Prabowo Usulkan Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, inflasi Indonesia tercatat sebesar 1,03% year-on-year, berada di bawah kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5% plus minus 1%. Di te...

Aug 11, 2026 - 15:56
0 0
Prabowo Usulkan Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, inflasi Indonesia tercatat sebesar 1,03% year-on-year, berada di bawah kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5% plus minus 1%. Di tengah kondisi tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada satu nama: Destry Damayanti, yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai calon tunggal Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Mei 2025.

Surat presiden berisi usulan itu telah diterima pimpinan DPR dan akan ditindaklanjuti melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) oleh Komisi XI. Jika disetujui, Destry akan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia.

Rekam Jejak: Dari Ekonom Bank hingga Deputi Gubernur Senior

Destry bukan wajah baru di Gedung Bank Indonesia. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior sejak Agustus 2019, posisi tertinggi kedua di bank sentral. Sebelumnya, ia dikenal sebagai ekonom di sektor perbankan dan sempat menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2015-2019.

Pengalamannya tersebut dinilai menjadi modal penting. Selama menjabat Deputi Gubernur Senior, ia terlibat langsung dalam perumusan kebijakan moneter, termasuk ketika BI menaikkan suku bunga acuan secara agresif pada 2022-2023 untuk meredam inflasi yang sempat menembus 5,95% year-on-year pada September 2022, serta saat bank sentral memangkas BI Rate ke level 5,75% pada Januari 2025.

Di Satu Sisi Kontinuitas, di Sisi Lain Ujian Independensi

Di satu sisi, pengangkatan kandidat internal dipandang positif oleh sebagian pelaku pasar karena menjamin kontinuitas kebijakan. Transisi kepemimpinan yang mulus umumnya meredam volatilitas, yakni gejala naik-turunnya nilai tukar dan harga aset secara cepat, karena investor tidak perlu menebak arah baru kebijakan moneter. Fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga, dengan pertumbuhan ekonomi 2024 sebesar 5,03% dan cadangan devisa sekitar US$157 miliar per Maret 2025, menjadi bekal yang memadai bagi kepemimpinan baru.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menyoroti dua hal. Pertama, pengusulan calon tunggal mempersempit ruang DPR untuk membandingkan alternatif kepemimpinan. Kedua, kedekatan gubernur baru dengan pemerintah kerap memunculkan pertanyaan mengenai independensi bank sentral, yaitu kebebasan BI menetapkan suku bunga tanpa tekanan politik. Isu ini sensitif di tengah kebutuhan pemerintah akan pembiayaan program-program prioritas yang menuntut dukungan likuiditas, atau ketersediaan dana di sistem keuangan.

"Pasar pada dasarnya menyukai kepastian. Namun, kredibilitas bank sentral di mata investor asing akan diuji dari seberapa independen kebijakan suku bunga ditetapkan, terutama ketika tekanan capital outflow meningkat," demikian benang merah sejumlah catatan riset ekonom pasar modal menyikapi usulan tersebut.

Tantangan Global: Rupiah dan Arus Modal Asing

Gubernur BI baru akan langsung menghadapi ujian berat. Nilai tukar rupiah mengalami penurunan hingga sempat menyentuh level Rp16.900 per dolar AS pada awal April 2025, mendekati rekor terlemah sepanjang masa. Valuasi rupiah tertekan kebijakan tarif Amerika Serikat dan sikap hati-hati bank sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%-4,50%.

Kondisi itu memicu capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari portofolio surat berharga negara dan saham domestik. Tren ini mempersempit ruang BI untuk menurunkan suku bunga demi mendorong penyaluran kredit. Gubernur baru harus menyeimbangkan dua tujuan yang kerap berseberangan: menjaga stabilitas rupiah atau menopang pertumbuhan ekonomi.

Proyeksi Pasar Menjelang Fit and Proper Test

Mayoritas analis memproyeksikan proses uji kelayakan berjalan lancar mengingat rekam jejak Destry yang panjang di bank sentral. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar obligasi diperkirakan merespons netral hingga positif dalam jangka pendek, selama komunikasi kebijakan moneter tetap konsisten dan rasio inflasi terhadap target terjaga.

Meski demikian, sentimen pasar dalam enam bulan pertama kepemimpinan baru akan sangat ditentukan oleh tiga variabel: arah suku bunga The Fed, realisasi defisit fiskal, dan kemampuan BI menjaga inflasi tetap dalam target. Bagi pembaca awam, satu hal yang patut dicermati adalah bahwa keputusan suku bunga BI memengaruhi bunga kredit perbankan, mulai dari KPR hingga pinjaman usaha kecil. Kepemimpinan baru di bank sentral, pada akhirnya, akan terasa dampaknya hingga ke dompet rumah tangga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User