Aug 24, 2026
Bisnis

Peternak Rakyat Keluhkan Biaya Produksi: Pakan Mahal, DOC Tinggi, Harga Ayam Tak Tentu

Industri peternakan ayam nasional kembali diwarnai oleh keluhan pelaku usaha skala kecil dan menengah. Kali ini, sorotan tajam datang dari kalangan peternak mandiri yang mengeluhkan beban biaya produk...

Peternak Rakyat Keluhkan Biaya Produksi: Pakan Mahal, DOC Tinggi, Harga Ayam Tak Tentu

Industri peternakan ayam nasional kembali diwarnai oleh keluhan pelaku usaha skala kecil dan menengah. Kali ini, sorotan tajam datang dari kalangan peternak mandiri yang mengeluhkan beban biaya produksi yang kian tidak masuk akal. Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Kusnan, menyampaikan bahwa harga pakan dan bibit ayam usia sehari (DOC) masih bertengger di level tinggi, sementara harga jual ayam hidup di pasar tidak menunjukkan kepastian yang menggembirakan. Situasi ini, menurutnya, telah menggerus margin keuntungan peternak dan mengancam keberlanjutan usaha para anggotanya di berbagai daerah.

Struktur Biaya yang Kian Menekan

Dalam usaha peternakan ayam pedaging, pakan ternak berkontribusi paling besar terhadap total biaya produksi, yakni sekitar 60 hingga 70 persen. Sementara itu, harga DOC menempati porsi signifikan kedua. Ketika kedua komponen utama ini mengalami kenaikan secara bersamaan, beban finansial yang ditanggung peternak—terutama peternak rakyat dengan modal terbatas—menjadi berlipat ganda. Kusnan tidak merinci besaran kenaikan yang dimaksud, namun ia menegaskan bahwa harga pakan dan DOC saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan melandai dalam waktu dekat.

Mahalnya pakan tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa sebagian besar bahan bakunya, seperti jagung dan bungkil kedelai, masih bergantung pada impor. Fluktuasi harga di pasar global, gangguan logistik, serta kebijakan bea masuk turut membentuk harga pakan di tingkat peternak. Di sisi lain, struktur pasar DOC yang cenderung oligopolistik dinilai membuat peternak kecil tidak memiliki daya tawar yang memadai. Akibatnya, lonjakan harga bibit sering kali tidak sejalan dengan pergerakan harga ayam di tingkat konsumen.

Harga Jual Ayam yang Labil dan Penuh Risiko

Tekanan dari sisi biaya produksi semakin runyam karena harga jual ayam hidup di tingkat peternak cenderung fluktuatif. Dalam beberapa periode, harga jual bahkan jatuh di bawah biaya produksi, memaksa peternak merugi atau memilih menunda panen. Kondisi ini dipicu oleh kelebihan pasokan di pasar, terutama ketika peternak besar menggenjot produksi tanpa diimbangi oleh pertumbuhan permintaan yang sepadan. Permindo menyoroti perlunya mekanisme stabilisasi harga yang lebih andal untuk melindungi peternak dari volatilitas yang ekstrem.

Di satu sisi, kehadiran perusahaan-perusahaan besar di sektor perunggasan telah mendorong efisiensi dan modernisasi. Namun di sisi lain, dominasi mereka menciptakan persaingan yang tidak setara bagi peternak rakyat. Kusnan dan komunitasnya merasa bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk menyeimbangkan arena bermain, salah satunya dengan memastikan transparansi distribusi DOC serta pengawasan terhadap praktik kartel yang merugikan peternak kecil.

Desakan Kebijakan yang Lebih Progresif

Atas dasar persoalan yang kompleks itu, Permindo mendesak pemerintah untuk mengambil sejumlah langkah strategis. Pertama, operasi pasar pakan bersubsidi atau pengadaan stok penyangga jagung nasional guna menekan ketergantungan pada impor. Kedua, peninjauan kembali skema bea masuk terhadap bahan baku pakan agar harga di tingkat peternak lebih terjangkau. Ketiga, penetapan harga acuan DOC yang lebih adil, dengan melibatkan asosiasi peternak dalam perumusannya. Keempat, penguatan sistem logistik dan rantai dingin untuk mengurangi disparitas harga antara wilayah sentra produksi dan konsumen.

Pemerintah sendiri sebenarnya telah memiliki sejumlah instrumen, seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan subsidi harga komoditas tertentu. Namun demikian, peternak mandiri sering kali terkendala akses dan persyaratan yang ketat. Dalam konteks inilah, suara dari Permindo menjadi penting sebagai representasi peternak rakyat yang rentan terhadap gejolak pasar. Kusnan berharap kementerian terkait, terutama Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, segera duduk bersama untuk merumuskan solusi jangka pendek dan panjang yang konkret.

Apabila kesenjangan antara biaya produksi dan harga jual terus berlangsung tanpa penanganan yang memadai, bukan tidak mungkin ribuan peternak kecil akan gulung tikar. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pelaku usaha itu sendiri, namun juga dapat memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga ayam di meja konsumen. Karena itu, respons cepat dan terukur dari pemangku kebijakan sangat dinantikan demi menjaga stabilitas sektor peternakan ayam dan melindungi hajat hidup rakyat banyak.

Industri peternakan nasional kini berada di persimpangan. Tanpa dukungan kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat, ketahanan pangan berbasis protein hewani dapat benar-benar terancam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User