Pertumbuhan Uang Primer Melambat, Likuiditas Tetap Longgar

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2026, peredaran uang primer (M0) atau yang sering disebut base money tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang mengalami ...

Oct 08, 2026 - 19:33
0 1
Pertumbuhan Uang Primer Melambat, Likuiditas Tetap Longgar

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2026, peredaran uang primer (M0) atau yang sering disebut base money tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang mengalami penyusutan dibandingkan periode sebelumnya, menandai tren perlambatan pada salah satu indikator likuiditas paling fundamental dalam perekonomian nasional. Bagi pembaca awam, uang primer adalah uang yang diterbitkan langsung oleh bank sentral dan menjadi dasar bagi seluruh uang yang beredar di masyarakat.

Pergerakan M0 menjadi penting karena berfungsi sebagai fondasi bagi pertumbuhan uang beredar yang lebih luas, baik M1 maupun M2. Ketika pertumbuhan uang primer melambat, biasanya ada sinyal bahwa bank sentral tengah menyesuaikan arah kebijakan moneter, atau bahwa permintaan likuiditas dari perbankan dan masyarakat mengalami perubahan musiman.

Di Satu Sisi: Perlambatan Sebagai Cermin Normalisasi

Di satu sisi, penyusutan pertumbuhan uang primer dapat dibaca sebagai bagian dari normalisasi kebijakan setelah periode likuiditas melimpah. Sepanjang tahun sebelumnya, bank sentral menempatkan likuiditas dalam jumlah besar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global. Ketika tekanan eksternal mulai mereda, sebagian stimulus tersebut wajar ditarik secara bertahap agar tidak menumpuk menjadi risiko inflasi di kemudian hari.

Perlambatan ini juga konsisten dengan pola musiman. Pada pertengahan tahun, kebutuhan uang kartal biasanya meningkat karena faktor hari besar keagamaan, lalu menurun pada bulan-bulan setelahnya. Penurunan pertumbuhan M0 pasca puncak permintaan musiman merupakan hal yang lazim dan tidak selalu mencerminkan melemahnya aktivitas ekonomi riil.

"Pergerakan uang primer perlu dilihat dalam kerangka kebijakan yang lebih luas. Yang terpenting bukan angka absolutnya, melainkan apakah likuiditas masih cukup untuk mendukung intermediasi perbankan dan pertumbuhan kredit," ujar seorang ekonom moneter yang meneliti kebijakan bank sentral Indonesia.

Di Sisi Lain: Sinyal Melambatnya Dorongan Likuiditas

Di sisi lain, tren perlambatan pertumbuhan uang primer dapat menjadi peringatan dini. Jika M0 tumbuh melambat secara berkelanjutan, maka ruang bagi ekspansi uang beredar yang lebih luas—yakni M1 dan M2—juga berpotensi menyempit. Dalam skema penggandaan uang (money multiplier), base money adalah modal awal; bila fondasinya tidak bertambah, kemampuan perbankan menciptakan kredit baru pun bisa terbatas.

Beberapa indikator menambah kekhawatiran. Pertumbuhan kredit perbankan year-on-year masih positif, namun belum sepenuhnya kembali ke level prapandemi. Di saat yang sama, rasio likuiditas perbankan tergolong longgar, yang berarti dana tersedia tetapi belum sepenuhnya disalurkan ke sektor produktif. Kondisi ini menciptakan paradoks: likuiditas berlimpah di sisi perbankan, tetapi permintaan kredit dari dunia usaha belum pulih sepenuhnya.

Faktor eksternal turut memberi tekanan. Ketidakpastian arah suku bunga global, terutama kebijakan bank sentral Amerika Serikat, memengaruhi aliran modal asing. Ketika selisih imbal hasil (yield spread) menyempit, risiko capital outflow meningkat dan bank sentral cenderung lebih hati-hati dalam mengelola likuiditas domestik demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Membaca Angka Rp2.353,1 Triliun secara Proporsional

Angka Rp2.353,1 triliun perlu diletakkan dalam konteks yang tepat. Dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya, nilai tersebut masih menunjukkan level yang relatif tinggi, mencerminkan bahwa basis likuiditas perekonomian tetap besar. Yang menyusut adalah laju pertumbuhannya, bukan nilai nominalnya. Perbedaan ini krusial: perlambatan pertumbuhan berarti penambahan likuiditas baru lebih kecil daripada periode yang sama tahun lalu, bukan bahwa jumlah uang primer berkurang secara absolut.

Dari kacamata valuasi dan portofolio, perlambatan M0 biasanya memicu dua reaksi pasar yang berlawanan. Sebagian pelaku pasar melihatnya sebagai sinyal bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga stabil demi menjaga daya beli, yang positif bagi obligasi. Sebagian lain menilai ruang penguatan aset berisiko menjadi terbatas bila dorongan likuiditas berkurang.

Ke depan, proyeksi pertumbuhan M0 akan sangat bergantung pada tiga hal: arah kebijakan suku bunga domestik, perkembangan inflasi inti, serta dinamika permintaan kredit dari sektor korporasi dan rumah tangga. Bila inflasi tetap terkendali dan permintaan kredit menguat, bank sentral memiliki ruang untuk kembali mempercepat ekspansi likuiditas. Sebaliknya, bila tekanan eksternal memburuk, prioritas akan bergeser ke stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan.

Kesimpulannya, penyusutan pertumbuhan uang primer pada September 2026 bukanlah alarm tunggal, melainkan satu potret dari dinamika likuiditas yang perlu dibaca bersama indikator lain seperti pertumbuhan kredit, inflasi, dan posisi cadangan devisa. Bagi pelaku usaha dan investor, memahami tren ini membantu menyusun ekspektasi yang lebih terukur terhadap arah kebijakan moneter dan sentimen pasar di kuartal berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User