Oct 10, 2026
Bisnis

Percetakan Ditantang Beralih ke Signage Digital di Expo 2026

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan asosiasi grafika nasional per awal 2026, industri percetakan konvensional di Indonesia terus mengalami tekanan struktural dengan pertumbuhan year-on-year...

Percetakan Ditantang Beralih ke Signage Digital di Expo 2026

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan asosiasi grafika nasional per awal 2026, industri percetakan konvensional di Indonesia terus mengalami tekanan struktural dengan pertumbuhan year-on-year yang stagnan di kisaran 2-3 persen, jauh di bawah laju ekspansi sektor ekonomi kreatif digital yang menembus 8-9 persen. Fenomena ini menjadi latar belakang munculnya dorongan bagi pelaku usaha percetakan untuk melakukan diversifikasi portofolio bisnis ke arah digital signage dan videotron, sebuah tren yang mengemuka dalam ajang pameran industri grafika berskala nasional yang digelar baru-baru ini.

Pergeseran Fundamental Industri Grafika

Fundamental industri percetakan menghadapi tantangan yang cukup mendasar. Penurunan permintaan terhadap media cetak tradisional, mulai dari brosur, spanduk, hingga baliho, tercatat mengalami penurunan volume secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Di satu sisi, sentimen pasar menunjukkan bahwa anggaran belanja iklan korporasi kini dialihkan ke kanal digital yang dinilai lebih terukur. Di sisi lain, kebutuhan akan visualisasi ruang publik, seperti pusat perbelanjaan, bandara, rumah sakit, dan gedung perkantoran, justru mengalami kenaikan permintaan yang signifikan.

Sejumlah peserta pameran menawarkan solusi berupa panel datar interaktif, layar digital signage, serta sistem videotron yang dapat dikelola secara terpusat. Teknologi ini memungkinkan pelaku usaha percetakan memperluas lini layanan tanpa harus meninggalkan kompetensi inti mereka di bidang produksi visual. Nilai tambahnya terletak pada kemampuan menawarkan paket lengkap: dari desain, instalasi, hingga pemeliharaan konten secara berkala.

"Pelaku percetakan yang tidak bertransformasi dalam tiga hingga lima tahun ke depan berisiko kehilangan pangsa pasar, karena permintaan klien korporat kini menuntut solusi visual yang dinamis, bukan statis," ujar seorang praktisi industri grafika dalam sesi diskusi pameran tersebut.

Pro: Diversifikasi sebagai Strategi Bertahan

Pro dari langkah diversifikasi ini cukup kuat. Pertama, margin keuntungan pada lini digital signage dilaporkan berada di kisaran 25-35 persen, lebih tinggi dibandingkan margin percetakan konvensional yang rata-rata berada di angka 10-15 persen. Kedua, pendapatan berulang (recurring revenue) dari layanan pemeliharaan dan pembaruan konten menciptakan arus kas yang lebih stabil dan mengurangi ketergantungan pada proyek satu kali.

Ketiga, dari sisi valuasi usaha, bisnis yang memiliki komponen teknologi dan layanan berkelanjutan cenderung mendapatkan multiple valuasi yang lebih tinggi dibandingkan usaha manufaktur murni. Hal ini penting bagi pelaku usaha yang berencana mengakses pendanaan dari lembaga keuangan maupun investor.

Kontra: Hambatan Modal dan Kurva Belajar

Namun, di sisi lain, hambatan yang dihadapi tidaklah kecil. Investasi awal untuk perangkat flat panel dan sistem videotron berkisar jauh di atas harga mesin cetak konvensional. Satu unit panel interaktif berukuran besar bisa menelan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah, belum termasuk perangkat lunak pengelolaan konten dan pelatihan sumber daya manusia. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah yang mendominasi struktur industri grafika nasional, likuiditas menjadi kendala utama.

Terdapat pula risiko teknis, seperti keandalan pasokan listrik, kebutuhan konektivitas internet yang stabil, serta siklus penyusutan teknologi yang relatif cepat. Perangkat keras digital memiliki umur ekonomis yang lebih pendek dibandingkan mesin cetak, sehingga memerlukan perencanaan belanja modal yang lebih disiplin.

Proyeksi dan Implikasi Kebijakan

Merujuk proyeksi sejumlah lembaga riset pasar, nilai pasar digital signage di Asia Tenggara diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) di kisaran 9-11 persen hingga 2030. Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan urbanisasi yang terus meningkat, menjadi salah satu pasar potensial utama. Namun, tanpa dukungan pembiayaan yang terjangkau dan program peningkatan kapasitas, transformasi ini berpotensi hanya dinikmati segelintir pemain besar.

Dari kacamata analisis ekonomi, peralihan menuju digital signage bukan sekadar soal mengganti alat, melainkan pergeseran model bisnis dari produsen barang menjadi penyedia layanan. Rasio pendapatan berulang terhadap total pendapatan akan menjadi indikator kunci untuk menilai keberhasilan transformasi ini. Pelaku usaha yang mampu mengelola transisi secara bertahap, misalnya dengan memulai dari segmen klien korporat, diperkirakan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan bertumbuh di tengah tren digitalisasi ruang publik yang terus menguat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User