PGE Bidik Tambahan 1 GW Panas Bumi dan Puncaki Peringkat Global 2028
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per kuartal kedua 2025, potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 23,9 gigawatt (GW) — sekitar 40 persen dari potensi dunia — n...
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per kuartal kedua 2025, potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 23,9 gigawatt (GW) — sekitar 40 persen dari potensi dunia — namun kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) baru berada di kisaran 2,4 GW. Di tengah kesenjangan itu, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memasang target penambahan kapasitas 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033, sekaligus mencanangkan diri sebagai perusahaan panas bumi dengan kapasitas terbesar di dunia dalam dua tahun ke depan.
Peta Jalan Ekspansi: Dari 670 MW Menuju 1,8 GW
Target tersebut berarti kapasitas kelola PGE yang saat ini sekitar 670 MW harus berlipat lebih dari dua kali lipat dalam delapan tahun. Jika dihitung rata-rata, perusahaan perlu menambah kapasitas lebih dari 220 MW per tahun hingga 2033 — tren pertumbuhan yang jauh melampaui rata-rata industri panas bumi global dalam satu dekade terakhir. Pencapaian 1 GW pada 2028 akan menempatkan PGE di posisi teratas daftar pengembang panas bumi dunia, mengungguli sejumlah pemain global yang selama ini memimpin industri.
Proyek-proyek yang menjadi tulang punggung target itu antara lain pengembangan lapangan yang sudah beroperasi melalui skema ekspansi, kerja sama dengan mitra internasional, serta wilayah kerja baru yang sedang dalam tahap eksplorasi. Kombinasi portofolio ini menjadi kunci karena setiap proyek memiliki profil risiko dan jadwal yang berbeda.
Di Satu Sisi: Fundamental yang Mendukung
Optimisme PGE bukan tanpa dasar. Permintaan listrik domestik terus tumbuh seiring ekspansi ekonomi dan industrialisasi, sementara pemerintah mendorong percepatan bauran energi baru terbarukan menuju target net zero emission 2060. Berbeda dengan tenaga surya dan angin yang bergantung cuaca, panas bumi menawarkan pasokan beban dasar (base load) dengan faktor kapasitas tinggi, sehingga nilainya bagi sistem kelistrikan sulit digantikan. Dari sisi regulasi, skema harga jual listrik yang lebih fleksibel dan insentif fiskal untuk energi terbarukan juga menjadi angin segar bagi pengembang.
Dukungan pendanaan turut menguat. Masuknya dana dari lembaga multilateral seperti World Bank dan Asian Development Bank, ditambah peran sovereign wealth fund nasional, berpotensi menekan biaya modal proyek. Dengan kata lain, likuiditas untuk proyek hijau saat ini justru relatif melimpah dibanding dekade sebelumnya.
Di Sisi Lain: Biaya Modal dan Risiko Eksplorasi
Namun, tantangan investasi yang disebut perusahaan tidak bisa dianggap enteng. PLTP termasuk pembangkit dengan biaya modal tertinggi di antara energi terbarukan. Satu sumur eksplorasi bisa menelan biaya USD 5–15 juta, dan tidak semua sumur menghasilkan uap yang layak secara komersial. Secara keseluruhan, kebutuhan investasi untuk tambahan 1 GW diperkirakan mencapai USD 2,5–4 miliar — angka yang harus dibiayai di tengah suku bunga global yang masih relatif tinggi.
Pengamat energi menilai tahap eksplorasi adalah titik paling rapuh proyek panas bumi. Kegagalan pengeboran bisa menggerus anggaran perusahaan dan menunda jadwal secara signifikan, sehingga disiplin seleksi wilayah kerja menjadi penentu utama.
Belum lagi tekanan makro. Ketika sentimen pasar global memburuk, arus modal asing ke negara berkembang cenderung mengalami penurunan, atau yang dikenal sebagai capital outflow. Gejolak nilai tukar rupiah dapat mengerek biaya impor peralatan dan jasa pengeboran, sementara rasio utang terhadap ekuitas proyek ikut membengkak. Semua variabel ini menambah risiko keterlambatan yang sudah menjadi penyakit kronis proyek panas bumi di dalam negeri.
Proyeksi dan Implikasi bagi Ekonomi Nasional
Jika target 1 GW pada 2028 tercapai, dampaknya terasa hingga ke neraca energi nasional. Setiap tambahan kapasitas panas bumi mengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil, menekan impor bahan bakar, dan memperbaiki neraca perdagangan energi. Secara year-on-year, kontribusi energi terbarukan dalam bauran listrik nasional akan mengalami kenaikan yang signifikan dari level saat ini yang masih di bawah 15 persen.
Dari sisi investor, prospek ini berpotensi memperbaiki valuasi PGE di bursa — sahamnya turut diperhitungkan dalam indeks saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia — mengingat pasar memberikan premi terhadap emiten dengan portofolio transisi energi yang jelas. Namun analis juga mengingatkan bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa bukti eksekusi bisa memicu koreksi harga saham ketika realisasi meleset dari proyeksi.
Pada akhirnya, ambisi PGE adalah gambaran dua sisi yang sama-sama nyata: fundamental jangka panjang sektor panas bumi Indonesia sangat menjanjikan, tetapi eksekusi tetap menjadi medan uji sebenarnya. Kecepatan penyelesaian proyek berjalan, kepastian tarif listrik, dan kemampuan mengelola portofolio di tengah kompetisi global memperebutkan modal akan menentukan apakah 2028 benar-benar menjadi tahun puncak bagi perusahaan, atau sekadar angka di atas kertas.
Comments (0)