Oct 12, 2026
Bisnis

Pertamina Dorong Ekonomi Sirkular Bank Sampah di Mandalika

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 38 juta ton per tahun, dengan proporsi terbesar berasal dari rumah tangga. Di tengah tekanan ters...

Pertamina Dorong Ekonomi Sirkular Bank Sampah di Mandalika

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 38 juta ton per tahun, dengan proporsi terbesar berasal dari rumah tangga. Di tengah tekanan tersebut, ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar melalui program bank sampah di Desa Kuta Mandalika. Inisiatif ini menggabungkan kegiatan olahraga berskala internasional dengan pembangunan kapasitas ekonomi lokal yang berbasis pada prinsip ekonomi sirkular.

Ekonomi Sirkular sebagai Fondasi Pemberdayaan

Bank sampah bukan sekadar tempat pemilahan limbah. Secara ekonomi, lembaga ini berfungsi sebagai simpul yang mengubah sampah anorganik menjadi komoditas bernilai. Warga menyetorkan sampah terpilah, lalu memperoleh imbalan berupa tabungan atau uang tunai. Dari sisi makro, praktik ini menciptakan aliran pendapatan tambahan bagi rumah tangga sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.

Di satu sisi, dampak ekonominya cukup nyata. Sebuah rumah tangga yang konsisten memilah sampah dapat mengumpulkan tambahan penghasilan berkisar Rp150 ribu hingga Rp500 ribu per bulan, tergantung volume dan jenis material. Angka ini signifikan bagi wilayah dengan pendapatan per kapita yang belum merata seperti kawasan pesisir Lombok. Di sisi lain, tantangan fundamental tetap membayangi: harga jual material daur ulang sangat fluktuatif dan bergantung pada permintaan industri pengolah, sehingga nilai tabungan warga bisa turun ketika sentimen pasar komoditas sekunder melemah.

Dampak pada Likuiditas dan Portofolio Warga

Dari kacamata keuangan mikro, bank sampah berperan sebagai instrumen likuiditas sederhana. Saldo tabungan sampah dapat dicairkan relatif cepat, menjadikannya semacam tabungan harian. Namun, berbeda dengan deposito, instrumen ini tidak menawarkan rasio bunga tetap. Nilainya ditentukan oleh indeks harga material yang bergerak year-on-year.

Proyeksi ke depan, jika program ini diperluas, pemerintah daerah dapat mengintegrasikannya dengan portofolio pembiayaan hijau. Beberapa bank daerah mulai menyalurkan kredit usaha mikro kepada pengelola bank sampah. Di sisi kontra, tanpa pendampingan berkelanjutan, bank sampah rentan berhenti di tengah jalan karena keterbatasan kapasitas manajemen dan akses pasar.

Sinergi Event Internasional dan Ekonomi Lokal

Penyelenggaraan ajang balap kelas dunia membawa arus kunjungan wisatawan yang meningkat tajam. Lonjakan ini berdampak ganda: permintaan barang dan jasa naik, tetapi volume sampah juga bertambah. Inilah titik temu strategis, di mana pengelolaan sampah yang optimal justru menjadi peluang ekonomi, bukan sekadar biaya.

"Event besar seperti MotoGP harus meninggalkan warisan berupa kapasitas masyarakat, bukan hanya infrastruktur," ujar seorang pengamat ekonomi pembangunan daerah, seraya menekankan pentingnya keberlanjutan program pasca-event.

Dengan fundamental lingkungan yang membaik, valuasi kawasan wisata Mandalika dapat meningkat. Kawasan yang bersih dan terkelola baik memiliki daya tarik investasi lebih tinggi, terutama untuk sektor perhotelan dan properti. Sebaliknya, jika pengelolaan limbah gagal, capital outflow dari sektor pariwisata bisa terjadi karena wisatawan beralih ke destinasi lain.

Menimbang Pro dan Kontra Keberlanjutan Program

Pro: integrasi bank sampah ke dalam rangkaian event global menciptakan kesadaran kolektif, memperkuat citra daerah, dan memberi efek berganda pada UMKM daur ulang. Kontra: ketergantungan pada momentum sesaat berisiko membuat program kehilangan tenaga ketika sorotan media berpindah.

Kesimpulannya, inisiatif ini menunjukkan tren positif dalam mengaitkan agenda lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi. Meski demikian, keberhasilannya bergantung pada konsistensi, tata kelola, dan akses pasar yang berkelanjutan. Tanpa itu, bank sampah hanya akan menjadi proyek simbolis tanpa dampak fundamental bagi kesejahteraan masyarakat Kuta Mandalika.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User