Prabowo Ajukan Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir April 2025, BI Rate bertahan di level 5,75%, inflasi berada di kisaran 1,95% year-on-year, dan cadangan devisa tercatat US$152,5 miliar. Di tengah fundamental...
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir April 2025, BI Rate bertahan di level 5,75%, inflasi berada di kisaran 1,95% year-on-year, dan cadangan devisa tercatat US$152,5 miliar. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terkendali itu, Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI kepada DPR. Pengajuan satu nama tersebut menempatkan proses selanjutnya sepenuhnya di tangan Komisi XI DPR melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), yakni penilaian terbuka terhadap visi, kompetensi, dan integritas calon sebelum pelantikan.
Penunjukan calon tunggal bukan tanpa preseden, tetapi tetap menyedot perhatian pelaku pasar karena Gubernur BI memegang mandat menjaga stabilitas nilai rupiah sekaligus mengarahkan kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global. Rupiah sendiri bergerak di kisaran Rp16.400 per dolar AS pada pertengahan Mei 2025, setelah sempat menembus level terlemah di atas Rp16.800 pada April 2025 akibat sentimen perang dagang.
Rekam Jejak: Tiga Dekade di Sektor Keuangan
Destry Damayanti merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan gelar master dari Cornell University, Amerika Serikat. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak Agustus 2019, posisi yang membuatnya mengoordinasikan tiga bidang strategis: kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Sebelum masuk bank sentral, ia menghabiskan lebih dari dua dekade berkarier di industri perbankan dan riset ekonomi.
Selama menjabat, Destry terlibat dalam sejumlah episode penting: penurunan BI Rate ke 3,5% pada era pandemi 2020-2021, siklus pengetatan 275 basis poin pada 2022-2024 untuk meredam inflasi yang sempat menyentuh 5,95% year-on-year pada September 2022, hingga percepatan digitalisasi pembayaran melalui QRIS yang kini melayani puluhan juta pedagang. Pengalaman lintas siklus ini menjadi modal utama dalam penilaian DPR.
Di Satu Sisi: Kontinuitas dan Kredibilitas Kebijakan
Di satu sisi, pemilihan kandidat internal menjamin kontinuitas kebijakan. Kerangka inflation targeting — strategi bank sentral mematok sasaran inflasi, untuk 2025 sebesar 2,5%±1% — diproyeksikan berjalan tanpa guncangan transisi. Bagi investor portofolio, sosok yang sudah dikenal mengurangi ketidakpastian, faktor penting ketika arus modal asing ke pasar obligasi domestik tengah fluktuatif.
'Kandidat internal dengan rekam jejak panjang biasanya diterima pasar lebih tenang karena tidak ada kejutan arah kebijakan. Ujian sesungguhnya adalah konsistensi komunikasi saat menghadapi tekanan nilai tukar,' ujar seorang ekonom senior lembaga riset keuangan di Jakarta.
Data mendukung argumen ini: inflasi konsisten berada dalam sasaran sejak pertengahan 2023, dan likuiditas perbankan terjaga dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) di atas 25%. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 memang mengalami penurunan ke 4,87% year-on-year dari 5,02% pada kuartal sebelumnya, tetapi masih sejalan dengan proyeksi BI di kisaran 4,7-5,5% untuk setahun penuh.
Di Sisi Lain: Independensi dan Keterbatasan Pilihan
Di sisi lain, pengajuan calon tunggal memangkas ruang DPR untuk membandingkan visi antar-kandidat. Sejumlah pengamat menilai proses dengan beberapa nama akan memperkuat legitimasi kepemimpinan bank sentral, terutama karena independensi BI menjadi sorotan sejak era burden sharing 2020-2022, ketika bank sentral membeli surat utang negara di pasar perdana untuk membiayai defisit fiskal pandemi.
Kekhawatiran itu relevan mengingat ambisi fiskal pemerintahan baru — termasuk program prioritas bernilai ratusan triliun rupiah — menuntut koordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal. Kubu yang kritis berargumen bahwa pasar akan menguji sejauh mana Gubernur BI baru mampu menjaga jarak dari kepentingan politik anggaran. Sentimen pasar terhadap risiko fiscal dominance, yakni kondisi ketika kebijakan moneter tersandera kebutuhan pembiayaan pemerintah, dapat memicu capital outflow jika kredibilitas bank sentral dipertanyakan.
Respons Pasar dan Proyeksi ke Depan
Sejauh ini respons pasar cenderung netral. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di atas level 7.000 pada pertengahan Mei 2025, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara bertenor 10 tahun stabil di sekitar 6,9%. Valuasi pasar obligasi menunjukkan investor belum membebankan premi risiko tambahan terkait transisi kepemimpinan BI.
Ke depan, proyeksi pasar akan bergantung pada tiga hal: hasil fit and proper test di DPR, arah BI Rate pada sisa 2025, dan kemampuan bank sentral menjaga rupiah di tengah tren penguatan dolar AS. Di satu sisi, ruang pelonggaran moneter terbuka mengingat inflasi rendah dan pertumbuhan yang melambat; di sisi lain, setiap pemangkasan bunga harus menimbang risiko capital outflow dari portofolio asing. Bagi pembaca awam, intinya sederhana: siapa pun yang memimpin BI akan menentukan biaya pinjaman perbankan, nilai tabungan dalam rupiah, dan pada akhirnya daya beli masyarakat.
Comments (0)