Pengusaha Suku Cadang Soroti Proyek Mobil Nasional Probowo dan Tekanan China
Kalangan pengusaha komponen otomotif menyampaikan pandangan kritis sekaligus penuh harapan terhadap rencana Probowo mewujudkan mobil nasional. Di satu sisi, proyek ini dinilai bisa menjadi momentum ke...
Kalangan pengusaha komponen otomotif menyampaikan pandangan kritis sekaligus penuh harapan terhadap rencana Probowo mewujudkan mobil nasional. Di satu sisi, proyek ini dinilai bisa menjadi momentum kebangkitan industri dalam negeri; di sisi lain, derasnya penetrasi produk China menuntut strategi yang jauh lebih matang dari sekadar semangat nasionalisme. Kekhawatiran utama terletak pada kesiapan rantai pasok lokal untuk memenuhi standar kualitas dan harga yang kompetitif.
Realitas Daya Saing Komponen Lokal
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kendaraan bermotor di Indonesia rata‑rata masih di kisaran 40–50 persen untuk mobil penumpang, jauh dari target ideal 70 persen. Komponen bernilai tambah tinggi seperti engine control unit, transmisi otomatis, dan sistem keselamatan aktif mayoritas masih diimpor dari Jepang, Thailand, serta kini semakin banyak dari Tiongkok. Ketua Asosiasi Pemasok Komponen Otomotif (APKO) yang hadir dalam diskusi virtual mengungkapkan, “Tanpa kepastian volume produksi yang besar, investasi di lini komponen lokal sangat sulit dikalkulasi. Proyek mobil nasional harus dihitung secara ekonomi, bukan hanya politik.”
Investasi pembukaan mould dan dies untuk satu jenis komponen bisa mencapai Rp10–20 miliar, sehingga skala produksi minimal 50 ribu unit per tahun mutlak diperlukan agar harga per unit tidak lebih mahal 30–40 persen dibandingkan barang impor. Pengusaha suku cadang kecil dan menengah yang mengisi ceruk pasar purnajual juga menyatakan siap menjadi bagian rantai pasok asalkan pemerintah memberikan insentif alat produksi dan kemudahan sertifikasi. “Kami tidak butuh janji, kami butuh skema konkret seperti tax holiday untuk investasi line produksi baru dan kepastian kontrak jangka panjang,” tegas salah satu pemilik bengkel bubut presisi di Tangerang.
Gempuran Produk China yang Multilapis
Tekanan dari produk otomotif China tidak hanya datang dari mobil listrik murah yang kini membanjiri pasar global. Pasar komponen independen juga diserbu suku cadang impor dengan selisih harga yang bisa separuh lebih rendah dari buatan dalam negeri. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor suku cadang kendaraan dari Tiongkok sepanjang kuartal I‑2025 melesat 112 persen secara year‑on‑year, menembus US$340 juta. Komponen bodi, kaki‑kaki, dan elektronik seperti sensor mendominasi, memanfaatkan ekosistem produksi massal yang mumpuni di negeri tirai bambu.
“Ini bukan lagi soal dumping, tapi soal fundamental biaya produksi mereka yang sangat efisien,” ujar seorang pengusaha komponen setelah mengikuti pameran Guangzhou Auto Parts Expo. Ia mencontohkan, harga control arm untuk segmen low MPV buatan lokal adalah Rp750 ribu per unit, sementara produk serupa dari China dijual hanya Rp320 ribu dengan kualitas yang tidak kalah. Tentu, ada isu aftermarket palsu yang merusak reputasi, tetapi suku cadang OEM original dari pabrikan China yang sudah menjalin kerja sama dengan merek global juga semakin mendominasi. Dalam konteks proyek mobil nasional, ketergantungan pada komponen China berpotensi menggerus nilai tambah lokal jika Probowo tidak menetapkan ambang batas TKDN yang lebih ketat dan mekanisme verifikasi yang rigid.
Antara Proteksi dan Kolaborasi Teknologi
Para pengusaha suku cadang tidak menolak kehadiran produk China sepenuhnya. Sebagian justru sudah menjalin aliansi teknis dengan pabrikan Tiongkok untuk memproduksi komponen tertentu di Indonesia melalui skema patungan. “Kita tidak bisa menutup pintu, tapi harus mengendalikan arus lewat kebijakan safeguard yang terukur,” kata pemilik perusahaan penyuplai knalpot dan katalitik konverter. Ia berharap proyek mobil nasional menjadi katalis bagi tumbuhnya basis komponen berteknologi menengah-tinggi, seperti baterai dan motor listrik, yang saat ini belum banyak diproduksi di dalam negeri.
Pemerintah, melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional, sebenarnya sudah mengembangkan prototipe motor listrik dan inverter, tetapi transisi ke produksi massal masih terkendala minimnya pendanaan dan konsorsium industri. Pengusaha melihat peluang jika Probowo berani memadukan antara target kendaraan listrik murah dan kebijakan local content requirement yang agresif namun realistis. “Beri kami kejelasan peta jalan komponen mana yang wajib diproduksi lokal dan mana yang boleh impor sementara. Kami butuh tiga hingga lima tahun untuk menyiapkan supply base,” tandasnya.
Proyeksi dan Konsekuensi Ekonomi
Jika mobil nasional Probowo hanya mengandalkan perakitan semi-knock-down dengan komponen utama impor, dampaknya terhadap ekonomi nasional akan terbatas pada serapan tenaga kerja perakitan yang tak lebih dari 5.000 orang. Sebaliknya, penetrasi lokal 70 persen pada volume 100 ribu unit per tahun berpotensi menciptakan 15–20 ribu lapangan kerja di sektor komponen dan melipatgandakan efek pengganda pendapatan hingga 2,7 kali lipat, mengacu pada studi Bank Indonesia tentang rantai pasok otomotif.
Namun tantangannya adalah harga jual. Agar bisa bersaing dengan LCGC dan city car China yang dijual Rp120–150 juta, mobil nasional dengan TKDN tinggi harus mendapat keringanan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) hingga nol persen, pembebasan bea masuk, serta insentif PPh badan. Tanpa itu, pengusaha komponen pesimistis target harga bisa tercapai. “Pemerintah harus memilih: memihak konsumen dengan harga murah tapi komponen impor, atau membangun industri yang kuat tapi butuh waktu,” ujar ekonom yang turut diwawancara secara terpisah.
Pada akhirnya, sikap pengusaha suku cadang adalah cermin dari dilema yang akan dihadapi Probowo: mewujudkan visi mobil nasional yang sesungguhnya sulit dilakukan tanpa keberpihakan nyata pada industri lokal, sementara konsumen semakin teredukasi oleh alternatif murah dari Tiongkok. Kolaborasi alih teknologi dan kebijakan yang konsisten diyakini menjadi kunci untuk mengubah ancaman menjadi peluang.
Baca juga:
Comments (0)