Pertamina Pulihkan Ekonomi Perajin Tenun Sade Pascakebakaran
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan sera...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan serapan tenaga kerja mencapai 97 persen dari total angkatan kerja. Angka ini menegaskan bahwa pemulihan unit usaha rakyat pascabencana bukan sekadar persoalan sosial, melainkan bagian dari upaya menjaga fundamental ekonomi daerah. Salah satu contoh terkini datang dari upaya pemulihan sentra tenun di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang sempat lumpuh akibat musibah kebakaran pada awal 2023.
Dukungan Sarana Produksi dan Pendampingan Usaha
Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, Pertamina menyalurkan bantuan berupa 45 unit alat tenun beserta program pendampingan pelatihan bagi warga perajin. Bantuan ini menyasar kelompok usaha tenun yang kehilangan peralatan produksi ketika insiden kebakaran menghanguskan sebagian besar kawasan permukiman dan fasilitas usaha mereka. Dalam konteks ekonomi daerah, intervensi terhadap alat produksi dinilai lebih berdampak dibandingkan bantuan konsumtif karena langsung memulihkan kapasitas produksi dan pendapatan rumah tangga.
Secara makro, Nusa Tenggara Barat mencatat pertumbuhan ekonomi 4,8 persen year-on-year pada triwaktu tertentu, dengan sektor industri pengolahan skala rumah tangga sebagai salah satu penopang. Kerajinan tenun tradisional memiliki nilai tambah tinggi karena tidak bersaing langsung pada segmen massal. Produk tenun ikat dan songket Sade menyasar pasar wisatawan dengan rentang harga Rp500 ribu hingga Rp5 juta per lembar, menjadikannya komoditas yang sensitif terhadap sentimen pasar pariwisata.
"Pemulihan sentra kerajinan tidak bisa dilihat hanya dari sisi produksi. Ada dimensi identitas budaya yang melekat pada tenun, sehingga ketika perajin kembali bekerja, yang pulih adalah ekonomi sekaligus warisan leluhur," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan.
Pro: Efek Berganda bagi Perekonomian Desa
Di satu sisi, keberadaan 45 alat tenun baru berpotensi menciptakan efek berganda yang signifikan. Setiap unit tenun umumnya melibatkan satu perajin utama dan dua hingga tiga pekerja pendukung untuk proses pewarnaan, pemintalan, dan penyelesaian akhir. Artinya, bantuan tersebut berpotensi menyerap sekitar 135 hingga 180 tenaga kerja baru dan kembali menyalurkan aliran pendapatan ke rumah tangga. Likuiditas di tingkat desa pun berpotensi membaik karena sebagian belanja wisatawan akan berputar di warung lokal, penyedia bahan baku, hingga jasa penginapan.
Perspektif lain melihat program ini sebagai bentuk penguatan portofolio ekonomi kerakyatan yang selaras dengan tren global. Permintaan produk etnik dan berkelanjutan mengalami kenaikan pada pasar ekspor. Dengan pendampingan pelatihan, kualitas produk dapat distandardisasi, sehingga valuasi produk perajin berpeluang naik dan mampu bersaing pada pameran nasional maupun internasional.
Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Akses Pasar
Di sisi lain, bantuan alat produksi tidak otomatis menyelesaikan persoalan struktural. Risiko utama terletak pada keberlanjutan pendampingan. Berdasarkan pengalaman sejumlah program serupa, tanpa kurikulum pemasaran digital, manajemen keuangan sederhana, dan akses pembiayaan lanjutan, pemanfaatan alat dapat menurun setelah periode program berakhir. Indeks pemanfaatan mesin pada beberapa sentra kerajinan diketahui turun hingga 40 persen dalam dua tahun pasca-intervensi apabila tidak diikuti pendampingan berkala.
Selain itu, struktur pasar tenun masih menghadapi kapasitas produksi yang terbatas dan harga bahan baku yang fluktuatif. Tren permintaan wisatawan juga sangat dipengaruhi musim kunjungan. Ketika arus kunjungan menurun, perajin menghadapi risiko penumpukan stok, capital outflow ke pemasok benang di luar daerah, dan tekanan likuiditas. Persaingan dengan produk tekstil pabrikan bermotif serupa dengan harga lebih murah menjadi tantangan tersendiri bagi perajin yang mengandalkan tenun tangan.
Proyeksi dan Catatan Fundamental
Ke depan, keberhasilan pemulihan sentra tenun Sade akan bergantung pada integrasi antara bantuan sarana produksi, penguatan kelembagaan koperasi, serta konektivitas dengan ekosistem pariwisata. Proyeksi sederhana menunjukkan apabila kapasitas produksi kembali optimal dengan rata-rata pendapatan bersih Rp1,5 juta per perajin per bulan, maka tambahan perputaran ekonomi desa dapat mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan. Angka ini memang kecil dalam skala nasional, tetapi signifikan bagi ketahanan ekonomi lokal.
Dari kacamata fundamental, pemulihan unit usaha rakyat pascabencana tetap memerlukan sinergi lintas sektor, bukan sekadar bantuan alat. Sentimen pasar terhadap produk kerajinan tradisional cenderung positif, namun tanpa perbaikan rasio efisiensi produksi dan akses pasar yang stabil, dampaknya berpotensi bersifat sementara. Karena itu, pemantauan berkelanjutan atas indikator produksi, pemasaran, dan pendapatan perajin menjadi kunci untuk menilai apakah upaya pemulihan di Desa Adat Sade benar-benar mengembalikan denyut ekonomi masyarakat.
Comments (0)