IHSG Ditutup Positif, Rupiah Masih Tertekan di Rp18.000

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (24/5/2024), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat penguatan sebesar 0,52% ke posisi 7.185,61. ...

IHSG Ditutup Positif, Rupiah Masih Tertekan di Rp18.000

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (24/5/2024), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat penguatan sebesar 0,52% ke posisi 7.185,61. Penguatan ini menandai reli singkat setelah sebelumnya berkonsolidasi selama tiga hari perdagangan. Namun, di pasar valuta asing, rupiah belum lepas dari tekanan, bertahan di level Rp18.020 per dolar Amerika Serikat (AS) menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Dua Wajah Pasar: Optimisme Bursa, Peso Domestik

Di satu sisi, lonjakan IHSG didorong oleh masuknya dana asing ke pasar saham. Data BEI mencatat investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp850 miliar pada perdagangan kemarin, memperpanjang tren inflow yang sudah terlihat sejak awal Mei. Sektor keuangan dan teknologi menjadi penopang utama, dengan saham-saham bank besar seperti BBCA dan BBRI naik masing-masing 1,2% dan 0,8%. Sentimen positif juga datang dari global: rilis data inflasi inti AS yang melandai ke 3,4% year-on-year (YoY)—terendah dalam tiga bulan—mengerek ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga pada kuartal ketiga. Bagi pasar emerging seperti Indonesia, sinyal itu berarti potensi membaiknya aliran modal dan rendahnya risiko pembalikan arah (taper tantrum).

Di sisi lain, rupiah justru bergeming di zona merah. Meski indeks dolar AS (DXY) melemah tipis ke 104,7, mata uang Garuda tak mampu memanfaatkan celah. Tekanan datang dari kebutuhan valas korporasi menjelang akhir bulan, serta defisit transaksi berjalan yang masih mencatat defisit 0,6% dari PDB pada kuartal pertama 2024. Transaksi berjalan yang negatif—artinya Indonesia lebih banyak membayar ke luar negeri daripada menerima pendapatan—membuat permintaan dolar tetap tinggi. Bank Indonesia (BI) sejatinya telah menaikkan suku bunga acuan ke 6,25% bulan lalu, tetapi efeknya terhadap stabilitas rupiah masih tertunda karena investor wait-and-see terhadap keputusan The Fed.

Data Makro dan Intervensi Bank Sentral

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan cadangan devisa Indonesia per akhir April 2024 tercatat 129,4 miliar dolar AS, turun tipis dari 131,1 miliar dolar AS pada Maret. Penurunan itu antara lain disebabkan oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri dan intervensi BI untuk menahan laju pelemahan rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bahwa bank sentral siap melakukan triple intervention—di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder—guna menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, dengan suku bunga The Fed masih bertahan di 5,25%–5,50%, differensial imbal hasil antara Indonesia dan AS belum cukup lebar untuk menarik aliran portofolio yang masif.

“Rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama arah kebijakan The Fed dan tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan dolar sebagai aset aman. IHSG bisa melaju karena valuasi saham kita yang relatif murah dan ekspektasi pemulihan pendapatan emiten, tetapi rupiah perlu waktu untuk konsolidasi,” jelas Ekonom Senior Bank Mandiri, Faisal Rachman, dalam wawancara Jumat sore.

Ia menambahkan bahwa investor perlu mencermati pergerakan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang masih bertahan di atas 4,5%, karena setiap kenaikan yield bisa memicu capital outflow dari pasar emerging.

Dampak ke Sektor Riil dan Portofolio Investor

Pelemahan rupiah yang persisten—sejak awal tahun nilai tukar sudah terdepresiasi 4,8%—mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap sektor riil. Importir bahan baku dan barang modal akan merasakan lonjakan biaya, yang dapat mengerek harga jual dan inflasi inti. Sementara itu, eksportir sektor komoditas sebetulnya diuntungkan oleh pendapatan dolar yang lebih besar saat dikonversi ke rupiah, namun efek itu tertahan oleh koreksi harga komoditas global seperti batu bara dan minyak sawit mentah. Indeks Manufaktur Indonesia (PMI) April 2024 berada di 49,5, masih di zona kontraksi, yang menunjukkan bahwa permintaan domestik masih lesu.

Bagi investor pasar modal, divergensi antara IHSG dan rupiah menciptakan dilema alokasi aset. Portofolio yang terpapar saham dapat menikmati capital gain jangka pendek, tetapi risiko nilai tukar bisa menggerus imbal hasil jika dana dilikuidasi ke dalam dolar. Alhasil, beberapa manajer investasi mulai menaikkan porsi SBN karena imbal hasil obligasi 10 tahun yang sudah menyentuh 7,05%, memberikan premium risiko yang menarik dengan dukungan BI.

Prospek: Konsolidasi atau Breakout?

Melihat ke depan, sejumlah analis memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan kenaikan dengan target resisten di 7.250, selama tidak ada kejutan negatif dari eksternal. Sementara itu, rupiah diproyeksi akan bergerak di rentang Rp17.800–Rp18.200 dalam satu hingga dua pekan ke depan. Katalis penting yang ditunggu adalah rilis risalah rapat The Fed (FOMC minutes) awal Juni dan data tenaga kerja AS, yang akan memperjelas prospek pemangkasan suku bunga. Di dalam negeri, akan ada penawaran sukuk global pemerintah yang bisa memperkuat cadangan devisa jika permintaan kuat.

Pada akhirnya, pergerakan IHSG dan rupiah merupakan cerminan dari kisah dua pasar yang berbeda: pasar saham lebih mencerminkan ekspektasi pertumbuhan dan likuiditas global, sedangkan rupiah dipengaruhi oleh fundamental makro dan intervensi. Meski akhir pekan ditutup dengan dua wajah kontras, sinergi antara kebijakan BI dan pergerakan global akan menjadi penentu arah pekan depan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User