Oct 12, 2026
Bisnis

Pertamina Dorong Ekonomi Pesisir lewat Sekolah Alam di NTB

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2025, sektor kelautan dan perikanan menyumbang sekitar 2,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, namun menyerap lebih dari 7 juta tenag...

Pertamina Dorong Ekonomi Pesisir lewat Sekolah Alam di NTB

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2025, sektor kelautan dan perikanan menyumbang sekitar 2,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, namun menyerap lebih dari 7 juta tenaga kerja langsung di wilayah pesisir. Angka ini menunjukkan potensi besar sekaligus tantangan struktural: produktivitas warga pesisir masih tertinggal dibanding sektor formal perkotaan. Di tengah kondisi itu, PT Pertamina Patra Niaga menjalankan Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat, sebuah intervensi berbasis komunitas yang menyasar pendidikan dan keterampilan generasi muda pesisir.

Langkah ini menjadi menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan sebagai bagian dari strategi membangun fundamental ekonomi daerah. Pasalnya, pemberdayaan pesisir berkaitan erat dengan upaya menekan ketimpangan dan memperkuat daya beli masyarakat di kawasan yang selama ini bergantung pada hasil tangkapan harian.

Mengapa Pendidikan Pesisir Menjadi Kunci

Secara ekonomi, kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah variabel yang menentukan kapasitas produksi jangka panjang. Ketika anak-anak pesisir memiliki akses pendidikan dan literasi lingkungan yang lebih baik, mereka berpotensi mengelola sumber daya laut secara lebih bernilai tambah, bukan hanya menjual hasil mentah. Di satu sisi, pendekatan ini memperkuat fondasi jangka panjang. Di sisi lain, dampaknya terhadap pendapatan rumah tangga tidak instan dan membutuhkan konsistensi bertahun-tahun.

Program di Desa Cendi Manik menyasar anak-anak pesisir sebagai peserta, dengan materi yang menggabungkan pengetahuan lingkungan, keterampilan praktis, dan kesadaran akan ekosistem laut. Pendekatan semacam ini umumnya diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran konservasi sekaligus membuka wawasan kewirausahaan sejak dini. Dalam konteks ekonomi, investasi pada anak usia sekolah memiliki rasio pengembalian sosial yang tinggi, meski sulit diukur dalam satu siklus anggaran tahunan.

Dampak Berganda bagi Ekonomi Desa

Jika ditelaah melalui lensa multiplier effect, program pendidikan komunitas dapat memicu rantai ekonomi lokal. Orang tua yang terlibat dalam kegiatan sekolah alam berpotensi mendapat pendampingan usaha, misalnya pengolahan hasil laut, kerajinan, atau jasa ekowisata. Hal ini sejalan dengan tren global di mana ekonomi biru (blue economy) menjadi sumber pertumbuhan baru. Bank Indonesia mencatat sektor ekonomi biru memiliki proyeksi pertumbuhan di atas rata-rata ekonomi nasional pada 2025-2030.

Namun, tantangan tetap ada. Akses pembiayaan bagi usaha mikro pesisir masih menjadi kendala klasik. Rasio kredit usaha mikro terhadap total kredit perbankan nasional masih di bawah 20 persen, dan sebagian besar terkonsentrasi di Jawa. Artinya, tanpa dukungan likuiditas dan pendampingan lanjutan, program pemberdayaan berisiko berhenti pada tahap kesadaran tanpa naik ke skala usaha.

"Pemberdayaan pesisir harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan proyek jangka pendek. Kuncinya adalah keberlanjutan pendampingan dan integrasi dengan rantai pasok daerah," ujar seorang pengamat ekonomi kelautan dalam sebuah diskusi akademik.

Pro dan Kontra Pendekatan Korporasi

Pro: keterlibatan perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat menghadirkan sumber daya, disiplin manajerial, dan jejaring pasar yang sering tidak dimiliki pemerintah daerah maupun LSM. Program semacam ini juga memperkuat sentimen pasar terhadap komitmen lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan, yang kini menjadi pertimbangan penting dalam valuasi dan portofolio investor institusi.

Kontra: kritik yang kerap muncul adalah potensi program yang bersifat seremonial, sulit diukur, dan bergantung pada anggaran tahunan. Selain itu, fokus pada anak-anak pesisir perlu diimbangi dengan pemberdayaan orang dewasa agar dampak ekonomi rumah tangga terasa lebih cepat. Tanpa indikator keberhasilan yang jelas, program berisiko menjadi kegiatan simbolis tanpa perubahan struktur pendapatan.

Meski demikian, arah kebijakan tampak sejalan dengan agenda nasional. Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kelautan meningkat, dan program berbasis komunitas di desa-desa pesisir menjadi salah satu instrumen pendukung. Desa Cendi Manik, dengan karakteristik pesisirnya, menjadi contoh bagaimana intervensi kecil dapat menjadi laboratorium pembelajaran kebijakan jika dikelola dengan indikator yang terukur.

Ke depan, kunci keberhasilan bukan pada besarnya anggaran, melainkan pada desain program yang menyambungkan pendidikan, keterampilan, dan akses pasar. Jika ekosistem ini terbangun, ekonomi warga pesisir berpotensi tumbuh lebih inklusif, mengurangi ketergantungan pada musim tangkap, dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah terhadap gejolak global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User