Puisi Esai 'Yang Menggigil' Raih BRICS Award dan 35 Terjemahan
Dunia sastra Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Sebuah buku kumpulan puisi esai berjudul Yang Menggigil dalam Arus Sejarah berhasil meraih penghargaan bergengs...
Dunia sastra Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Sebuah buku kumpulan puisi esai berjudul Yang Menggigil dalam Arus Sejarah berhasil meraih penghargaan bergengsi dari forum BRICS dan kini tengah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. Capaian ini tidak hanya mengukuhkan posisi sastra tanah air, tetapi juga membuka jalan bagi dialog budaya yang lebih luas.
Perjalanan Menuju Penghargaan Internasional
Penghargaan BRICS yang dimaksud merupakan sebuah ajang apresiasi terhadap karya-karya sastra yang dinilai memiliki nilai universal tinggi. Dalam seleksi yang ketat, buku Yang Menggigil dalam Arus Sejarah terpilih karena keberhasilannya meramu isu-isu kemanusiaan ke dalam bentuk puisi esai—genre yang memadukan kekuatan naratif esai dengan keindahan puitis. Juri menyoroti bagaimana karya ini mengajak pembaca merenungkan liku sejarah, identitas, dan perjuangan manusia tanpa terjebak dalam lokalitas sempit. Tema-tema seperti ketidakadilan, harapan, dan ketahanan hidup di tengah gejolak zaman menjadi benang merah yang membuatnya relevan bagi siapa pun, di mana pun.
Menurut juri, buku ini tidak sekadar mendokumentasikan kisah, tetapi juga membangun jembatan emosi yang menghubungkan masa lalu dengan realitas kontemporer. “Ini adalah suara yang bergetar dari kedalaman sejarah, namun berbicara tentang masa kini dan masa depan manusia,” demikian bunyi salah satu catatan penilaian. Dengan gaya bahasa yang menggugah, penulisnya berhasil menciptakan ruang refleksi yang dalam, mengajak pembaca untuk merasakan kedinginan—atau dalam metafora judulnya, menggigil—saat menyusuri arus sejarah yang sering kali bengis.
Penerjemahan ke 35 Bahasa: Misi Diplomasi Budaya
Tidak berhenti pada penghargaan, momentum ini diperkuat dengan proyek ambisius penerjemahan ke dalam 35 bahasa. Proyek yang melibatkan puluhan penerjemah dari berbagai negara ini dijadwalkan berlangsung dalam dua tahun ke depan. Target penerjemahan tidak hanya mencakup bahasa-bahasa negara anggota BRICS seperti Mandarin, Hindi, Portugis, Rusia, dan Arab, tetapi juga bahasa Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol, hingga bahasa-bahasa di kawasan Asia dan Afrika. Langkah ini dianggap sebagai salah satu upaya diplomasi budaya terbesar yang pernah dilakukan untuk karya sastra Indonesia kontemporer.
Seorang pejabat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang ditemui di sela peluncuran proyek tersebut menyatakan, “Penerjemahan masif ini bukan sekadar penyebarluasan teks, melainkan upaya membangun pemahaman antarbangsa melalui sastra. Karya seperti Yang Menggigil dalam Arus Sejarah menjadi duta budaya yang efektif.” Pemerintah, melalui berbagai skema dukungan, turut mendorong agar hak terjemahan karya sastra Indonesia semakin diminati pasar global.
Tantangan dan Antusiasme Penerjemah
Namun, menerjemahkan puisi esai bukan pekerjaan mudah. Genre ini menggabungkan presisi argumen esai dengan kekayaan citra dan irama puisi. Penerjemah harus mampu menyeimbangkan akurasi makna dengan keindahan bentuk. Sejumlah penerjemah yang terlibat mengaku tertarik justru karena kompleksitas tersebut. Seorang penerjemah bahasa Inggris yang sudah memulai tahap awal menjelaskan bahwa ia perlu memahami konteks sejarah Indonesia dan metafora lokal agar dapat menemukan padanan yang tepat. “Ini bukan sekadar alih bahasa, melainkan penciptaan kembali pengalaman batin pembaca,” ujarnya.
Proses ini juga melibatkan diskusi intensif dengan penulis asli dan editor multibahasa untuk menjaga keutuhan suara naratif. Beberapa bahasa target bahkan menggunakan pendekatan lokalisasi kreatif, sehingga puisi esai tersebut bisa bernapas dalam konteks budaya setempat tanpa kehilangan ruh aslinya.
Dampak bagi Ekosistem Sastra Indonesia
Para pengamat sastra menilai bahwa penghargaan ini akan berdampak positif bagi ekosistem sastra nasional. “Ini membuktikan bahwa sastra Indonesia bukan hanya kaya akan tradisi lisan dan novel populer, tetapi juga memiliki genre serius seperti puisi esai yang siap bersaing di pentas dunia,” kata seorang kritikus sastra Universitas Indonesia. Lebih jauh, capaian ini diharapkan memicu minat penerbit luar negeri untuk melirik karya-karya Indonesia lainnya, membuka peluang peningkatan ekspor hak cipta dan kolaborasi sastra internasional.
Data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, jumlah karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing meningkat rata-rata 15% per tahun. Namun, pencapaian sekaligus 35 bahasa untuk satu judul buku adalah yang pertama kalinya terjadi. Ini menjadi tonggak sejarah yang menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara produsen sastra global.
Dari BRICS untuk Dunia
BRICS sebagai aliansi negara berkembang memang telah lama mendorong kerja sama kebudayaan. Penghargaan sastra ini adalah bagian dari upaya menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan universal tidak mengenal batas geopolitik. Buku Yang Menggigil dalam Arus Sejarah dinilai mampu menjadi simbol pertukaran gagasan dan empati global. Dengan terjemahan dalam puluhan bahasa, pesan kemanusiaannya kini bisa menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari pedalaman Amazon hingga padatnya kota Shanghai.
Ke depan, diharapkan semakin banyak sastrawan Indonesia yang terdorong untuk menggarap tema-tema besar dengan perspektif yang melampaui batas negara. Penghargaan ini bukan hanya milik satu buku atau satu penulis, melainkan milik seluruh ekosistem sastra yang terus bergerak dan berdenyut, menawarkan cara pandang baru terhadap dunia yang kian terhubung. Warisan kata-kata dari arus sejarah yang menggigil itu kini telah berubah menjadi kehangatan baru bagi komunikasi antarbangsa.
Baca juga:
Comments (0)