Oct 09, 2026
Bisnis

Pertamina SMEXPO 2026 Dorong 47 UMKM Yogyakarta Naik Kelas

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerj...

Pertamina SMEXPO 2026 Dorong 47 UMKM Yogyakarta Naik Kelas

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Angka itu menegaskan posisi usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai tulang punggung ekonomi. Namun, kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya diimbangi daya saing di pasar yang lebih luas. Di tengah kondisi itu, gelaran Pertamina SMEXPO Yogyakarta 2026 di Pasar Ngasem pada 2-4 Oktober menghadirkan 47 UMKM lokal sebagai peserta, dengan tujuan memperluas akses pasar dan membuka peluang kemitraan.

Pasar Ngasem dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki basis kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara yang relatif stabil. Kombinasi antara destinasi wisata dan transaksi perdagangan dinilai mampu menciptakan efek berganda bagi pelaku usaha kecil. Bagi banyak UMKM, keikutsertaan dalam pameran semacam ini menjadi jembatan antara kapasitas produksi terbatas dan permintaan yang lebih besar.

Di Satu Sisi: Pameran Sebagai Katalis Pertumbuhan

Dari kacamata makro, pameran yang menaungi puluhan UMKM berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pengalaman pada sejumlah ajang serupa menunjukkan bahwa transaksi di lokasi pameran bisa meningkat 20 sampai 35 persen dibandingkan penjualan harian biasa, terutama untuk produk kuliner dan kriya. Tren ini penting karena sektor UMKM kerap menghadapi keterbatasan likuiditas dan akses distribusi.

Kehadiran korporasi besar sebagai penyelenggara juga memberi sentimen pasar tersendiri. Ketika perusahaan energi nasional membuka ruang bagi UMKM, ada transfer pengetahuan soal standar kualitas, pengemasan, hingga pencatatan keuangan. Hal itu sejalan dengan upaya peningkatan kelas usaha dari informal menuju formal. Pemerintah sendiri menargetkan rasio kewirausahaan nasional naik dari kisaran 3,4 persen menjadi 3,9 persen pada akhir periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah.

"Pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya dengan bantuan modal. Yang paling menentukan adalah akses pasar yang berkelanjutan dan pendampingan yang konsisten," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan di Yogyakarta.

Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental Yang Belum Selesai

Meski terdengar menjanjikan, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pameran bersifat sementara. Setelah acara berakhir, UMKM kembali berhadapan dengan persoalan mendasar: keterbatasan akses pembiayaan, biaya logistik yang tinggi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Data Bank Indonesia menunjukkan inflasi inti bergerak relatif terkendali, tetapi permintaan rumah tangga pada segmen menengah ke bawah masih rentan terhadap gejolak harga pangan.

Kritik lain menyoroti pola pendampingan yang sering berhenti di tahap seremoni. Tanpa program lanjutan berupa kemitraan dagang jangka panjang, dampak sebuah pameran cenderung bersifat sesaat. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan juga masih berada di kisaran 19 hingga 20 persen, jauh di bawah porsi kontribusinya terhadap PDB. Kesenjangan itu menjadi sinyal bahwa fundamental pembiayaan belum berpihak sepenuhnya pada usaha kecil.

Dari sisi valuasi usaha, banyak UMKM peserta pameran belum memiliki laporan keuangan yang bankable. Akibatnya, mereka sulit mengakses kredit formal dan lebih bergantung pada pinjaman informal dengan bunga tinggi. Kondisi ini memperbesar risiko capital outflow kecil-kecilan dari sektor produktif ke sektor konsumtif.

Proyeksi Dan Sikap Yang Perlu Diambil

Ke depan, keberhasilan inisiatif semacam ini akan diukur dari seberapa banyak peserta yang benar-benar naik kelas. Indikatornya bukan sekadar jumlah transaksi selama tiga hari, melainkan pertumbuhan omzet enam bulan setelah acara, jumlah kontrak kemitraan yang berlanjut, serta kemampuan UMKM menembus pasar ritel modern dan ekspor.

Portofolio kebijakan yang ideal mencakup tiga hal: pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan berbunga rendah, dan integrasi rantai pasok dengan industri besar. Tanpa ketiganya, pameran hanya menjadi panggung sesaat. Dengan ketiganya, 47 UMKM di Pasar Ngasem bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi korporasi dan usaha kecil menciptakan pertumbuhan yang inklusif.

Pada akhirnya, publik perlu menilai secara berimbang. Antusiasme terhadap gelaran ini wajar, tetapi ekspektasi harus tetap berpijak pada data. Ekonomi yang sehat tidak dibangun dari satu acara, melainkan dari konsistensi kebijakan dan perbaikan fundamental usaha dari waktu ke waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User