Pengusaha Kini Harus Melek Teknologi, Pesan Tegas Chairul Tanjung

Yogyakarta – Di tengah gegap gempita transformasi digital yang kian deras, pemahaman terhadap teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sudah menjadi prasyarat mutlak bagi setiap pelaku u...

Pengusaha Kini Harus Melek Teknologi, Pesan Tegas Chairul Tanjung

Yogyakarta – Di tengah gegap gempita transformasi digital yang kian deras, pemahaman terhadap teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sudah menjadi prasyarat mutlak bagi setiap pelaku usaha. Pesan ini disampaikan dengan lugas oleh pendiri CT Corp, Chairul Tanjung, dalam sebuah forum ekonomi yang digelar di Yogyakarta. Ia menekankan bahwa lanskap bisnis modern telah bergeser secara fundamental, dan pengusaha yang tidak membekali diri dengan literasi digital berisiko terpinggirkan dari persaingan. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari pelaku UMKM, mahasiswa, serta pegiat ekonomi kreatif.

Chairul Tanjung, yang akrab disapa CT, mengurai bagaimana teknologi telah merombak rantai nilai di hampir semua sektor. Era ketika sebuah bisnis bisa bertahan hanya dengan mengandalkan jaringan pertemanan dan lokasi strategis perlahan mulai ditinggalkan. Kini, medan pertempuran justru bergeser ke platform digital, di mana jangkauan pasar, efisiensi operasional, dan kecepatan adaptasi menjadi kunci penentu kemenangan. Ia tidak sedang membayangkan masa depan utopis; ia sedang memotret realitas hari ini yang sudah terjadi di depan mata.

E-Commerce Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Baru

Salah satu poin paling tajam yang disorot CT adalah peran vital e-commerce dalam arsitektur bisnis kekinian. Menurutnya, perdagangan elektronik bukan cuma kanal penjualan alternatif, melainkan sudah menjelma menjadi tulang punggung utama bagi pelaku usaha, dari skala mikro hingga korporasi besar. Data transaksi digital yang terus meroket menjadi bukti sahih bahwa konsumen telah bermigrasi secara masif ke ranah daring. Pengusaha yang absen dari ekosistem e-commerce, tegasnya, sama saja dengan menutup diri dari denyut nadi pasar yang sesungguhnya.

Ia mencontohkan bagaimana sebuah produk yang dihadirkan di marketplace nasional dapat langsung diakses oleh puluhan juta pengguna aktif, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh gerai fisik konvensional. Selain itu, e-commerce membuka peluang efisiensi rantai pasok melalui integrasi inventory digital, sistem pembayaran elektronik, dan layanan logistik terintegrasi. Bagi CT, keunggulan ini bukan lagi rahasia; justru menjadi pengetahuan dasar yang wajib dikuasai oleh tiap pengusaha yang ingin tetap relevan.

Tantangan Literasi Digital dan Keberanian Berinovasi

Meski optimistis dengan potensi besar ekonomi digital, CT tidak menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih menganga lebar. Masih banyak pengusaha yang memandang teknologi sebagai ancaman, bukan alat pemberdayaan. Ketakutan akan kompleksitas sistem dan rasa nyaman dalam zona konvensional kerap menjadi penghalang utama. Di sinilah, kata CT, dibutuhkan nyali untuk keluar dari kemapanan dan berani melakukan eksperimen dengan model bisnis baru.

Ia mendorong para pelaku UMKM untuk tidak hanya berhenti pada tahap mendaftarkan toko di platform jual beli, tetapi juga aktif mempelajari analitik data sederhana, pemanfaatan media sosial untuk membangun merek, serta eksplorasi kanal distribusi digital lainnya. Teknologi, menurutnya, harus diposisikan sebagai mitra strategis yang mampu mempercepat proses pengambilan keputusan dan memperluas jangkauan pasar dengan biaya yang jauh lebih rendah ketimbang metode tradisional.

Pandangan ini sejalan dengan sejumlah riset yang menunjukkan bahwa adopsi teknologi digital berkorelasi erat dengan ketahanan usaha, terutama saat krisis. Di masa pandemi misalnya, bisnis yang sudah terhubung dengan ekosistem digital terbukti lebih lentur dan cepat pulih. CT menggarisbawahi bahwa momentum digitalisasi tidak boleh disia-siakan, karena gelombang selanjutnya—seperti kecerdasan buatan dan Internet of Things—sudah menanti di ambang pintu.

Transformasi Pola Pikir, Bukan Sekadar Alat

Lebih jauh, Chairul Tanjung mengingatkan bahwa penguasaan teknologi bukan hanya soal kepemilikan gawai atau aplikasi mutakhir, melainkan transformasi pola pikir secara menyeluruh. Seorang pengusaha modern, ujarnya, harus mampu membaca tren digital, memahami perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis, dan secara proaktif menyesuaikan strategi. Mereka yang menganggap digitalisasi cukup dengan mengganti mesin tik menjadi laptop, tanpa mengubah cara berpikir dan budaya kerja, akan tetap tertinggal.

Ia juga mendorong institusi pendidikan dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuhnya wirausaha berbasis teknologi. Mulai dari penyederhanaan regulasi, perluasan akses pembiayaan untuk inovasi, hingga penyediaan infrastruktur internet yang merata di pelosok negeri. Menurutnya, kolaborasi antara sektor swasta, akademisi, dan pemerintah menjadi fondasi penting agar ekonomi digital Indonesia tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga inklusif dan berkeadilan.

Di penghujung paparannya, CT mengajak seluruh hadirin untuk tidak sekadar menjadi penonton di tengah revolusi industri keempat. Dengan nada penuh keyakinan, ia mengatakan bahwa generasi pengusaha saat ini memiliki kesempatan emas yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya: kesempatan untuk membangun bisnis berskala global hanya dari balik layar telepon genggam. Tapi peluang itu hanya bisa digenggam oleh mereka yang paham teknologi, mau terus belajar, dan berani melangkah meninggalkan cara-cara lama. Pesan ini menjadi penutup yang menggetarkan, sekaligus pemicu semangat bagi para pengusaha muda yang memadati ruangan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User