Penumpang Kereta Api Sumatera Meningkat di Lima Rute

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengumumkan lonjakan penumpang yang cukup signifikan pada layanan kereta api penumpang di Pulau Sumatera. Berdasarkan catatan internal perusahaan per akhir kuartal pe...

Jul 12, 2026 - 05:14
0 0

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengumumkan lonjakan penumpang yang cukup signifikan pada layanan kereta api penumpang di Pulau Sumatera. Berdasarkan catatan internal perusahaan per akhir kuartal pertama 2025, lima rute utama yang membentang di tiga provinsi — Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara — mencatatkan kenaikan volume penumpang rata-rata 18,5 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini menjadi indikator positif pulihnya mobilitas masyarakat dan menggeliatnya aktivitas ekonomi di luar Pulau Jawa.

Kenaikan tertinggi terjadi pada rute jarak menengah yang menghubungkan sentra-sentra ekonomi lokal. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah penumpang pada kelima rute tersebut menembus angka 2,3 juta orang, naik dari 1,94 juta orang. Peningkatan ini didorong oleh beberapa faktor, mulai dari membaiknya daya beli masyarakat, harga tiket yang kompetitif, hingga peningkatan kualitas layanan di stasiun dan di atas kereta.

Rincian Lima Rute dengan Pertumbuhan Tertinggi

PT KAI Divisi Regional Sumatera mengidentifikasi lima rute yang menjadi motor penggerak kenaikan ini. Pertama, kereta api Rajabasa yang melayani koridor Tanjungkarang (Lampung)–Kertapati (Palembang) dengan jarak tempuh sekitar 400 kilometer. Rute ini mencatatkan pertumbuhan penumpang 22 persen yoy, ditopang oleh meningkatnya frekuensi perjalanan bisnis dan perdagangan antara dua provinsi. Kedua, Limex Sriwijaya rute Kertapati–Lubuklinggau, yang menjadi andalan mobilitas masyarakat Sumatera Selatan bagian barat, naik 17 persen.

Di Sumatera Utara, tiga rute menonjol. Ketiga, kereta Sribilah jurusan Medan–Rantau Prapat (Labuhanbatu) mengalami kenaikan 19 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas perkebunan dan perdagangan hasil bumi. Keempat, Putri Deli rute Medan–Tanjungbalai, yang tumbuh 16,8 persen, banyak diminati pelajar dan pekerja komuter. Terakhir, kelima, kereta Siantar Ekspres rute Medan–Pematang Siantar, yang mencatat kenaikan 15,2 persen, didorong oleh geliat pariwisata Danau Toba dan kota-kota sekitarnya.

Dua Sisi Peningkatan Mobilitas

Di satu sisi, tren kenaikan ini membawa angin segar bagi perekonomian regional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkini, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan mencapai 4,9 persen dan Sumatera Utara 5,1 persen pada triwulan I-2025, di atas rata-rata nasional. Aktivitas penumpang kereta yang semakin tinggi menjadi salah satu transmisi pertumbuhan, karena memperlancar arus barang dan jasa, menghidupkan sektor perhotelan, kuliner, dan usaha mikro di sekitar stasiun. “Ini sinyal bahwa konektivitas antarwilayah kian solid. Masyarakat kini lebih memilih moda kereta karena ketepatan waktu dan kenyamanannya,” ujar seorang pengamat transportasi dari lembaga riset independen.

Di sisi lain, lonjakan penumpang juga memunculkan tantangan operasional. Tingkat okupansi di sejumlah perjalanan pada akhir pekan dan musim liburan sudah menyentuh 110 persen dari kapasitas tempat duduk (dengan penumpang berdiri di kelas ekonomi), yang dapat mengurangi kenyamanan. Infrastruktur jalur yang masih banyak berupa rel tunggal (single track) di beberapa segmen, terutama di koridor Medan–Rantau Prapat dan Lubuklinggau, membatasi penambahan frekuensi. Di sinilah perspektif risiko muncul: jika kapasitas tidak segera ditingkatkan, potensi pertumbuhan penumpang bisa tertahan, atau bahkan beralih kembali ke moda jalan raya yang kini juga didukung jalan tol yang terus merambat.

Kritikus juga menyoroti disparitas rasio elektrifikasi dan keterbatasan armada. “Kita belum bisa serta merta menikmati pertumbuhan ini sebagai prestasi mutlak. Kereta api Sumatera butuh investasi besar untuk jalur ganda, elektrifikasi, dan pengadaan rangkaian baru. Kalau tidak, peluang ekonomi dari kenaikan penumpang bisa tidak optimal,” demikian catatan ekonom dari sebuah bank investasi. PT KAI sendiri menyadari hal ini. Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengakui bahwa peningkatan pendapatan dari sektor penumpang akan dialokasikan sebagian untuk peremajaan sarana dan prasarana, termasuk pengadaan kereta ekonomi kelas baru yang lebih ergonomis, serta penambahan gerbong pada rute-rute dengan permintaan tinggi.

Proyeksi dan Strategi ke Depan

Melihat momentum positif, PT KAI memproyeksikan total penumpang di lima rute andalan bisa menembus 3 juta orang akhir tahun 2025, atau naik sekitar 25 persen dibanding realisasi 2024. Untuk itu, strategi jangka pendek dijalankan, antara lain penambahan frekuensi perjalanan pada akhir pekan, diskon tarif progresif, serta integrasi tiket digital dengan moda lokal seperti bus dan angkutan kota. Di samping itu, KAI mempercepat penyelesaian pembangunan jalur ganda di segmen Medan–Tebing Tinggi, yang diharapkan rampung akhir 2026, sehingga akan meningkatkan kapasitas lintas secara signifikan.

Kenaikan penumpang kereta Sumatera ini menjadi potret bahwa moda rel bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilihan utama bagi kelas menengah dan para pelaku ekonomi. Meski demikian, keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas layanan harus terus dijaga agar kereta api dapat menjadi tulang punggung konektivitas yang berkelanjutan, sekaligus meredam risiko kemacetan dan emisi karbon di jalan raya Sumatera. Dengan fundamental ekonomi regional yang kuat dan sentimen pasar yang mulai bergeser ke moda transportasi massal, masa depan perkeretaapian di pulau ini tampak semakin cerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User