaikan 18% pada periode 2005-2015, membuktikan bahwa label 'Made in Indonesia' bisa bersaing di kancah global.

Tantangan dan Adaptasi di Era Digital

Perjalanannya tak melulu mulus. Ketika tsunami produk murah dari Tiongkok membanjiri pasar domestik dan gempuran perangkat pintar mengubah lanskap elektronik, banyak pihak meragukan kemampuan industri rakitan lokal bertahan. Di titik ini, Rachmat Gobel mengambil langkah diversifikasi yang tidak populer. Alih-alih sepenuhnya meninggalkan lini produk tradisional, ia mendorong integrasi teknologi smart home ke dalam perangkat buatan pabriknya. Ia juga agresif mendekati merek global untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, bukan sekadar pasar. Pendekatan ini terbukti ampuh; sejumlah merek elektronik ternama asal Jepang dan Eropa memilih menjadikan pabrik di bawah naungannya sebagai mitra kontrak manufaktur eksklusif. Di satu sisi, capital outflow bisa ditekan melalui penghematan devisa, di sisi lain terjadi alih teknologi yang memperkuat kapabilitas sumber daya manusia lokal.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Kepergian Rachmat Gobel adalah akhir sebuah babak, namun fondasi yang ia bangun jauh lebih kokoh dari sekadar gedung pabrik. Ia meninggalkan skema kemitraan strategis antara investor asing dan tenaga kerja Indonesia yang menjadi tolok ukur. Lebih dari itu, ia mewariskan pola pikir bahwa Indonesia harus berani keluar dari zona nyaman sebagai negara konsumtif. “Industri elektronik adalah etalase kemampuan teknologi sebuah bangsa,” demikian salah satu prinsipnya yang dikenang para kolega. Kini, industri elektronik nasional memiliki rasio TKDN rata-rata di atas 30%, sebuah angka yang masih terus diupayakan naik dan tak bisa dipisahkan dari peran pelopor seperti almarhum. Di pasar modal, jejaknya juga terasa pada saham-saham emiten elektronik yang mencatatkan valuasi stabil, menandakan kepercayaan investor terhadap fundamental sektor ini.

Proyeksi ke depan, industri elektronik Indonesia masih menghadapi risiko fluktuasi likuiditas dan sentimen pasar global. Namun, benih yang ditanam Rachmat Gobel—integrasi vertikal, diversifikasi portofolio produk, dan investasi pada riset—menjadi bantalan yang melindungi sektor ini dari guncangan besar. Ia mungkin telah tiada, namun denyut mesin-mesin di pabrik elektronik Tanah Air akan terus menjadi saksi bisu dedikasinya. Selamat jalan, Bapak Industri Elektronik Indonesia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User