CT Corner: Kunci Sukses Wirausaha Adalah Menciptakan Peluang
Dalam gelaran Jogja Financial Festival yang digelar akhir pekan lalu, tokoh bisnis nasional CT Corner membagikan pandangannya mengenai esensi kewirausahaan. Ia menegaskan bahwa menjadi pengusaha bukan...
Dalam gelaran Jogja Financial Festival yang digelar akhir pekan lalu, tokoh bisnis nasional CT Corner membagikan pandangannya mengenai esensi kewirausahaan. Ia menegaskan bahwa menjadi pengusaha bukan sekadar membaca tren, melainkan kemampuan untuk membentuk peluang dari kondisi apa pun. Pernyataan ini menjadi sorotan mengingat banyaknya anak muda yang kini tertarik merintis usaha, tetapi kerap terhambat oleh ketidakpastian ekonomi dan minimnya akses permodalan.
Entrepreneurship Bukan Sekadar Niat, tapi Pola Pikir Pencipta
CT mengawali pemaparannya dengan membedah perbedaan mendasar antara pedagang dan wirausahawan sejati. Pedagang, menurutnya, cenderung mengikuti arus permintaan yang sudah ada. Sementara seorang entrepreneur harus mampu melihat sesuatu yang tidak kasat mata—kebutuhan masa depan yang bahkan belum dianggap sebagai kebutuhan oleh calon konsumen. Ia mencontohkan bagaimana bisnis teknologi finansial di Indonesia lahir bukan karena masyarakat memintanya, melainkan karena para inovator melihat celah: kesenjangan inklusi keuangan yang mencapai lebih dari 50 persen populasi dewasa. Di sinilah letak kemampuan menciptakan peluang.
Dalam perspektif ekonomi, pola pikir pencipta ini sejalan dengan konsep disruptive innovation yang diperkenalkan oleh Clayton Christensen. Pelaku usaha tidak hanya merespons pasar, tetapi membentuk pasar baru. Di Indonesia, peluang pembentukan pasar baru masih sangat luas. Data Badan Pusat Statistik per Februari 2025 menunjukkan jumlah angkatan kerja mencapai 150 juta jiwa, namun rasio wirausaha terhadap populasi masih di kisaran 4 persen. Ruang penciptaan peluang terbentang dari sektor pertanian berbasis digital hingga solusi kesehatan masyarakat daerah tertinggal.
Kegagalan: Modal Berharga yang Sering Terabaikan
Dalam sesi tanya jawab, CT tak sungkan menceritakan tahun-tahun awal perjalanan bisnisnya yang penuh tikungan tajam. Ia menegaskan bahwa kegagalan bukanlah lawan kesuksesan, melainkan komponen integral menuju sukses. “Kalau kita tidak pernah gagal, mungkin kita tidak pernah mencoba sesuatu yang cukup ambisius,” ucapnya. Statistik global mengamini pernyataan ini: sekitar 70 persen perusahaan rintisan tidak bertahan hingga tahun kelima, namun pendiri yang pernah gagal justru memiliki probabilitas lebih tinggi mendirikan bisnis yang berkelanjutan di percobaan kedua.
Melihat lebih dalam, kegagalan dalam konteks bisnis sering kali bersumber dari asimetri antara proyeksi dan eksekusi. Ketika seorang pengusaha pemula, misalnya, menetapkan target penjualan tanpa memperhitungkan volatilitas harga bahan baku, selisih tersebut bisa langsung menggerus margin. Pengalaman seperti ini, menurut CT, tidak bisa dipelajari di bangku kuliah. Hanya bisa dirasakan langsung. Yang terpenting adalah bagaimana pengusaha merespons: apakah segera menyusun ulang model bisnis, atau memilih berhenti.
Strategi Konkret Menciptakan Peluang bagi Calon Pengusaha
CT merangkum tiga langkah praktis yang bisa ditempuh oleh generasi muda yang ingin menciptakan peluang. Pertama, identifikasi masalah berulang di sekitar lingkungan sendiri. Masalah yang muncul setiap hari adalah sinyal paling jelas dari kebutuhan yang belum terpenuhi. Kedua, validasi dengan skala kecil. Alih-alih langsung mencari pendanaan miliaran rupiah, calon pengusaha cukup menguji prototipe kepada 20–30 orang terdekat. Proses ini akan menghemat biaya eksperimen sekaligus memberikan data riil tentang ketertarikan pasar. Ketiga, siapkan mental untuk iterasi cepat. Peluang yang diciptakan jarang langsung sempurna; ia menyerupai tanah liat yang terus-menerus perlu dibentuk ulang berdasarkan umpan balik.
Jika dikaitkan dengan kondisi makroekonomi, langkah ini menjadi semakin relevan. Suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih berada di level 5,75 persen membuat akses kredit tidak murah, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki riwayat keuangan solid. Di sisi lain, tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2025 mencatat pertumbuhan year-on-year sebesar 4,9 persen, didorong oleh sektor makanan-minuman dan perlengkapan rumah tangga. Angka ini menunjukkan bahwa pada saat yang sama, daya beli masyarakat masih bergerak, hanya saja menuntut inovasi yang lebih bernilai. Dengan demikian, pendekatan menciptakan peluang dari masalah nyata akan lebih cocok dibandingkan sekadar menambah pemain di pasar yang sudah sesak.
Pandangan CT ini selaras dengan pesan para ekonom senior yang kerap menyuarakan pentingnya peningkatan kapasitas wirausaha untuk menghadapi bonus demografi Indonesia yang mencapai puncaknya pada 2030. Jika populasi usia produktif yang mendominasi tidak dibekali keterampilan menciptakan lapangan kerja sendiri, mereka hanya akan menambah tekanan pada sektor formal yang sedang melambat. Oleh karena itu, penanaman mentalitas pencipta peluang harus dimulai sejak dini, bahkan jauh sebelum seseorang memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis.
Pada akhirnya, CT menutup dengan pengingat bahwa kewirausahaan adalah maraton, bukan lari cepat. “Peluang tidak akan datang menjemput kita. Kitalah yang harus membangun jalannya,” tutupnya, disambut tepuk tangan ratusan peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa dan profesional muda.
Baca juga:
Comments (0)