Perusahaan IT Genjot Adaptasi AI di Tengah Akselerasi Perubahan Teknologi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2025, sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan 7,59 persen year-on-year, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada ...

Aug 12, 2026 - 03:33
0 0
Perusahaan IT Genjot Adaptasi AI di Tengah Akselerasi Perubahan Teknologi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2025, sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan 7,59 persen year-on-year, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 4,87 persen pada periode yang sama. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia terus mengalami kenaikan hingga menembus US$110 miliar pada 2025. Tren tersebut mendorong perusahaan teknologi informasi (IT) di Tanah Air mempercepat adaptasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yakni teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir manusia, sebagai bagian dari strategi fundamental bisnis jangka panjang.

Perubahan siklus teknologi yang dahulu berlangsung dalam hitungan tahun kini bergeser menjadi hitungan bulan, bahkan pekan. Kondisi ini memaksa korporasi memperbarui portofolio layanan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta menambah belanja modal untuk infrastruktur komputasi berbasis AI.

Akselerasi Adopsi AI di Kalangan Korporasi

Sejumlah kajian lembaga riset global memperkirakan adopsi AI berpotensi menambah hingga US$366 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030, atau setara sekitar 12 persen dari PDB saat ini. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar AI paling potensial di Asia Tenggara, sejalan dengan rasio penetrasi internet yang telah melampaui 79 persen dari total populasi 280 juta jiwa.

Dari sisi korporasi, sentimen pasar terhadap emiten teknologi yang agresif mengadopsi AI cenderung positif. Indeks saham sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia sempat mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2024, meski kemudian terkoreksi akibat tekanan global. Valuasi perusahaan yang memiliki peta jalan AI yang jelas umumnya diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio) yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri, mencerminkan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan pendapatan di masa depan.

Di Satu Sisi Peluang, di Sisi Lain Tantangan

Di satu sisi, adopsi AI menawarkan lompatan efisiensi yang nyata. Otomatisasi proses bisnis, analitik data prediktif, dan layanan pelanggan berbasis chatbot dapat menekan biaya operasional hingga 20-30 persen menurut sejumlah studi konsultan manajemen. Bagi perusahaan IT domestik, penguasaan AI membuka peluang menggarap pasar transformasi digital yang nilainya diproyeksikan tumbuh dua digit setiap tahun hingga akhir dekade.

Di sisi lain, percepatan ini menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertama, kebutuhan investasi infrastruktur AI seperti pusat data dan chip komputasi berperforma tinggi menuntut likuiditas besar, sehingga berpotensi menekan arus kas perusahaan berkapitalisasi menengah. Kedua, ketergantungan pada teknologi dan semikonduktor impor dapat memicu capital outflow, yakni aliran dana keluar negeri, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap neraca perdagangan. Ketiga, kesenjangan keterampilan digital masih lebar; Indonesia diperkirakan membutuhkan 9 juta talenta digital hingga 2030, sementara pasokan saat ini baru sekitar 400 ribu orang per tahun.

Adopsi AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi perusahaan teknologi. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan talenta dan tata kelola data yang baik, bukan sekadar besaran investasi, ujar seorang pengamat ekonomi digital dari lembaga kajian kebijakan publik di Jakarta.

Dampak terhadap Pasar Tenaga Kerja

Dari sisi ketenagakerjaan, proyeksi dua arah juga tampak jelas. Laporan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) memperkirakan otomatisasi dan AI akan menciptakan 170 juta pekerjaan baru secara global hingga 2030, namun pada saat yang sama menggeser sekitar 92 juta pekerjaan yang bersifat repetitif. Dengan tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang tercatat BPS sebesar 4,76 persen per Februari 2025, transisi ini menuntut program pelatihan ulang (reskilling) yang masif agar tenaga kerja tidak tertinggal oleh tren otomatisasi.

Proyeksi dan Kehati-hatian Pelaku Pasar

Ke depan, analis memproyeksikan tren adopsi AI akan terus menguat seiring penurunan biaya komputasi dan meluasnya infrastruktur pusat data domestik. Namun, pelaku pasar disarankan tetap cermat membaca fundamental masing-masing perusahaan, bukan sekadar mengikuti euforia tematik. OJK sendiri telah mengingatkan pentingnya tata kelola dan manajemen risiko dalam pemanfaatan AI di sektor jasa keuangan, termasuk perlindungan data konsumen.

Pada akhirnya, perusahaan IT yang mampu menyeimbangkan agresivitas inovasi dengan kehati-hatian finansial akan berada pada posisi terbaik. Bagi pembaca, memahami dua sisi dari akselerasi teknologi ini penting agar ekspektasi terhadap masa depan ekonomi digital Indonesia tetap berpijak pada data, bukan sekadar optimisme sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User