Program Sertifikasi Halal BRI Peduli Dorong Pertumbuhan Omzet UMKM
Bagi Lucy Emilda, dapur kecil di rumahnya bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang lahirnya sebuah harapan baru. Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi, ia memutuskan untuk memutar otak ...
Bagi Lucy Emilda, dapur kecil di rumahnya bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang lahirnya sebuah harapan baru. Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi, ia memutuskan untuk memutar otak dan menciptakan peluang dari keterbatasan. Lahirlah BUNCY, merek cheese stick yang kini telah menapaki perjalanan lebih dari sekadar bisnis rumahan biasa.
Dari Resep Coba-Coba ke Produk Bernilai Jual
Cerita Lucy bukanlah kisah keberuntungan semata. Ia memulai usahanya dengan modal pengetahuan memasak yang terbatas dan peralatan seadanya. Resep cheese stick pertamanya lahir dari eksperimen berkali-kali di dapur, hingga akhirnya menemukan komposisi keju, tepung, dan bumbu yang pas di lidah keluarga dan tetangga. Respons positif dari lingkungan terdekat menjadi sinyal awal bahwa produknya punya potensi lebih besar. Pesanan mulai berdatangan dari mulut ke mulut, membawa BUNCY perlahan dikenal di kawasan tempat tinggalnya di pinggiran Jakarta.
Namun, Lucy menyadari bahwa mengandalkan pemasaran organik semata tidak cukup untuk membawa usahanya ke level berikutnya. Ia membutuhkan pengakuan formal yang bisa membuka pintu ke segmen konsumen yang lebih luas dan lebih kritis terhadap kualitas produk makanan. Di sinilah pentingnya sebuah dokumen yang sering kali dianggap remeh oleh pelaku UMKM pemula: sertifikat halal.
Peran Strategis BRI Peduli dalam Pendampingan Sertifikasi
Kesadaran akan urgensi sertifikasi halal tidak serta-merta datang begitu saja bagi Lucy. Ia pertama kali mendengar tentang pentingnya label halal melalui sebuah program pelatihan yang diselenggarakan oleh BRI Peduli, inisiatif tanggung jawab sosial dari Bank Rakyat Indonesia. Program ini dirancang khusus untuk memberikan pendampingan menyeluruh kepada pelaku UMKM, mulai dari pemahaman tentang regulasi halal, tata cara pengurusan sertifikat, hingga pendampingan teknis dalam memenuhi standar kebersihan dan kehalalan produk.
Selama pelatihan, Lucy dan puluhan peserta lainnya mendapatkan materi tentang sistem jaminan produk halal (SJPH), yang mencakup aspek bahan baku, proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi. Para peserta juga diajari cara mendokumentasikan seluruh proses secara tertib sebagai syarat audit oleh lembaga pemeriksa halal. Bagi Lucy, yang sebelumnya menganggap sertifikasi halal sebagai prosedur rumit dan mahal, pelatihan ini membuka mata bahwa prosesnya dapat dijalani secara bertahap dengan bimbingan yang tepat.
BRI Peduli tidak hanya berhenti pada pelatihan teori. Program ini juga memfasilitasi proses pendaftaran sertifikasi halal dan menghubungkan peserta dengan ekosistem pendukung, termasuk konsultan halal dan lembaga pemeriksa yang telah terakreditasi. Pendampingan ini secara signifikan meringankan beban administratif dan finansial yang sering kali menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha mikro dalam mengakses sertifikasi.
Dampak Nyata Sertifikasi Halal terhadap Kepercayaan Konsumen
Setelah resmi menyandang label halal, BUNCY mengalami perubahan yang cukup terasa. Lucy menuturkan bahwa konsumen menjadi jauh lebih percaya diri dalam membeli produknya, terutama kalangan Muslim yang sangat memperhatikan aspek kehalalan makanan olahan. Kepercayaan ini berdampak langsung pada volume penjualan. Dari yang sebelumnya hanya melayani pesanan dalam lingkup teman dan kerabat, BUNCY kini mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk penitipan di minimarket, koperasi, hingga pemesanan untuk acara-acara komunitas dan korporat.
Data internal yang dicatat Lucy menunjukkan bahwa omzet bulanannya meningkat sekitar tiga kali lipat dalam waktu enam bulan pasca-perolehan sertifikat halal. Pertumbuhan ini tidak hanya berasal dari bertambahnya jumlah pelanggan, tetapi juga dari keberanian Lucy untuk menaikkan harga jual seiring meningkatnya persepsi kualitas produk di mata konsumen. Sertifikat halal berfungsi sebagai sinyal kualitas yang kuat, yang membuat konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang mereka anggap terjamin kebersihan dan kehalalannya.
Selain itu, label halal juga membuka akses BUNCY ke platform digital dan marketplace besar yang mensyaratkan sertifikasi halal bagi produk makanan yang dijual di platform mereka. Lucy kini dapat memasarkan cheese stick-nya melalui lokapasar utama, menjangkau konsumen di luar wilayah Jabodetabek, dan bahkan mulai menerima pertanyaan dari calon pembeli di luar Pulau Jawa.
Tantangan dan Keberlanjutan Pasca-Sertifikasi
Meskipun sertifikasi halal memberikan banyak manfaat, Lucy mengakui bahwa mempertahankan standar bukanlah perkara mudah. Audit berkala dari lembaga pemeriksa halal menuntut konsistensi dalam seluruh rantai produksi. Bahan baku harus dipastikan berasal dari pemasok yang juga bersertifikat halal, dan setiap perubahan dalam formula atau proses produksi wajib dilaporkan. Di sinilah pentingnya pendampingan berkelanjutan yang diharapkan Lucy dapat terus difasilitasi oleh program-program seperti BRI Peduli.
Lucy kini tengah mempersiapkan diri untuk memperluas kapasitas produksi. Ia berencana memindahkan dapur produksinya dari rumah ke fasilitas yang lebih memadai, merekrut tambahan tenaga kerja, dan mengurus izin edar yang lebih lengkap. Semua langkah ini diambil dengan tetap berpegang pada komitmen menjaga kehalalan produk sebagai fondasi utama.
Pengalaman BUNCY menunjukkan bahwa sertifikasi halal bukan sekadar formalitas administratif, melainkan instrumen strategis yang dapat mendorong transformasi UMKM dari sekadar usaha bertahan hidup menjadi entitas bisnis yang kompetitif dan berkelanjutan. Dengan dukungan program pendampingan yang tepat, pelaku usaha mikro seperti Lucy memiliki kesempatan nyata untuk naik kelas dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian lokal.
Comments (0)