Penyandang Disabilitas Netra Sinjai Diabadikan, Dokter Soroti Bahaya Katarak
JAKARTA — Sebuah kisah inspiratif datang dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Nama seorang penyandang disabilitas netra akan segera diabadikan di salah
JAKARTA — Sebuah kisah inspiratif datang dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Nama seorang penyandang disabilitas netra akan segera diabadikan di salah satu pilar Masjid Nabawi, Madinah. Penghargaan tersebut diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi melalui program khusus penghafal Al-Qur’an internasional. Kabar itu sekaligus memantik perbincangan mengenai penglihatan di Tanah Air, yang kemudian ditanggapi oleh dokter spesialis mata dengan sorotan tajam tentang katarak sebagai penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah.
Perjalanan Panjang Menuju Madinah
Muhammad Yusuf, demikian nama penyandang disabilitas netra asal Sinjai ini, bukanlah sosok asing di kalangan penghafal Al-Qur'an. Lahir dengan kondisi mata yang tidak berfungsi normal, Yusuf justru menjadikan keterbatasannya sebagai pemantik untuk menggali keistimewaan lain. Di usia sepuluh tahun, ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz melalui metode talaqqi dan bantuan Al-Qur'an Braille. Bahkan, dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional, Yusuf kerap menyabet peringkat pertama untuk kategori tunanetra.
“Saya tidak pernah merasa kekurangan. Justru dengan rabunnya mata, hati dan telinga saya menjadi lebih tajam menangkap ayat-ayat-Nya,” tutur Yusuf dalam sesi wawancara melalui tautan video, Selasa (27/5).
Prestasi Yusuf rupanya menarik perhatian Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka mengusulkan nama Yusuf kepada panitia Penghargaan Tahfizh Internasional yang digagas oleh Kerajaan Arab Saudi. Jika tidak ada aral melintang, namanya akan diukir di sebuah pilar di area Rawdah Masjid Nabawi—sebuah kehormatan yang hanya diberikan kepada segelintir muslim dari berbagai penjuru dunia. “Ini bukan hanya kebanggaan keluarga, tetapi juga simbol bahwa disabilitas tidak menghalangi seseorang meraih kemuliaan,” ujar Ketua MUI Sinjai, Andi Muhammad Baso.
Peringatan dari Dokter Mata
Di tempat terpisah, dokter spesialis mata Nina Asrini Noor mengapresiasi pencapaian Yusuf seraya mengingatkan bahwa masih banyak kasus disabilitas netra di Indonesia yang sesungguhnya bisa dicegah. “Katarak masih menjadi penyebab nomor satu kebutaan yang sebenarnya bisa diatasi. Ironisnya, banyak orang terlambat memeriksakan diri karena faktor biaya atau ketidaktahuan,” ungkapnya dalam acara peringatan Hari Penglihatan Sedunia di Jakarta, 20 Mei 2026.
“Angka kebutaan di Indonesia masih tinggi, sekitar 3,8 persen dari total penduduk. Sebagian besar disebabkan katarak yang seharusnya bisa dioperasi. Jika tidak ditangani, katarak benar-benar akan menutup aksara dunia dari pandangan penderitanya,” jelas dr. Nina di hadapan awak media, tampak serius dengan data riset mutakhir yang ia pegang.
Menurut dr. Nina, deteksi dini dan operasi katarak dengan teknik fakoemulsifikasi kini sudah sangat aman dan tidak memerlukan rawat inap lama. Namun, stigma dan mitos yang beredar di masyarakat—seperti ketakutan terhadap pisau bedah atau anggapan bahwa katarak adalah penyakit usia tua yang tak perlu diintervensi—seringkali menunda penanganan medis.
Sisi Lain yang Belum Tersuarakan
Kisah Yusuf dan peringatan dr. Nina sejatinya adalah dua sisi mata uang yang sama: penglihatan adalah anugerah, tetapi juga bisa diraba melalui pencapaian jiwa. Yusuf menunjukkan bahwa kehilangan fungsi mata tidak mematahkan semangat untuk membaca, menghafal, dan berkontribusi. Sementara itu, dr. Nina mengajak publik untuk tidak abai terhadap kesehatan mata, terutama karena banyak kasus kebutaan—seperti katarak, glaukoma primer, dan retinopati diabetik—dapat dicegah.
Data dari Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) di Indonesia menunjukkan bahwa 82 persen kebutaan di Indonesia sebenarnya dapat dihindari atau diobati. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh disebabkan oleh katarak yang tidak dioperasi. Pemerintah melalui program JKN-KIS sejatinya telah menanggung biaya operasi katarak di fasilitas kesehatan, namun masih banyak warga di pelosok yang enggan atau terlambat memanfaatkan layanan ini.
Langkah Konkret Mencegah Kebutaan Dini
Untuk mencegah kebutaan yang bisa dihindari, dr. Nina merinci beberapa langkah sederhana:
- Periksa mata rutin, minimal setahun sekali, terutama bagi individu di atas 40 tahun, penderita diabetes, dan yang memiliki riwayat keluarga katarak.
- Lindungi mata dari sinar UV dengan kacamata hitam dan topi lebar saat beraktivitas di bawah terik matahari.
- Konsumsi makanan kaya antioksidan seperti sayuran hijau, wortel, dan buah berewarna cerah yang mengandung lutein dan zeaxanthin.
- Hentikan kebiasaan merokok dan batasi paparan asap rokok, karena rokok menjadi faktor risiko utama percepatan katarak.
- Kendalikan gula darah untuk mencegah retinopati diabetik yang bisa berujung pada kebutaan permanen.
Sikap proaktif inilah yang diharapkan dapat menurunkan angka disabilitas netra akibat kondisi yang sesungguhnya masih dapat ditolong. Yusuf sendiri, meski kebutaan yang dialaminya bersifat kongenital dan tidak bisa dipulihkan, menjadi corong semangat bahwa hidup tidak berhenti hanya karena gelap di depan mata.
“Kalau saya bisa menghafal Al-Qur’an tanpa melihat, mengapa orang yang masih punya penglihatan justru enggan menjaga matanya?” pesan Yusuf, seolah menjadi kalimat penutup yang menyatukan dua narasi besar hari itu.
Sementara itu, proses pengukuhan nama Yusuf di Masjid Nabawi dijadwalkan akan dilakukan pada akhir tahun ini, bertepatan dengan puncak musim haji. Momen tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia, melainkan juga pengingat bahwa kesehatan mata dan semangat inklusivitas harus berjalan seiring.
[SOCIAL_TWEET]: Kisah haru Muhammad Yusuf, penghafal Quran tunanetra asal Sinjai yang akan diukir namanya di Masjid Madinah. Sementara di Jakarta, dr. Nina ingatkan katarak penyebab utama kebutaan yang bisa dicegah. #Tunanetra #Inspiratif #Katarak[SOCIAL_TG]: 📖🌟 Penyandang disabilitas netra dari Sinjai segera diukir namanya di Masjid Madinah! Dokter pun ingatkan bahaya katarak yang bikin buta, padahal bisa dioperasi. Klik untuk cerita lengkap.
Comments (0)