Pertamina Pulihkan Ekonomi Desa Adat Sade Lewat 45 Alat Tenun
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2023, sektor industri pengolahan mikro dan kerajinan rumah tangga menyumbang sekitar 14,2 persen terhadap total tenaga kerja nasional, namun kont...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2023, sektor industri pengolahan mikro dan kerajinan rumah tangga menyumbang sekitar 14,2 persen terhadap total tenaga kerja nasional, namun kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tertahan di kisaran 3,8 persen. Kesenjangan ini mencerminkan persoalan klasik: produktivitas perajin rendah akibat keterbatasan alat, akses modal, dan pasar. Di tengah kondisi itu, program pemulihan ekonomi berbasis komunitas di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu studi kasus yang layak dicermati.
Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di NTB, dengan sekitar 150 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari tenun ikat tradisional, pertanian, dan pariwisata. Namun, musibah kebakaran yang melanda permukiman adat beberapa waktu lalu menghanguskan sebagian rumah dan fasilitas produksi, termasuk alat tenun kayu yang menjadi tulang punggung penghasilan warga. Dampaknya, aktivitas produksi kain tenun sempat terhenti total selama beberapa pekan, dan pendapatan rumah tangga perajin dilaporkan turun hingga 60–70 persen pada periode pasca-insiden.
Dukungan 45 Alat Tenun dan Pendampingan Pelatihan
Sebagai upaya pemulihan, sebuah program tanggung jawab sosial perusahaan menyalurkan bantuan berupa 45 unit alat tenun beserta pendampingan pelatihan bagi warga. Bantuan ini menyasar dua kelompok utama: perajin yang kehilangan alat produksi, serta generasi muda yang sebelumnya kurang tertarik pada kerajinan tenun. Pelatihan mencakup teknik dasar menenun, pengelolaan bahan baku, hingga literasi pemasaran digital.
“Pemulihan ekonomi pasca-bencana tidak cukup hanya dengan bantuan fisik. Yang lebih penting adalah memastikan alat produksi itu benar-benar berjalan, ada pendampingan, dan ada akses pasar yang berkelanjutan,” ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan.
Dari sisi kapasitas, 45 alat tenun diperkirakan dapat memproduksi sekitar 1–2 lembar kain per alat per pekan, tergantung tingkat kerumitan motif. Dengan asumsi harga jual rata-rata kain tenun ikat Sade di kisaran Rp500 ribu hingga Rp2 juta per lembar untuk kualitas premium, potensi tambahan omzet komunitas dapat menembus Rp200–450 juta per bulan bila kapasitas produksi terisi penuh. Angka ini signifikan bagi perekonomian desa yang berbasis skala mikro.
Pro: Penguatan Fundamental Ekonomi Desa
Di satu sisi, intervensi ini memperkuat fundamental ekonomi desa. Penambahan alat tenun berarti kapasitas produksi meningkat, yang berpotensi mendorong peningkatan pendapatan year-on-year bila dibandingkan periode sebelum kebakaran. Pelatihan yang menyasar generasi muda juga penting untuk regenerasi perajin—masalah struktural yang selama ini mengancam keberlanjutan industri tenun tradisional. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan jumlah perajin tenun di NTB mengalami penurunan sekitar 5–8 persen per tahun dalam satu dekade terakhir, terutama karena minimnya minat generasi muda.
Lebih jauh, sektor ini memiliki keterkaitan erat dengan pariwisata. Setiap kunjungan wisatawan ke Desa Adat Sade berpotensi menciptakan permintaan langsung terhadap kain tenun. Dengan tren kunjungan wisatawan ke NTB yang tumbuh 12–15 persen pasca-pandemi, sentimen pasar terhadap produk kerajinan lokal cenderung positif. Ini menjadi peluang bagi perajin untuk naik kelas, dari sekadar produsen rumahan menjadi pemasok tetap toko cendera mata atau hotel berbintang.
Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Risiko Ketergantungan
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa bantuan alat produksi kerap berhenti pada tahap simbolis. Tanpa ekosistem pendukung—akses pembiayaan formal, manajemen rantai pasok, dan kanal pemasaran yang stabil—alat tenun bisa berujung menjadi aset menganggur. Risiko lain adalah ketergantungan pada program corporate social responsibility (CSR) yang bersifat temporer, sementara kebutuhan likuiditas perajin bersifat rutin.
Dari kacamata valuasi usaha mikro, perajin tenun di desa adat umumnya belum memiliki laporan keuangan yang tertata, sehingga sulit mengakses kredit perbankan. Rasio kredit usaha mikro terhadap total kredit perbankan nasional per 2023 berada di kisaran 19–20 persen, dan sebagian besar terserap di perkotaan. Artinya, perajin di wilayah pedesaan masih menghadapi capital outflow tidak langsung berupa minimnya aliran modal masuk ke sektor kerajinan.
Selain itu, fluktuasi harga bahan baku seperti benang sutra dan katun impor turut memengaruhi margin. Bila biaya bahan baku naik 10 persen, sementara harga jual tidak dapat disesuaikan karena daya beli wisatawan terbatas, margin perajin bisa tergerus signifikan. Di sinilah pentingnya proyeksi bisnis yang realistis, bukan sekadar target produksi.
Proyeksi dan Catatan Penutup
Secara agregat, program pemulihan berbasis alat produksi ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap indeks kesejahteraan desa, terutama bila diintegrasikan dengan pendampingan berkelanjutan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada tiga faktor: konsistensi pendampingan, akses pasar yang berkelanjutan, dan tata kelola keuangan komunitas yang transparan. Tanpa itu, bantuan 45 alat tenun hanya akan menjadi catatan manis dalam laporan tahunan, bukan penggerak ekonomi yang sesungguhnya. Publik tentu menanti apakah tren pemulihan ini berlanjut dalam 12–24 bulan ke depan, atau justru surut setelah sorotan media meredup.
Comments (0)