Oct 19, 2026
Bisnis

Potret Ekonomi Keluarga Eks Pejabat di Tengah Gejolak Politik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja di sektor informal terus mengalami kenaikan year-on-year, mencapai sekitar 59,2 persen dari total ...

Potret Ekonomi Keluarga Eks Pejabat di Tengah Gejolak Politik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja di sektor informal terus mengalami kenaikan year-on-year, mencapai sekitar 59,2 persen dari total pekerja. Fenomena ini tidak hanya menyentuh kelompok berpendidikan rendah, tetapi juga menyasar kalangan yang sebelumnya berada di lingkar elite kekuasaan. Salah satu potret terbaru datang dari keluarga mantan pejabat tinggi negara yang beralih ke sektor usaha mikro demi mempertahankan likuiditas rumah tangga.

Istri seorang mantan Menteri Keuangan yang baru saja dicopot dari jabatannya diketahui menggeluti usaha berjualan nasi bungkus dengan harga yang sangat terjangkau. Langkah ini diambil bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan untuk membantu mahasiswa yang tengah mengalami tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup dan keterbatasan akses beasiswa.

Di Satu Sisi: Strategi Bertahan Hidup dan Solidaritas Sosial

Di satu sisi, langkah tersebut dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi ekonomi yang rasional. Ketika pendapatan utama rumah tangga hilang atau berkurang drastis pasca pergantian pejabat, maka diversifikasi sumber penghasilan menjadi keniscayaan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indeks Literasi Keuangan masyarakat Indonesia baru menyentuh angka 65,43 persen pada 2023, artinya masih banyak rumah tangga yang belum memiliki bantalan finansial memadai saat terjadi guncangan pendapatan.

Menurunnya posisi politik seorang pejabat tidak secara otomatis diikuti oleh penurunan beban tanggung jawab sosial. Justru, dalam konteks ini, kegiatan berjualan nasi bungkus dengan harga murah dapat dipandang sebagai wujud modal sosial yang tetap dijaga. Harga yang rendah menjadi instrumen redistribusi tidak langsung bagi mahasiswa yang sedang berjuang secara finansial.

Dari kacamata makro, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan menyumbang 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, masuknya keluarga eks pejabat ke sektor ini, meski dalam skala kecil, sejalan dengan tren umum perekonomian yang kian mengandalkan sektor informal sebagai penopang.

Di Sisi Lain: Cermin Kerentanan Ekonomi Kelas Menengah Atas

Di sisi lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang struktur ekonomi nasional. Jika keluarga mantan pejabat tinggi—yang secara teori memiliki akses terhadap tabungan, aset, dan jaringan—saja harus turun ke sektor informal, bagaimana dengan rumah tangga biasa yang tidak memiliki portofolio aset memadai? Data Bank Indonesia menunjukkan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan berada di kisaran 2,2 persen, namun untuk segmen kredit konsumsi angka tersebut lebih tinggi, mencerminkan tekanan pada daya beli masyarakat.

Capital outflow dari pasar keuangan domestik juga menjadi sentimen pasar yang perlu dicermati. Ketika ketidakpastian politik meningkat, investor cenderung menahan diri, yang berimbas pada melemahnya valuasi aset dan menyusutnya likuiditas di sektor riil. Dalam konteks inilah, kisah nasi bungkus tersebut bisa dibaca bukan hanya sebagai narasi personal, tetapi juga sebagai indikator tren yang lebih luas: mobilitas sosial vertikal ke bawah mulai menjadi kenormalan baru.

"Kerentanan ekonomi tidak lagi memandang status sosial. Ketika fundamental makro tidak stabil, dampaknya merambat ke seluruh lapisan," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah diskusi publik.

Proyeksi ke Depan: Antara Ketahanan dan Ketimpangan

Proyeksi ke depan bergantung pada sejumlah variabel. Jika inflasi terkendali di kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 persen, dan pertumbuhan ekonomi bertahan di atas 5 persen, maka tekanan terhadap rumah tangga dapat mereda. Namun, bila sentimen pasar memburuk dan capital outflow berlanjut, sektor informal akan semakin padat oleh pekerja yang sebelumnya berada di sektor formal.

Dalam jangka panjang, diperlukan penguatan jaring pengaman sosial yang tidak hanya menyasar kelompok miskin, tetapi juga kelas menengah rentan. Rasio tabungan terhadap PDB yang masih di bawah 30 persen menunjukkan bahwa bantalan finansial rumah tangga secara agregat belum kokoh. Tanpa perbaikan struktural, kisah nasi bungkus bisa menjadi metafora yang mengganggu tentang rapuhnya fondasi ekonomi rumah tangga di negeri ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User