Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Dekati Rp18.000/USD

Guncangan terjadi di pasar keuangan Indonesia setelah Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri dari posisi Gubernur Bank Indonesia pada hari ini. Keputusan mengejutkan itu langsung mengguncang nilai ...

Jul 28, 2026 - 02:50
0 0
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Dekati Rp18.000/USD

Guncangan terjadi di pasar keuangan Indonesia setelah Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri dari posisi Gubernur Bank Indonesia pada hari ini. Keputusan mengejutkan itu langsung mengguncang nilai tukar rupiah yang terperosok ke level psikologis Rp 17.920 per dolar AS dalam perdagangan sore, hanya berjarak tipis dari level krusial Rp 18.000/USD. Berdasarkan data transaksi pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup melemah 2,3% secara harian ke posisi terendah sejak awal krisis pandemi 2020, sementara indeks dolar AS justru flat di 105,8.

Sentimen negatif langsung merebak karena pasar menilai mundurnya Perry—yang telah memimpin BI sejak 2018 dan dikenal sebagai sosok penjaga stabilitas rupiah—akan menciptakan kekosongan kepemimpinan di saat ekonomi Indonesia tengah menghadapi tekanan eksternal ganda: harga energi global yang masih tinggi dan kebijakan moneter ketat bank sentral utama dunia. Kurs rupiah pun mencatat kinerja terburuk di antara mata uang Asia pada sesi ini, dengan volatilitas satu hari mencapai 5,2%, melampaui rata-rata historis 3,8%.

Sinyal Pasar: Dua Arah Spekulasi

Di satu sisi, investor asing langsung merespon dengan aksi jual surat berharga negara. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan dan Kustodian Sentral Efek Indonesia per pukul 16.00 WIB, tercatat capital outflow sebesar Rp 4,7 triliun di pasar obligasi, tertinggi dalam satu hari sejak Juni 2025. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun pun melonjak 35 basis poin ke 7,18%, menandakan lonjakan premi risiko yang diminta investor. “Ini adalah reaksi refleksif atas ketidakpastian suksesi,” ujar Kepala Ekonom Bank DBS Indonesia. “Pasar membaca mundurnya Perry sebagai sinyal potensi intervensi politik yang lebih kuat pada kebijakan moneter ke depan.”

Di sisi lain, sebagian pelaku pasar justru melihat peluang di tengah koreksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya terkoreksi 0,8% dan sektor perbankan bahkan mencatatkan penguatan tipis. Analis dari Foreign Brokerage menyatakan bahwa fundamental makro Indonesia masih solid: cadangan devisa per akhir bulan lalu masih di level USD 146 miliar (setara 7,5 bulan impor), surplus neraca dagang berlanjut untuk bulan ke-51, dan rasio utang luar negeri terhadap PDB hanya 29,4%. “Koreksi rupiah lebih bersifat sentimen jangka pendek,” tulis catatan riset mereka. “Bila pengganti memiliki kredibilitas, rupiah berpotensi balik arah dengan cepat.”

Rentetan Penyebab dan Kekhawatiran Lanjutan

Pengunduran diri Perry terjadi di tengah sorotan tajam terhadap kebijakan stabilisasi rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate yang telah bertahan di level 6,25% sejak September 2025. Tekanan dari sektor riil yang mengeluhkan biaya pinjaman mahal bersinggungan dengan desakan agar BI lebih akomodatif menjelang tahun politik. Meski pernyataan resmi menyebut “alasan pribadi”, kalangan dekat menyebut ada gesekan dengan otoritas fiskal terkait Burden Sharing dan pembiayaan defisit. Apapun penyebabnya, pasar kini bertaruh pada dua skenario.

Proyeksi skenario pertama: pengganti yang kurang independen akan menurunkan suku bunga secara dini, yang dapat mendorong inflasi dari sisi permintaan dan memperlebar defisit transaksi berjalan karena impor melonjak. Inflasi inti yang saat ini 2,8% year-on-year (yoy) berisiko menembus batas atas sasaran BI 4% jika kebijakan longgar dijalankan. Skenario kedua: tokoh yang dipilih justru lebih hawkish dan memperketat lebih jauh, menaikkan suku bunga lagi 25 basis poin dalam RDG mendatang, yang akan menambah beban dunia usaha. Kedua skenario ini sama-sama menimbulkan guncangan valuasi.

Dampak ke Sektor Riil dan Inflasi

Pelemahan rupiah yang hampir menyentuh Rp 18.000/USD akan langsung dirasakan oleh importir bahan baku dan konsumen produk strategis. Asosiasi Industri Olefood memperkirakan biaya impor kedelai naik sekitar 4,5% jika kurs bertahan di atas Rp 17.800 selama sepekan, yang akan diteruskan ke harga tahu dan tempe. Sementara itu, Pertamina menahan kenaikan harga BBM non-subsidi untuk menjaga daya beli, namun tekanan fiskal dari subsidi energi diperkirakan bertambah Rp 28 triliun dalam skenario terburuk. Di sisi eksportif, pelemahan rupiah memberikan angin segar bagi industri tekstil dan produk sawit yang kini memperoleh pendapatan rupiah lebih besar.

Tim Riset Ekonomi Beritadua memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.600–Rp 18.200/USD hingga ada kejelasan pengganti dan arah kebijakan. “Selama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden segera mengajukan nama yang diterima pasar, shock ini hanya sementara,” kata Ekonom Senior Institute for Economic Reform. “Namun jika terjadi kekosongan lebih dari 30 hari, kita bisa melihat depresiasi menuju Rp 18.500 dan capital outflow yang lebih dalam.” Pasar kini memusatkan perhatian pada rapat koordinasi pemerintah dengan komisi perbankan DPR yang dijadwalkan besok pagi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User