Pengungsi Gempa NTT di Marapokot Bertahan Menanti Bantuan

Puluhan warga terlihat mencuci peralatan masak di samping tenda-tenda darurat di sebuah lapangan terbuka di Marapokot, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Tim

Aug 20, 2026 - 18:41
0 0
Pengungsi Gempa NTT di Marapokot Bertahan Menanti Bantuan

Puluhan warga terlihat mencuci peralatan masak di samping tenda-tenda darurat di sebuah lapangan terbuka di Marapokot, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 17 Agustus 2026. Pemandangan itu terekam dalam dokumentasi foto AFP yang diabadikan fotografer Juni Kriswanto, menggambarkan kehidupan para pengungsi gempa yang masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menanti bantuan.

Gempa yang mengguncang wilayah NTT telah memaksa ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka. Lapangan terbuka di Marapokot menjadi salah satu titik penampungan, dengan tenda-tenda berdiri berjajar sebagai tempat berlindung sementara. Aktivitas warga mencuci peralatan masak di samping tenda menjadi penanda bahwa kebutuhan air bersih dan sanitasi menjadi perhatian utama di lokasi pengungsian. Kabupaten Nagekeo sendiri terletak di Pulau Flores, salah satu wilayah yang kerap diguncang aktivitas seismik.

Rutinitas Harian di Lokasi Pengungsian

Kehidupan di pengungsian berjalan dengan segala keterbatasan. Warga bergantian memanfaatkan fasilitas seadanya untuk memasak, mencuci, dan memenuhi kebutuhan harian lainnya. Peralatan masak yang dicuci di samping tenda menjadi pemandangan yang lazim, seiring terbatasnya fasilitas air bersih. Meski demikian, para pengungsi berusaha menjaga kebersihan demi mencegah munculnya penyakit yang kerap mengintai di tengah kondisi darurat pascabencana. Anak-anak terlihat ikut membantu orang tua, sementara kaum perempuan sibuk mengurus keperluan dapur keluarga.

Kronologi Kejadian di Marapokot

  1. Gempa mengguncang wilayah NTT dan sekitarnya, menyebabkan kerusakan sejumlah bangunan dan memaksa warga keluar rumah.
  2. Warga Marapokot dan wilayah terdampak lainnya bergerak menuju lapangan terbuka yang dinilai lebih aman dari potensi bangunan runtuh.
  3. Tenda-tenda darurat didirikan secara mandiri dan gotong royong oleh warga sebagai tempat berlindung sementara.
  4. Rutinitas pengungsian pun dimulai, termasuk kegiatan memasak dan mencuci peralatan masak di samping tenda, seperti yang terekam pada Senin, 17 Agustus 2026.
  5. Hingga kini, warga masih menanti distribusi bantuan logistik dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan agar kebutuhan dasar terpenuhi.

17 Agustus di Tengah Tenda Pengungsian

Momen dokumentasi foto tersebut jatuh bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Alih-alih merayakan di rumah masing-masing, para pengungsi Marapokot menjalani hari bersejarah itu di tenda-tenda darurat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah perayaan kemerdekaan, masih ada warga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascagempa. Momen itu sekaligus menunjukkan ketangguhan warga yang tetap menjalani kehidupan sehari-hari di tengah keterbatasan.

Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah kebutuhan mendesak masih menanti kepastian pemenuhan. Air bersih menjadi kebutuhan paling utama, mengingat aktivitas mencuci dan memasak dilakukan dengan fasilitas serba terbatas. Selain air bersih, kebutuhan lain yang mendesak antara lain:

  • Pasokan makanan siap saji dan bahan pokok untuk ratusan jiwa pengungsi
  • Air bersih untuk minum, memasak, dan sanitasi harian
  • Obat-obatan dan layanan kesehatan darurat di lokasi pengungsian
  • Selimut, alas tidur, serta perlengkapan dapur keluarga
  • Perbaikan tenda dan penambahan kapasitas penampungan
  • Pendampingan psikososial bagi anak-anak, perempuan, dan lansia

Fotografer AFP Juni Kriswanto mendokumentasikan momen warga mencuci peralatan masak tersebut pada Senin, 17 Agustus 2026. Dokumentasi ini menjadi penanda bahwa di tengah keterbatasan, para pengungsi tetap menjaga kebersihan dan martabat mereka sambil menanti bantuan yang dijanjikan pemerintah dan lembaga kemanusiaan.

Harapan di Tengah Keterbatasan

"Kami hanya bisa bertahan dan berharap bantuan segera tiba," ujar seorang pengungsi di Marapokot menggambarkan suasana yang dialami warga di lokasi pengungsian.

Para pengungsi berharap distribusi bantuan dapat segera dipercepat agar kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Pemerintah daerah bersama lembaga kemanusiaan diharapkan memprioritaskan penyaluran air bersih, makanan, dan layanan kesehatan ke lokasi-lokasi pengungsian. Sementara itu, warga terus saling menguatkan dan bergotong royong menjaga lingkungan pengungsian tetap layak huni. Koordinasi antarpihak menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran dan tepat waktu.

Kondisi di Marapokot menjadi cermin perjuangan para pengungsi gempa di berbagai titik lain di NTT. Selama bantuan belum sepenuhnya tiba, warga akan terus bertahan dengan sumber daya yang ada, menjaga kebersihan lingkungan, dan berharap proses pemulihan dapat segera berjalan. Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan pascagempa membutuhkan respons yang cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta lembaga kemanusiaan.

[SOCIAL_TWEET]: Pengungsi gempa NTT di Marapokot bertahan di tenda darurat sambil menanti bantuan. Air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak. #GempaNTT #Nagekeo #BantuanKemanusiaan[SOCIAL_TG]: 🔴 PENGUNGSI GEMPA NTT BERTAHAN DI TENDA DARURAT — Warga Marapokot, Nagekeo masih menanti bantuan. Air bersih dan makanan menjadi kebutuhan utama. Baca selengkapnya di Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User