Oct 13, 2026
Bisnis

Pertamina Berdayakan Perajin Tenun Sade Pascakebakaran

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I 2024, sektor industri kreatif di Nusa Tenggara Barat menyumbang sekitar 7,2 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi, ...

Pertamina Berdayakan Perajin Tenun Sade Pascakebakaran

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I 2024, sektor industri kreatif di Nusa Tenggara Barat menyumbang sekitar 7,2 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi, dengan tenun ikat sebagai salah satu komoditas unggulan. Angka ini menjadi konteks penting ketika salah satu sentra produksi tenun di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, harus bangkit kembali setelah diterpa musibah kebakaran yang meluluhlantakkan sebagian besar peralatan produksi warga pada pertengahan 2023 lalu.

Pemulihan ekonomi pascabencana di kawasan itu kini memperoleh dorongan melalui penyerahan 45 unit alat tenun beserta program pendampingan pelatihan bagi perajin setempat. Bantuan ini diproyeksikan memulihkan kapasitas produksi harian yang sempat merosot tajam, dari sekitar 30 lembar kain per pekan menjadi hanya di bawah 5 lembar pascainsiden.

Mengapa Tenun Sade Penting bagi Ekonomi Lokal

Desa Adat Sade merupakan salah satu dari sedikit kawasan di Pulau Lombok yang mempertahankan tenun ikat tradisional sebagai tulang punggung penghidupan rumah tangga. Secara fundamental, tenun bukan sekadar produk kerajinan, melainkan instrumen ekonomi berbasis komunitas yang menyerap tenaga kerja perempuan dan menjaga tradisi lintas generasi.

Dari sisi permintaan pasar, produk tenun Sade memiliki premium harga yang cukup tinggi, dengan rentang Rp350 ribu hingga Rp2,5 juta per lembar, bergantung pada tingkat kerumitan motif dan lamanya waktu pengerjaan. Sebelum kebakaran, kawasan ini kerap menjadi tujuan wisata budaya dengan tingkat kunjungan mencapai ratusan wisatawan per bulan, menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi warung, jasa pemandu, dan sektor transportasi lokal.

Namun, kerugian pasca-kebakaran tidak hanya bersifat material. Hilangnya puluhan alat tenun tradisional menyebabkan kapasitas produksi terhenti, sementara sebagian perajin beralih ke pekerjaan non-keterampilan di sektor informal. Kondisi ini memperlambat sirkulasi uang di tingkat desa dan menekan pendapatan rumah tangga perajin secara year-on-year.

Pro: Intervensi Berbasis Aset Produktif

Di satu sisi, pendekatan yang menitikberatkan pada bantuan alat produksi dinilai lebih tepat dibandingkan sekadar bantuan tunai. Dengan alat tenun, penerima manfaat memperoleh kapasitas untuk membangun kembali pendapatan secara mandiri, bukan hanya mengandalkan konsumsi jangka pendek.

Pelatihan yang menyertai penyerahan alat turut memperkuat kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam hal diversifikasi motif dan efisiensi proses pewarnaan alami. Efeknya, secara bertahap diharapkan terjadi kenaikan output per tenaga kerja, sekaligus mempersempit kesenjangan keterampilan antarperajin generasi muda dan generasi tua.

“Pemulihan sentra industri kreatif harus menyentuh aset produktif dan kapasitas manusianya secara bersamaan, bukan hanya membangun kembali fisiknya,” ujar seorang ekonom regional yang meneliti industri kerajinan di NTB, dalam sebuah forum akademik.

Dari perspektif likuiditas usaha, ketersediaan alat tenun memungkinkan perajin kembali memasok pesanan pasar, sehingga arus kas rumah tangga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kiriman remitansi. Ini menjadi fondasi stabilitas konsumsi desa.

Kontra: Tantangan Fundamental yang Tetap Mengintai

Di sisi lain, bantuan alat semata tidak menyelesaikan persoalan struktural. Beberapa analis mengingatkan bahwa tren permintaan pasar tenun sangat sensitif terhadap sentimen pariwisata dan daya beli konsumen. Ketika kunjungan wisatawan melambat, stok kain dapat menumpuk dan menekan harga jual di tingkat perajin.

Selain itu, akses terhadap pembiayaan formal bagi perajin skala mikro masih menjadi hambatan. Rasio kredit usaha rakyat untuk sektor kerajinan di daerah masih relatif kecil, sehingga ruang ekspansi kapasitas sangat terbatas. Tanpa pendampingan pemasaran digital dan jejaring distribusi, harga premium tenun Sade berisiko hanya dinikmati oleh pedagang perantara.

Faktor lain yang perlu dicermati adalah regenerasi perajin. Minat generasi muda terhadap pekerjaan menenun yang membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu per kain masih rendah, terutama jika dibandingkan dengan upah sektor jasa. Bila tren ini berlanjut, pelestarian tenun tradisional menghadapi risiko keberlanjutan jangka panjang meski alat tenun tersedia.

Proyeksi dan Sikap Pasar

Dengan asumsi program tersebut berjalan konsisten, produksi kain di kawasan Sade dapat kembali mendekati volume sebelum musibah dalam kurun 12 bulan, disertai potensi kenaikan pendapatan perajin sebesar 15 hingga 25 persen apabila pemasaran menyentuh kanal digital dan ritel modern. Kendati demikian, proyeksi ini bergantung pada stabilitas kunjungan wisatawan dan akses pembiayaan yang lebih luas.

Dari kacamata investor, sentimen terhadap sektor kerajinan berbasis komunitas masih tergolong positif, terutama karena keterkaitannya dengan industri pariwisata dan rantai pasok ekonomi kreatif nasional. Valuasi sektor ini tidak semata diukur dari margin, tetapi juga dari nilai keberlanjutan dan keunikan produk budaya yang sulit ditiru pasar massal.

Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan ekonomi Desa Adat Sade akan menjadi indikator kecil namun penting: sejauh mana intervensi produktif pascabencana mampu mengubah bantuan sesaat menjadi fondasi fundamental bagi daya tahan ekonomi warga dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User