Prabowo Tunda Pengajuan Calon Gubernur BI, Pasar Menanti Sosok Pengganti
Jakarta, Beritadua – Proses suksesi di pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI) memasuki fase krusial setelah Perry Warjiyo menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Gubernur BI. Hingga saat ini, Presiden...
Jakarta, Beritadua – Proses suksesi di pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI) memasuki fase krusial setelah Perry Warjiyo menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Gubernur BI. Hingga saat ini, Presiden Prabowo Subianto belum mengajukan nama calon pengganti ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Keterlambatan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, sehingga kepastian kepemimpinan di bank sentral menjadi sangat dinantikan.
Kekosongan di Pucuk Pimpinan: Antara Kehati-hatian dan Risiko Tata Kelola
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai bahwa penundaan ini bisa dibaca dalam dua perspektif. Di satu sisi, pemerintah mungkin sedang melakukan penjaringan yang sangat selektif untuk mendapatkan figur yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki chemistry kuat dengan Presiden Prabowo. Stabilitas moneter tidak bisa dikompromikan, dan Gubernur BI harus mampu menjaga independensi bank sentral sambil tetap selaras dengan program strategis pemerintah.
Di sisi lain, kekosongan yang berlarut-larut berpotensi menimbulkan noise di pasar keuangan. "Investor institusi, terutama asing, sangat mencermati proses transisi di bank sentral. Semakin lama ketidakjelasan, semakin besar risiko capital outflow karena persepsi risiko politik yang meningkat," ujar Bhima. Data historis menunjukkan bahwa pada periode transisi kepemimpinan BI sebelumnya, volatilitas indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah cenderung meningkat rata-rata 3,7% dalam rentang satu bulan sebelum pengumuman resmi.
Dampak Psikologis ke Pasar Keuangan
Berdasarkan data Bloomberg per 2 Maret 2025, yield obligasi pemerintah seri benchmark 10 tahun naik tipis sebesar 3 basis poin ke level 6,72% setelah kabar pengunduran diri Perry merebak. Sementara itu, rupiah sempat terdepresiasi ke kisaran Rp15.680 per dolar AS sebelum kembali menguat tipis setelah Bank Indonesia melakukan intervensi. Analis pasar modal dari Samuel Sekuritas, Lionel Prayadi, menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini mengapresiasi kejelasan arah kebijakan lebih dari segalanya. "Siapa pun nama yang akan diajukan, pasar hanya ingin tahu segera. Ketidakpastian adalah musuh utama pasar modal," tegasnya.
Namun, tidak semua pihak pesimistis. Beberapa fund manager justru melihat ini sebagai "phase of opportunity" untuk melakukan akumulasi aset. "Jika penundaan ini menghasilkan calon yang kredibel, pasar akan merespons positif. Kita pernah melihat rally hingga 2,5% di IHSG pada masa pengumuman calon Gubernur BI yang dianggap pro-market," tambah Lionel. Saat ini, valuasi IHSG yang berada di price-to-earnings ratio (PER) 13,2 kali, sedikit di bawah rata-rata historis 5 tahun sebesar 14,5 kali, dinilai masih menarik bagi investor dengan horizon jangka panjang.
Peta Politik dan Figur-Figur Potensial
Di lingkaran Istana, beredar beberapa nama yang disebut-sebut masuk dalam radar Presiden Prabowo. Pertama, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI saat ini, yang dianggap memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam tentang operasional moneter. Kedua, Dody Budi Waluyo, mantan Deputi Gubernur BI yang dikenal memiliki hubungan baik dengan kementerian keuangan. Ada pula spekulasi mengenai calon dari kalangan eksternal, seperti ekonom senior yang pernah berkarier di lembaga keuangan internasional.
Pro dan kontra terhadap figur internal BI semakin mengemuka. Pro: kandidat internal memahami DNA institusi, sehingga proses transisi bisa lebih mulus dan risiko shock therapy dapat diminimalkan. Kontra: beberapa kalangan menginginkan penyegaran total untuk mendorong inovasi kebijakan, terutama dalam menghadapi era digitalisasi sistem pembayaran dan mata uang digital bank sentral (CBDC) yang sedang digodok. Di luar itu, faktor koalisi politik juga tidak bisa diabaikan mengingat posisi DPR sebagai pihak yang akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan.
Pengajuan nama calon Gubernur BI idealnya dilakukan setidaknya tiga bulan sebelum masa jabatan berakhir, sesuai praktik good governance yang direkomendasikan IMF. Dengan mundurnya Perry Warjiyo yang lebih cepat dari jadwal semula (seharusnya berakhir Mei 2028), maka percepatan proses menjadi semakin urgen. Namun, Presiden Prabowo tampaknya mengambil jeda untuk memastikan bahwa calon yang diajukan benar-benar mampu menjawab tantangan makroekonomi: inflasi yang masih perlu dijaga di kisaran target 2,5±1%, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan menembus 6,2% di tahun 2026, serta stabilitas eksternal di tengah kebijakan suku bunga global yang masih divergen.
Dengan fundamental ekonomi nasional yang sejatinya cukup solid—cadangan devisa per Februari 2025 tercatat USD 146,3 miliar, dan rasio utang luar negeri terhadap PDB yang terkendali di bawah 30%—banyak pihak berharap Presiden segera mengumumkan pilihannya. Pasar, pelaku usaha, dan masyarakat luas menanti siapa sosok yang akan membawa Bank Indonesia melalui era baru yang menantang.
Comments (0)