Prabowo Bertemu Eks PM Thailand Thaksin Bersama Danantara Bahas Investasi

Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, dan jajaran pimpinan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, pada Kami...

Prabowo Bertemu Eks PM Thailand Thaksin Bersama Danantara Bahas Investasi

Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, dan jajaran pimpinan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, pada Kamis (9/7) di Jakarta. Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu disebut menjadi sinyal pemanasan hubungan ekonomi dua negara, terutama di tengah upaya Indonesia memperkuat posisi sebagai hub investasi di Asia Tenggara.

Pantauan Beritadua, Thaksin yang hadir didampingi sejumlah penasihat bisnis, langsung disambut oleh Direktur Utama Danantara dan beberapa menteri terkait. Pihak Danantara sendiri membenarkan adanya diskusi mendalam tentang sejumlah proyek prioritas, meski belum bersedia memerinci isi perbincangan. "Pertemuan ini bersifat eksploratif dan penjajakan, namun arahnya jelas ke sektor riil dan infrastruktur digital," ujar sumber internal Danantara kepada Beritadua.

Kehadiran Thaksin, yang sejak beberapa tahun terakhir banyak berperan sebagai konsultan investasi global, menyedot perhatian pelaku pasar. Nilai investasi Thailand di Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat naik 17,3 persen year-on-year menjadi 2,1 miliar dolar AS, terutama di sektor peternakan terintegrasi, properti, dan energi terbarukan. Angka ini memperkuat posisi Thailand sebagai investor asing terbesar kelima di Indonesia, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Dari Ruang Pertemuan ke Sinyal Kapital

Meskipun tidak ada pernyataan resmi usai pertemuan, sejumlah pejabat yang enggan dikutip menuturkan, Prabowo dan Thaksin membahas kemungkinan pelibatan Danantara sebagai mitra strategis di proyek-proyek lintas batas. Salah satu yang disebut adalah pengembangan kawasan ekonomi khusus di Sumatera Utara, yang rencananya melibatkan perusahaan-perusahaan Thailand di bidang pengolahan hasil laut dan logistik.

Di satu sisi, kolaborasi semacam ini bisa mempercepat realisasi investasi yang selama ini terhambat birokrasi. Dengan kehadiran Danantara yang memiliki fleksibilitas pendanaan dan jaringan, Thailand mendapat mitra pemerintah yang lebih lincah. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran dari pengusaha lokal bahwa dominasi korporasi raksasa Thailand seperti Charoen Pokphand akan menekan pemain nasional. "Kami berharap pemerintah menetapkan kemitraan yang adil, jangan sampai lahan dan pasar diambil alih begitu saja," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia, Rizal Ahmad.

Pasar keuangan pun merespons positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,87 persen ke level 7.312 pada sesi perdagangan setelah berita pertemuan merebak. Saham sektor infrastruktur dan produsen pakan ternak mengalami kenaikan tertinggi, mencerminkan ekspektasi aliran dana segar dari Bangkok.

Proyek Baterai dan Kendaraan Listrik

Sumber Beritadua di lingkungan Kementerian Investasi mengungkapkan, salah satu poin hangat adalah dorongan Thailand untuk mempercepat rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Negeri Gajah Putih disebut ingin terlibat dalam investasi smelter nikel kelas dua yang menghasilkan prekursor katoda, komponen kunci baterai lithium-ion. Danantara diharapkan menjadi co-investor lewat skema blended finance dengan investor multilateral.

Sejak awal 2026, Indonesia memang telah mengamankan komitmen lebih dari 28 miliar dolar AS di sektor EV. Thailand, yang tengah bertransformasi menjadi pusat produksi mobil listrik di ASEAN, memandang Indonesia sebagai sumber mineral yang tak tergantikan. "Kalau kolaborasi ini berhasil, kita bisa menyaksikan sumbu pertumbuhan baru di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah," ujar analis energi Edwin Kusuma dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).

Namun, proyek ini juga menyisakan tanda tanya soal kesiapan infrastruktur pendukung dan dampak lingkungan. LSM lingkungan telah menyuarakan penolakan terhadap perluasan smelter yang dikhawatirkan merusak ekosistem pesisir. Pemerintah, dalam hal ini kementerian teknis, harus berhitung cermat antara manfaat ekonomi dan biaya ekologis.

Respon Pasar dan Tantangan Likuiditas

Dari sisi moneter, potensi masuknya modal dari Thailand lewat Danantara bisa menjadi penengah di tengah risiko capital outflow yang sempat menekan rupiah. Bank Indonesia mencatat aliran keluar modal asing mencapai 3,4 miliar dolar AS pada triwulan II-2026, sehingga kolaborasi bilateral menjadi angin segar. Namun, analis senior obligasi, Mirae Asset Sekuritas, mengingatkan agar investor tidak terlalu bergembira. "Kita perlu lihat seberapa konkret dan cepat realisasinya. Seringkali pertemuan tingkat tinggi berhenti di seremoni," ucapnya.

Peran Danantara sendiri menjadi sorotan. Sejak dibentuk pada 2024 sebagai dana pengelola investasi negara, lembaga ini mengelola aset lebih dari 100 miliar dolar AS dari suntikan BUMN dan kas negara. Dalam roadster terbarunya, Danantara menargetkan porsi pendanaan ke proyek internasional sebesar 40 persen dari total portofolio pada 2028. Pertemuan dengan Thaksin dinilai sebagai langkah pembuka untuk menjalin hubungan dengan taipan dan dana pensiun dari Thailand.

Di sisi lain, skeptisisme tetap muncul. Ekonom Universitas Indonesia, Budi Santoso, mengingatkan bahwa valuasi proyek investasi yang melibatkan dana publik harus transparan. "Danantara harus memastikan tata kelola yang baik, jangan sampai investasi ke luar negeri justru mengurangi pendanaan untuk proyek dalam negeri yang juga mendesak," katanya.

Sentimen serupa disuarakan oleh DPR yang meminta pemerintah tidak terburu-buru. Komisi XI akan memanggil jajaran Danantara untuk mempertanggungjawabkan rencana kerjasama ini.

Dengan berbagai tarik-menarik kepentingan, pertemuan Prabowo-Thaksin-Danantara menandai babak baru diplomasi ekonomi Indonesia. Apakah komitmen akan segera berwujud kontrak, atau hanya sekadar diskusi hangat yang mendingin? Jawabannya akan terlihat dalam 90 hari ke depan, di mana delegasi bisnis Thailand dijadwalkan kembali ke Jakarta untuk negosiasi lanjutan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User