PIS Sukses Tingkatkan Laba 2,4% di 2025, Pendapatan Lampaui USD3,3 Miliar

PT Pertamina International Shipping (PIS), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di sektor transportasi dan logistik energi, mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025...

Jul 28, 2026 - 04:25
0 0
PIS Sukses Tingkatkan Laba 2,4% di 2025, Pendapatan Lampaui USD3,3 Miliar

PT Pertamina International Shipping (PIS), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di sektor transportasi dan logistik energi, mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, perusahaan berhasil mengantongi pendapatan usaha sebesar USD3.333,69 juta, atau setara lebih dari Rp50 triliun dengan kurs tahunan rata-rata. Dari capaian pendapatan tersebut, laba bersih yang diraih mencapai USD572,48 juta, yang berarti mengalami pertumbuhan 2,4% jika dibandingkan dengan realisasi laba pada periode sebelumnya yang berada di kisaran USD559 juta. Margin laba bersih terhadap pendapatan berada di level 17,2%, menandakan efisiensi operasional yang tetap terjaga di tengah beragam dinamika eksternal.

Pendorong Utama Kenaikan Laba

Di satu sisi, kenaikan laba bersih ini tidak terlepas dari strategi optimalisasi aset dan diversifikasi portofolio kapal yang dilakukan PIS. Perusahaan yang mengelola lebih dari 100 armada kapal—mulai dari kapal tanker minyak mentah, produk olahan, LPG, hingga kapal pengangkut LNG—berhasil meningkatkan utilisasi dan perolehan kontrak jangka panjang dengan mitra domestik maupun internasional. Diversifikasi rute pelayaran ke pasar-pasar non-tradisional, seperti Afrika dan Asia Selatan, turut memberikan kontribusi positif terhadap top line.

Selain itu, tren permintaan energi global yang masih tumbuh, khususnya untuk komoditas LNG dan LPG, menjadi katalis bagi pendapatan segmen gas shipping. PIS tercatat menambah beberapa unit kapal pengangkut gas berkapasitas besar yang langsung terserap oleh kontrak multi-tahun dengan kenaikan tarif harian yang kompetitif. Pendapatan berulang dari kontrak semacam ini memberikan visibilitas dan stabilitas arus kas, sehingga perusahaan dapat lebih mudah merencanakan ekspansi ke depan.

Faktor internal berupa digitalisasi proses operasi dan efisiensi biaya perbaikan (docking) juga berkontribusi menjaga struktur biaya. Implementasi sistem manajemen pelayaran berbasis data real-time memungkinkan penghematan konsumsi bahan bakar hingga 3–5% per kapal per voyage, yang secara agregat berdampak signifikan terhadap beban pokok pendapatan.

Tantangan Eksternal dan Respons Strategis

Di sisi lain, tahun 2025 bukanlah tahun yang mudah bagi industri pelayaran global. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Laut Hitam sempat menyebabkan fluktuasi tajam pada rute-rute utama pengangkutan minyak dan gas, sehingga menambah biaya asuransi dan keamanan. Tarif angkut tanker spot juga mengalami volatilitas tinggi, meskipun rata-rata tahunan masih bertahan di atas level historis. Namun, PIS mampu memitigasi risiko ini dengan komposisi kontrak jangka panjang yang cukup dominan dalam portofolionya, yaitu sekitar 65–70% dari total pendapatan.

Tantangan lain datang dari sisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meski pendapatan mayoritas dalam denominasi dolar, sebagian beban operasional seperti gaji awak kapal, perawatan di dalam negeri, dan beban pajak menggunakan mata uang rupiah. Fluktuasi kurs sempat menekan biaya dalam ekuitas dolar, namun strategi lindung nilai (hedging) sederhana melalui matching currency antara pendapatan dan utang dalam dolar membantu menjaga stabilitas laba bersih.

“PIS menunjukkan ketangguhan yang patut diapresiasi. Di tengah kenaikan suku bunga global yang menekan biaya pendanaan, perusahaan masih bisa membukukan kenaikan laba. Ini buah dari transformasi armada dan pengelolaan likuiditas yang disiplin,” ujar Indra Setiawan, pengamat ekonomi kelautan dari Universitas Indonesia.

Selain itu, kenaikan harga suku cadang dan keterbatasan galangan kapal global pasca-pandemi sempat memperpanjang waktu tunggu perawatan armada. PIS merespons dengan membangun kemitraan strategis dengan galangan dalam negeri serta memperbanyak stok komponen kritis, sehingga downtime operasional bisa ditekan seminimal mungkin.

Prospek dan Arah Kebijakan ke Depan

Melihat ke depan, arah kebijakan PIS akan dipengaruhi oleh agenda transisi energi global dan target pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Perusahaan berencana menambah kapal-kapal berbahan bakar ramah lingkungan, termasuk yang siap mengangkut amonia dan hidrogen, sebagai antisipasi atas permintaan pasar yang akan bergeser. Investasi pada teknologi dual-fuel engine juga telah dimasukkan dalam rencana belanja modal beberapa tahun mendatang.

Dana hasil laba yang dicetak tahun ini, menurut sumber internal, akan dialokasikan sebagian untuk memperkuat struktur permodalan dan sebagian lagi untuk memperluas jaringan bisnis internasional, termasuk membuka kantor perwakilan di hub-hub logistik baru. Kombinasi antara pendekatan konservatif dalam pengelolaan utang dan ekspansi selektif di segmen bernilai tambah tinggi ini diyakini dapat menjaga tren pertumbuhan laba pada tahun-tahun mendatang, meskipun risiko geopolitik dan volatilitas pasar komoditas masih akan mewarnai industri.

Dengan capaian ini, PIS menegaskan perannya tidak sekadar sebagai pengangkut energi nasional, tetapi juga sebagai pemain global yang mampu bersaing dan bertumbuh di tengah ketidakpastian. Konsistensi kinerja positif ini juga menjadi modal penting bagi upaya perusahaan dalam mengakses pendanaan global yang lebih kompetitif, termasuk melalui instrumen obligasi hijau atau pinjaman sindikasi berbiaya rendah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User