Penunjukan Destry Damayanti Dinilai Tepat untuk Stabilkan Rupiah
Mohamad Hekal, Wakil Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, menyampaikan penilaian positif terhadap pengangkatan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Jabatan (Pjs) Gubernur Bank Indonesia. Menurutnya,...
Mohamad Hekal, Wakil Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, menyampaikan penilaian positif terhadap pengangkatan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Jabatan (Pjs) Gubernur Bank Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya telah sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, tetapi juga menjadi pilihan strategis di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hekal menekankan bahwa keberlanjutan kepemimpinan di bank sentral merupakan fondasi penting dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter, terutama ketika pasar sedang bergerak dinamis. Ia meyakini Destry memiliki kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memimpin BI dalam periode transisi ini.
Kepatuhan pada Undang-Undang dan Legitimasi Kelembagaan
Dari segi regulasi, Hekal merujuk pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang telah beberapa kali diperbarui. Ketentuan dalam undang-undang tersebut secara jelas mengatur bahwa Deputi Gubernur Senior dapat mengisi kekosongan jabatan Gubernur apabila gubernur definitif berhalangan tetap atau menjalani masa transisi tertentu. Destry Damayanti, yang telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior sejak Agustus 2019, merupakan figur dengan hierarki jabatan tertinggi di internal BI setelah Gubernur. Hal ini memberikan legitimasi penuh. Hekal menambahkan, aturan itu dirancang untuk menjamin tidak ada kekosongan kewenangan di bank sentral, sehingga keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan stabilisasi rupiah, dapat tetap dijalankan tanpa jeda.
Profil dan Rekam Jejak Destry Damayanti
Destry bukan wajah baru di dunia perbankan sentral dan pasar keuangan. Sebelum bergabung dengan BI, ia pernah memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan memiliki pengalaman luas di sektor perbankan serta pasar modal. Pendidikan tinggi di bidang keuangan internasional, termasuk gelar doktor dari universitas ternama, menopang pemahaman mendalamnya tentang dinamika sistem moneter global. Dalam kapasitasnya sebagai Deputi Gubernur Senior, Destry kerap memimpin rapat dewan gubernur pada sektor moneter dan makroprudensial. Gaya komunikasinya yang lugas serta kemampuannya membangun koordinasi erat dengan pemerintah dan otoritas jasa keuangan dicatat sebagai aset signifikan. Ia juga dikenal sebagai pendukung stabilitas eksternal melalui intervensi forex yang terkalibrasi, serta kerangka operasi moneter yang pro-market.
Tekanan Rupiah dan Konteks Ekonomi Terkini
Pengangkatan Pjs Gubernur BI ini datang pada momen yang krusial. Berdasarkan data transaksi pasar valas, kurs rupiah sempat menyentuh level Rp16.180 per dolar Amerika Serikat pada kuartal ketiga tahun berjalan, atau melemah sekitar 5,2% secara year-on-year. Fundamental domestik yang relatif solid—seperti inflasi inti yang masih terkendali di kisaran 2,6% dan pertumbuhan kredit yang bertahan di atas 10%—belum sepenuhnya mampu membendung sentimen negatif dari eksternal. Ketidakpastian suku bunga acuan global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara maju, serta eskalasi konflik geopolitik memicu capital outflow dari pasar keuangan negara berkembang. Indeks harga saham gabungan sempat tertekan dan premi credit default swap (CDS) Indonesia merangkak naik, menunjukkan persepsi risiko yang meningkat.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran figur yang telah teruji menjadi penting. Hekal menilai Destry mampu memberikan sinyal bahwa Bank Indonesia tetap siaga dengan segala instrumen yang dimiliki. Ia menyebutkan bahwa BI memiliki amunisi cadangan devisa yang masih tebal—tercatat sebesar 140 miliar dolar AS per akhir bulan lalu—sehingga memiliki ruang intervensi yang memadai. Selain itu, Destry selama ini konsisten mendorong pendalaman pasar keuangan, termasuk pengembangan pasar domestic non deliverable forward (DNDF) dan penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi bilateral. Langkah-langkah tersebut dinilai efektif untuk menyerap guncangan kurs.
Peran Stabilitas Nilai Tukar terhadap Perekonomian
Hekal menekankan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya berdampak pada neraca dagang, tetapi menyentuh seluruh aspek perekonomian. Depresiasi yang berlebihan berpotensi memicu inflasi barang impor, mengerek biaya produksi dalam negeri, dan membebani utang luar negeri korporasi. Sebaliknya, stabilitas kurs memberikan kepastian bagi investor dan menjaga daya beli masyarakat. Destry, dengan pengalaman di LPS serta pemahamannya terhadap risiko sistemik, dinilai memiliki sensitivitas terhadap transmisi dari nilai tukar ke sektor riil. Ia juga kerap mengingatkan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menghadapi external shock.
Lebih lanjut, komisi XI DPR memandang Destry sebagai teknokrat yang rendah hati namun tegas dalam mengambil sikap. Ia tidak ragu untuk menyampaikan pandangan yang kadang berbeda dengan pelaku pasar, asalkan dilandasi data dan proyeksi yang solid. Analisisnya terhadap suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) berikut dampaknya terhadap imbal hasil surat utang Indonesia kerap menjadi acuan. Dalam beberapa kesempatan, Destry menyatakan bahwa BI tidak akan mengekor The Fed secara membabi buta, melainkan akan memperhitungkan kondisi inflasi domestik dan kebutuhan pendanaan sektor strategis.
Ekspektasi Pasar dan Harapan ke Depan
Pelaku pasar menyambut penunjukan ini dengan optimisme terukur. Analis dari lembaga riset independen mencatat bahwa suksesi yang mulus dapat meredam volatilitas rupiah dalam jangka pendek. Suku bunga acuan BI (BI-Rate) yang saat ini berada di level 6,25% diproyeksikan akan tetap ditahan hingga akhir tahun, sembari menunggu sinyal dari The Fed. Destry diperkirakan akan melanjutkan strategi triple intervention yang telah menjadi andalan BI: di pasar spot valas, Domestic NDF, dan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder. Hekal menambahkan bahwa DPR akan terus mengawasi kinerja BI, tetapi saat ini ia yakin tugas stabilisasi kurs berada di tangan yang tepat.
Ke depan, tantangan tetap besar. Normalisasi kebijakan moneter global masih menyisakan ketidakpastian, sementara pemulihan ekonomi domestik harus dijaga agar tidak kehilangan momentum. Destry dijadwalkan memimpin rapat dewan gubernur bulanan yang akan menjadi penanda penting bagi arah kebijakan BI. Para pengamat berharap komunikasi publik yang jernih dari pimpinan baru akan mampu mengelola ekspektasi dan memperkuat kepercayaan pasar. Sebagaimana dikutip dari pernyataan Hekal, integritas dan kapabilitas Destry menjadi modal utama untuk memastikan rupiah tetap bergerak dalam trajektori yang sesuai fundamental, tanpa mengorbankan stabilitas sektor luar negeri maupun pertumbuhan kredit.
Comments (0)