Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 15 Agustus 2025, perekonomian Indonesia tumbuh 5,12 persen year-on-year pada kuartal II-2025, inflasi indeks harga konsumen terjaga di level 2,31 persen, dan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.250 per dolar Amerika Serikat. Likuiditas perbankan masih longgar dengan pertumbuhan kredit mencapai 8,8 persen year-on-year, sementara rasio kecukupan modal perbankan berada di atas 26 persen. Di tengah fundamental makro yang relatif stabil tersebut, agenda transisi menuju energi bersih kembali menjadi perhatian karena membutuhkan pendanaan jangka sangat panjang dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Estimasi terbaru pemerintah menempatkan total kebutuhan belanja modal untuk membangun pembangkit berbasis sumber daya terbarukan beserta infrastruktur transmisinya hingga tahun 2060 di kisaran Rp17.892 triliun. Nilai itu mencakup pembangunan pembangkit surya, angin, hidro, panas bumi, dan bioenergi, ditambah jaringan transmisi, distribusi, gardu induk, serta sistem penyimpanan daya. Jika dirata-rata selama 35 tahun ke depan, kebutuhan tahunannya mencapai sekitar Rp511 triliun per tahun, atau setara hampir 2,3 persen dari produk domestik bruto 2024 yang tercatat sekitar Rp22.139 triliun. Skala ini jauh melampaui realisasi investasi sektor ketenagalistrikan dalam satu dekade terakhir yang rata-rata hanya berada di kisaran Rp120 triliun hingga Rp180 triliun per tahun.
Skala Kebutuhan dan Tahapan Proyeksi Jangka Panjang
Proyeksi belanja modal tersebut disusun dengan asumsi peningkatan kapasitas pembangkit terbarukan secara bertahap sejalan dengan target netralitas karbon pada 2060. Pada fase awal hingga 2030, porsi terbesar diarahkan untuk pembangkit surya dan hidro serta penguatan jaringan interkoneksi antarpulau. Memasuki periode 2031 hingga 2045, kebutuhan meningkat seiring penambahan pembangkit angin lepas pantai, panas bumi, dan baterai skala besar. Setelah 2045, fokus bergeser ke modernisasi jaringan cerdas dan penggantian aset yang mulai mengalami penurunan efisiensi. Tren kebutuhan yang menanjak ini sejalan dengan tren global, di mana Badan Energi Internasional mencatat investasi energi bersih dunia mengalami kenaikan hingga menembus 2 triliun dolar AS pada 2024, dua kali lipat dari investasi bahan bakar fosil.
Untuk pembaca awam, year-on-year berarti perbandingan terhadap periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga pertumbuhan 5,12 persen year-on-year menunjukkan ekonomi kuartal II-2025 lebih besar 5,12 persen dibanding kuartal II-2024. Sementara itu, proyeksi adalah perkiraan berbasis model atas kondisi masa depan, bukan angka pasti. Rasio dalam konteks ini adalah perbandingan, misalnya rasio utang terhadap produk domestik bruto yang menunjukkan kemampuan membayar. Dengan kerangka itu, kebutuhan Rp17.892 triliun hingga 2060 bukan pengeluaran tunai sekaligus, melainkan akumulasi belanja modal lintas generasi yang sensitif terhadap perubahan valuasi proyek, valuasi yang berarti taksiran nilai wajar suatu aset, serta terhadap pergerakan suku bunga dan kurs.
Pro Penguatan Fundamental dan Peluang Industrialisasi Hijau
Di satu sisi, dorongan investasi energi terbarukan dinilai dapat memperkuat fundamental ekonomi jangka panjang. Fundamental yang dimaksud adalah fondasi dasar ekonomi berupa ketahanan pasokan energi, daya saing industri, dan keberlanjutan fiskal. Pembangunan pembangkit dan jaringan dalam skala besar berpotensi menciptakan efek berganda terhadap industri baja, kabel, panel surya, jasa konstruksi, dan pembiayaan. Jika tingkat komponen dalam negeri ditingkatkan dari sekitar 40 persen menjadi di atas 60 persen, sebagian besar belanja modal akan berputar di dalam negeri dan menambah portofolio, yakni kumpulan aset investasi, industri nasional di sektor hijau.
Sentimen pasar global juga cenderung mendukung. Sentimen pasar adalah persepsi kolektif pelaku pasar yang memengaruhi minat beli dan jual. Indeks saham energi bersih dunia mengalami kenaikan sekitar 12 persen sepanjang 2024 setelah sempat tertekan pada 2023, menandakan minat kembali pulih. Arus modal asing ke obligasi hijau Indonesia tercatat mencapai Rp42,5 triliun pada semester I-2025, mengalami kenaikan 18,4 persen dibanding periode yang sama 2024.
Kondisi makro yang stabil memberi ruang untuk mengakselerasi transisi energi tanpa mengorbankan stabilitas, asalkan pendanaan dibagi secara proporsional antara APBN, BUMN, dan swasta dengan mitigasi risiko yang jelas, kata seorang ekonom senior perbankan nasional.Dengan skema itu, ketergantungan pada impor bahan bakar yang pada 2024 masih mencapai 42,8 juta ton setara minyak dapat ditekan secara bertahap.
Kontra Tantangan Likuiditas dan Risiko Capital Outflow
Di sisi lain, skala pendanaan tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai likuiditas dan keberlanjutan pembiayaan. Likuiditas adalah ketersediaan dana cair untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan membiayai proyek. Kebutuhan rata-rata Rp511 triliun per tahun setara hampir tiga kali lipat penyaluran kredit infrastruktur perbankan dalam setahun yang berkisar Rp170 triliun hingga Rp200 triliun. Jika terlalu mengandalkan perbankan domestik, ada risiko penumpukan aset jangka panjang dengan pendanaan jangka pendek yang dapat menekan rasio pinjaman terhadap simpanan yang kini berada di level 83,7 persen.
Risiko lain adalah capital outflow, yaitu aliran dana keluar dari dalam negeri ke luar negeri oleh investor asing ketika persepsi risiko meningkat. Proyek energi terbarukan memiliki masa pengembalian 12 hingga 20 tahun, jauh lebih lama dibanding pembangkit fosil yang rata-rata 8 hingga 10 tahun. Jika suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan di 5,75 persen dan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun di 6,9 persen, biaya modal menjadi mahal dan valuasi proyek bisa menurun. Pada 2023, Indonesia sempat mencatat arus keluar bersih portofolio asing sebesar Rp24,3 triliun dalam satu kuartal saat dolar menguat, sehingga ketergantungan berlebih pada dana asing jangka pendek untuk proyek 35 tahun dinilai rentan terhadap pembalikan sentimen.
Implikasi terhadap Fiskal dan Strategi Pembiayaan Campuran
Ruang fiskal pemerintah juga terbatas. Defisit APBN 2025 dipatok 2,53 persen terhadap produk domestik bruto atau sekitar Rp616,2 triliun, sementara rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto berada di 39,8 persen. Artinya, APBN tidak mungkin menanggung lebih dari 10 hingga 15 persen dari total kebutuhan Rp17.892 triliun tersebut. Tanpa rekayasa pembiayaan, beban subsidi dan kompensasi energi yang pada 2024 mencapai Rp435,4 triliun akan semakin sulit ditekan karena transisi yang lambat membuat pembangkit fosil tetap beroperasi dan membutuhkan perawatan mahal.
Ke depan, kombinasi instrumen seperti surat berharga hijau, pinjaman multilateral, kemitraan publik-swasta, dan pengalihan risiko melalui penjaminan menjadi kunci. OJK mencatat outstanding reksa dana dan asuransi berbasis keberlanjutan tumbuh 22,6 persen year-on-year menjadi Rp98,7 triliun per Juni 2025, menunjukkan basis investor domestik mulai terbentuk. Namun keberhasilan tetap bergantung pada kepastian tarif beli listrik, kecepatan perizinan lahan, dan kesiapan jaringan. Jika tiga prasyarat itu tidak diperbaiki, proyeksi sebesar apa pun hanya akan menjadi angka di atas kertas, dan Indonesia berisiko tertinggal dari Vietnam dan India yang realisasi investasi suryanya mengalami kenaikan masing-masing 28 persen dan 19 persen pada 2024.
Comments (0)