Prabowo Usulkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Pasar Merespons Positif
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per awal Februari 2025, inflasi year-on-year tercatat sebesar 0,76 persen pada Januari 2025, cadangan devisa berada di posisi 156,1 miliar dol...
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per awal Februari 2025, inflasi year-on-year tercatat sebesar 0,76 persen pada Januari 2025, cadangan devisa berada di posisi 156,1 miliar dolar AS, dan BI Rate dipertahankan di level 5,75 persen. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif stabil tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia periode 2025-2030 kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Usulan ini akan melalui mekanisme uji kelayakan dan kepatutan, atau lazim disebut fit and proper test, sebelum pengangkatan resmi dilakukan.
Destry Damayanti saat ini menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, posisi tertinggi kedua di bank sentral yang ia emban sejak 2019. Namanya bukan figur baru bagi pelaku pasar. Ia dikenal luas di kalangan perbankan, pasar modal, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK, yakni forum koordinasi antara BI, Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Rekam Jejak yang Dinilai Menjaga Kontinuitas Kebijakan
Sebelum berkarier di bank sentral, Destry memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan, termasuk sebagai ekonom dan pernah mengemban posisi direksi di salah satu bank pelat merah terbesar. Di BI, ia membidangi antara lain pengelolaan moneter, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar keuangan. Salah satu capaian yang kerap dikaitkan dengan kepemimpinannya adalah percepatan digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS, yang per akhir 2024 telah menjangkau lebih dari 30 juta pedagang, mayoritas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Di satu sisi, penunjukan figur internal dipandang sebagai sinyal kontinuitas kebijakan moneter. Pasar pada umumnya menyukai kepastian, dan pengalaman Destry selama lebih dari lima tahun di jajaran Dewan Gubernur dinilai meminimalkan risiko transisi kepemimpinan. Di sisi lain, sebagian pengamat mengingatkan bahwa kontinuitas saja tidak cukup. Gubernur BI baru akan menghadapi ujian kredibilitas di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi tinggi yang diusung pemerintahan baru.
Respons Pasar: Penguatan Tipis dengan Nada Kehati-hatian
Sementara itu, respons pasar keuangan terhadap kabar pencalonan ini tergolong positif meski moderat. Nilai tukar rupiah bergerak menguat tipis ke kisaran 16.300 per dolar AS dari level sebelumnya di atas 16.400, sementara Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berfluktuasi di sekitar level 6.600 hingga 6.700. Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun, yang menjadi acuan biaya pinjaman jangka panjang, relatif stabil di kisaran 7 persen. Stabilitas imbal hasil ini mengindikasikan investor belum membebankan premi risiko tambahan terkait pergantian pimpinan bank sentral.
Pasar memberikan respons positif karena calon yang diusulkan berasal dari internal bank sentral dengan rekam jejak yang teruji. Namun, pasar akan terus mencermati arah kebijakan suku bunga dan independensi bank sentral dalam beberapa bulan ke depan, ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.
Di satu sisi, sentimen pasar ditopang ekspektasi bahwa kepemimpinan baru akan menjaga kredibilitas kebijakan moneter, terutama dalam mengendalikan inflasi dalam kisaran target 2,5 plus minus 1 persen. Di sisi lain, ada kekhawatiran tersirat mengenai potensi tekanan terhadap independensi bank sentral, mengingat pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen yang membutuhkan dukungan likuiditas dan suku bunga rendah. Bagi investor asing, independensi bank sentral merupakan salah satu variabel penting dalam menilai risiko suatu negara sebelum menempatkan dana di portofolio mereka.
Tantangan Moneter: Dari Capital Outflow hingga Koordinasi Fiskal
Ke depan, gubernur baru akan menghadapi sejumlah tantangan berat. Pertama, risiko capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik akibat arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang belum pasti. Sepanjang 2024, pasar obligasi dan saham Indonesia beberapa kali mengalami tekanan jual asing ketika ekspektasi penurunan suku bunga The Fed mundur dari proyeksi awal. Kedua, menjaga stabilitas rupiah yang sempat menyentuh level terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir. Ketiga, mengoordinasikan kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal pemerintah baru tanpa mengorbankan kredibilitas bank sentral di mata investor global.
Dari sisi valuasi, rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio IHSG saat ini berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Sebagian analis membacanya sebagai valuasi yang murah dan menarik, namun sebagian lain menilainya sebagai cerminan kehati-hatian investor terhadap prospek laba korporasi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 sendiri berada di kisaran 5,0 hingga 5,2 persen menurut konsensus lembaga internasional, masih berjarak dari target resmi pemerintah.
Catatan bagi Pelaku Pasar
Secara keseluruhan, pencalonan Destry Damayanti memberikan kepastian sementara bagi pasar. Namun, arah kebijakan sesungguhnya baru akan terlihat setelah proses uji kelayakan di DPR dan Rapat Dewan Gubernur pertama di bawah kepemimpinan baru. Pelaku pasar sebaiknya mencermati pernyataan resmi mengenai arah suku bunga, strategi stabilisasi rupiah, dan sikap terhadap koordinasi fiskal-moneter, ketimbang berspekulasi pada sentimen jangka pendek. Fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid menjadi modal utama, namun konsistensi kebijakanlah yang pada akhirnya menentukan kepercayaan pasar dalam jangka panjang.
Comments (0)